Potret perjuangan dari jalan yang berbeda

Oleh Hanni Sofia

Potret perjuangan dari jalan yang berbeda

Ade Ferdijana, pemilik sebuah hotel di Bogor, menemukan cara berjuang melalui jalur yang berbeda. Ia bersama komunitasnya mendukung perjuangan aparat kepolisian dengan bekal logistik makanan dan minuman. ANTARA/Hanni Sofia

Jakarta (ANTARA) - Ketika sebagian orang turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya dengan berdemonstrasi, nyatanya ada sekelompok orang yang justru berjuang dengan cara lain.

Ade Ferdijana, pemilik sebuah hotel di Bogor, Jawa Barat, menemukan cara berjuang melalui jalur yang berbeda.

Ia bersama komunitasnya memang tak berbeda dengan para demonstran yang turun ke jalan.

Hanya dia tidak terlibat dalam aksi-aksi penyampaian aspirasi, tetapi membagikan logistik berupa makanan dan minuman secara sukarela kepada aparat keamanan yang bertugas mengamankan demonstrasi.

Di mana pun aksi berlangsung umumnya, Ade bersama komunitasnya pun seketika mengambil inisiatif untuk turut serta turun ke jalan membagikan logistik.

Baca juga: Demo belum tentu selesaikan masalah, malah timbulkan persoalan baru

Langkah itu dilakukan Ade dan rekan-rekannya tidak lain lantaran keprihatinannya manakala perhatian kepada aparat keamanan justru tak sebagaimana yang diharapkan.

Menurut Ade, aparat yang terjun langsung mengamankan aksi kerap berbenturan atau bahkan dibenturkan dengan massa demonstran sehingga ricuh lebih sering tak terhindarkan.

Mereka juga sering dianggap hanya sebagai objek sekumpulan aparat tanpa dilihat sebagai pribadi-pribadi yang juga memiliki batas-batas rasa kemanusiaan.

Ade ingin memberikan teladan memanusiakan aparat sekaligus mencontohkan bahwa hidup berdampingan itu lebih baik dari segala-galanya.

Baca juga: Tidak ada izin demo di Jakarta hingga pelantikan presiden selesai

Garda Depan
Sejatinya apa yang dilakukan Ade Ferdijana dan rekan-rekannya bukan monopoli mereka sendiri. Jappy M. Pellokila, pengajar ilmu komunikasi sekaligus sukarelawan politik itu pun melakukan hal serupa.

Secara pribadi, Jappy memandang aparat khususnya mereka yang tergabung dalam Brigade Mobil (Brimob) Polri merupakan sosok-sosok yang benar-benar berada di garda depan dalam menjaga ketertiban dan keamanan publik.

Ia menganggap publik, khususnya di Jakarta, menyambut baik kehadiran pasukan Brimob tersebut. Apalagi, anggota Brimob yang bertugas menjaga keamanan di Jakarta. Mereka harus sekian lama meninggalkan keluarga demi tugas karena bisa jadi berasal dari daerah yang dimobilisasi ke Ibu Kota.

Melihat kenyataan tersebut, sejak Mei 2019, berbagai elemen masyarakat Jakarta, termasuk Jappy, menggerakkan komunitas yang dirintisnya, yakni Indonesia Hari Ini atau IHI, melakukan kegiatan bersama pasukan Brimob.


Baca juga: Polda imbau tidak ada demonstrasi di Jabar saat pelantikan Presiden

Tidak cuma sekali, tetapi berkali-kali, termasuk menggelar buka puasa bersama dan berbagi makanan/minuman untuk mempercepat dalam berbuka puasa (takjil) di sekitar Gedung Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia saat terjadi demonstrasi.

Kegiatan itu berlanjut ketika Jakarta berkali-kali dibanjiri massa yang melakukan demonstrasi sepanjang September hingga Oktober 2019.

Jappy mengaku langkah yang dilakukan itu mendapatkan dukungan dari banyak kalangan.

Ia mengumpulkan pasokan logistik berupa makanan dan minuman secara sukarela dan swadaya dari rekan-rekan dan donaturnya.

Maka, saat demonstrasi berlangsung, tidak heran bila kerap kali mereka meluangkan waktu untuk turun ke jalan merepotkan diri dengan berkardus bungkusan makanan untuk pasukan Brimob.


Baca juga: Kompolnas dinilai pasif meski penanganan demo timbulkan korban lagi


Sisi Manusia

Kisah tentang aparat kepolisian kerap kali luput dari perhatian selain bahwa mereka adalah petugas berseragam.

Masyarakat sering kali lupa tentang siapa yang berada di balik seragam itu bahwa mereka adalah seseorang yang memiliki sisi kemanusiaan yang sama.

Sebagai sosok petugas kepolisian, mereka sudah disumpah untuk mengabdi menjaga ketertiban dan keamanan hingga meletakkan seluruh kepentingan pribadi dan keluarganya untuk memprioritaskan kepentingan bangsa.

Baca juga: 5.500 personel gabungan disiagakan antisipasi unjuk rasa hari Ini

Mereka setiap saat bisa dimobilisasi ke mana pun ketika bangsa ini membutuhkan. Berpisah begitu jauh dan lama dengan orang-orang yang mereka sayangi.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal pernah menggelar Police Movie Festival sebagai upaya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang ingin menciptakan gambaran humanis bahwa polisi di mana pun berada bisa menjadi sahabat bagi masyarakat.

Ia mengaku sering prihatin betapa citra aparat kepolisian belum sebagaimana diharapkan sehingga perlu kerja keras untuk menampilkan sisi humanis polisi yang sesungguhnya.

Ke depan edukasi untuk menyampaikan aspirasi secara baik tanpa anarki barangkali menjadi bentuk memanusiakan aparat keamanan dengan cara yang sesungguhnya.

Baca juga: Polisi kerahkan 315 personel sebagai langkah antisipasi demonstrasi

Oleh Hanni Sofia
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satu polisi jadi tersangka tewasnya mahasiswa Kendari

Komentar