Mendikbud pantau kegiatan belajar mengajar pascarusuh Wamena

Mendikbud pantau kegiatan belajar mengajar pascarusuh Wamena

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (tengah) mengunjungi sekolah di Jayawijaya, Rabu (16/10/2019). (ANTARA/Marius Frisson Yewun)

Yang mengalami kerusakan parah akan kita tangani dari pusat. Misalkan ada kantor yang terbakar. Kalau kerusakan ringan saya kira bisa ditangani oleh Pemkab Jayawijaya
Wamena (ANTARA) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada Rabu (16/10), memantau kegiatan belajar mengajar di sekolah setelah terjadi kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.

Berdasarkan pantauan itu, Menteri Muhadjir menilai kegiatan belajar mengajar di daerah itu belum normal karena dari 300 siswa TK di Jayawijaya, baru 28 yang masuk sekolah lagi.

"Di SMP Negeri 1 Wamena ada 1.090 siswa dan yang masuk baru sekitar 300, sehingga masih perlu kerja keras untuk menarik siswa-siswa untuk masuk sekolah seperti biasa," katanya.

Dengan jaminan keamanan dari aparat keamanan,  ia mengatakan Jayawijaya sudah kondusif untuk aktivitas belajar mengajar.

"Guru-guru saya lihat sudah siap untuk mulai kegiatan mengajarnya, walaupun belum semuanya datang," katanya.

Baca juga: Mendikbud bantu perangkat elektronik untuk sekolah di Jayawijaya

Muhadjir Effendy mengatakan perlu adanya kerja sama dengan kepolisian untuk membantu menanamkan jiwa nasionalisme, bela negara, serta kesanggupan mempertahankan diri dari ancaman bagi pelajar.

"Agar jangan sampai anak-anak dipengaruhi untuk melakukan tindakan anarkis," katanya.

Ia berjanji membantu perbaikan beberapa sekolah yang rusak parah akibat kerusuhan pada 23 September lalu itu.

"Yang mengalami kerusakan parah akan kita tangani dari pusat. Misalkan ada kantor yang terbakar. Kalau kerusakan ringan saya kira bisa ditangani oleh Pemkab Jayawijaya," katanya.

Baca juga: Mendikbud:Belum bisa terapkan digitalisasi sekolah di Nduga
Baca juga: Mendikbud gunakan baju adat Papua saat Pawai Digdaya

Pewarta: Marius Frisson Yewun
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar