Tim Ekspedisi Papua Terang rekomendasikan penggunaan Piko Hidro

Tim Ekspedisi Papua Terang rekomendasikan penggunaan Piko Hidro

Tim Ekspedisi Papua Terang diterima masyarakat setempat (ANTARA/HO/Tim Ekspedisi Papua Terang)

manfaat dari survei Ekspedisi Papua Terang, memetakan sumber pembangkit yang cocok untuk setiap desa di Papua
Jakarta (ANTARA) - Tim Ekspedisi Papua Terang terdiri atas lima perguruan tinggi merekomendasikan penggunaan pembangkit listrik skala kecil Piko Hidro untuk beberapa daerah di Provinsi Papua dan Papua Barat.

"Berdasarkan pemetaan kami wilayah Kwedamban memang cocok untuk menggunakan Piko Hidro," kata Simson Donyadone, mahasiswa program D3 Teknik Elektro Universitas Cendrawasih di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan Kampung Kwaedamban, Distrik Bormeo, Kabupaten Pegunungan Bintang memiliki prasyarat yang tepat untuk dialiri listrik dengan pembangkit Piko Hidro, di antaranya potensi aliran air bagus, kondisi keamanan kondusif, dan seluruh masyarakat mendukung serta membantu program pembangunannya.

Piko Hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas sangat kecil, yakni 1-100 KWH. Jauh di bawah cara kerjanya, air yang telah dibendung dialirkan ke bak penampung yang berisi turbin sehingga aliran air akan memutar turbin tersebut. Selanjutnya, turbin akan memutar generator yang pada akhirnya menghasilkan listrik.

Piko Hidro hanya butuh ketinggian air 1-3 meter dan debit 30 liter per detik.

"Jadi cocok digunakan di daerah terpencil,” kata Simson.

Baca juga: Ekspedisi Papua Terang, warga desa Kwaedamban kini bisa nikmati listrik

Selain itu, biaya investasi tergolong murah, sekitar Rp 30 juta per unit, dengan biaya pemeliharaan yang minimum dan tidak memerlukan biaya bahan bakar.

“Piko Hidro ini pun mudah dirakit dan dioperasikan serta bisa beroperasi selama 24 jam sesuai dengan debit air. Teknologi ini membuatnya cocok untuk diterapkan di daerah terpencil yang memiliki debit air yang sesuai,” kata dia.

Berkat PLTPH berdaya 1 KWH yang memanfaatkan aliran air Sungai Wapra itu, maka 37 rumah di Kwaedamban kini bisa menikmati terang saat waktu malam.

“Itulah manfaat dari survei Ekspedisi Papua Terang, memetakan sumber pembangkit yang cocok untuk setiap desa di Papua. Dengan demikian, pembangkit yang dibangun bisa sesuai dengan karakteristik alam setempat sehingga diharapkan dapat bertahan dalam jangka panjang,” kata Simson.

Ekspedisi Papua Terang terdiri atas kelompok mahasiswa pencinta alam (mapala) dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Cendrawasih, Lapan, dan TNI AD.

"Tim ini dari target survei 415 desa, berhasil memetakan sistem kelistrikan yang akan dibangun di 841 desa di Papua dan Papua Barat," ujar dia.

Tim EPT berhasil memetakan 39 desa direncanakan menggunakan teknologi tabung listrik (talis), 41 desa menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan Piko Hidro (PLTPH),179 desa rencananya disambungkan ke sistem jaringan listrik (grid) PLN yang telah ada, 286 desa akan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Biomassa (PLTBm), serta selebihnya 297 desa akan diterangi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Biomassa (PLTBm).

Kendala dari tim EBT, kata dia, saat melakukan pemetaaan selalu berhadapan dengan kondisi medan yang berat serta masih ada beberapa wilayah yang mengalami gangguan keamanan.

Baca juga: Mahasiswa EPT 2018 ingatkan medan berat untuk melistriki Mimika
Baca juga: Tim Ekspedisi Papua Terang survei 722 desa
Baca juga: Percepat wujudkan Papua terang, PLN gandeng sejumlah lembaga

 

Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anies inginkan pembangkit listrik mandiri untuk MRT

Komentar