Akademisi ingatkan pentingnya standarisasi bangunan tahan gempa

Akademisi ingatkan pentingnya standarisasi bangunan tahan gempa

Sejumlah anggota tim terpadu percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa Lombok mengecek kayu saat dilakukan sidak di sejumlah perusahaan yang mengajukan diri menjadi pemasok kayu rumah tahan gempa di Mataram, NTB, Selasa (12/3/2019). Sidak yang dilakukan oleh tim terpadu yang terdiri dari anggota TNI, Polisi, Kementerian PUPR, BPBD NTB dan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup NTB tersebut bertujuan untuk memastikan legalitas, kualitas kuat dan awet kayu yang sesuai dengan standar dan ketentuan pembangunan struktur rumah instan kayu bagi korban gempa Lombok. ANTARA/Ahmad Subaidi/foc.

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr. Indra Permanajati mengingatkan mengenai pentingnya standarisasi bangunan tahan gempa guna mengurangi dampak risiko bencana.

"Mitigasi yang paling utama dalam menangani gempa Bumi adalah standarisasi bangunan tahan gempa dan teknik penyelamatan diri dari gempa," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.

Koordinator Bidang Bencana Geologi Pusat Mitigasi Unsoed tersebut mengatakan, dua hal tersebut harus menjadi fokus utama dan terus disosialisasikan kepada masyarakat sebagai upaya antisipasi bencana gempa Bumi.

Baca juga: Bangunan pondok wisata dibuat berarsitektur lokal karena tahan gempa

"Kegiatan bisa diawali dari identifikasi potensi bencana gempa Bumi, kemudian prediksi kekuatan gempa yang bisa terjadi, selanjutnya standarisasi bangunan tahan gempa," katanya.

Standarisasi bangunan tahan gempa, kata dia, harus segera dilaksanakan dengan terlebih dulu merancang bangunan tahan gempa kemudian diterapkan kepada masyarakat luas.

"Beberapa langkah yang harus dilaksanakan pemerintah adalah membuat lembaga yang selalu melakukan pengecekan terhadap bangunan yang akan didirikan dengan menerapkan standar tahan gempa," katanya.

Bangunan tahan gempa, kata dia, bisa disesuaikan dengan prediksi atau kemungkinan kekuatan gempa yang bisa mengenai daerah tersebut.

"Yang menjadi masalah adalah kondisi sekarang di mana standar rumah atau bangunan tahan gempa mungkin belum diterapkan seluruhnya untuk semua pemukiman di daerah potensi gempa," katanya.

Ia mengatakan, dalam kondisi demikian mitigasi gempa yang harus dilakukan adalah membuat standar rumah atau bangunan tahan gempa dan harus segera diterapkan untuk perumahan yang baru dibangun atau yang sudah dibangun dengan memperkuat struktur bangunan tahan gempa.

"Diharapkan strategi ini akan mengurangi resiko gempa Bumi terhadap bangunan dan keselamatan masyarakat di lokasi tersebut," katanya.

Sebelumnya dia mengatakan mengenai pentingnya riset tentang rumah tahan gempa guna mendukung upaya mitigasi bencana.

"Rumah tahan gempa sepertinya sudah harus menjadi kajian di semua institusi penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia, mengingat pentingnya penelitian ini sehingga jumlahnya harus diperbanyak," katanya.

Ia mengatakan, penelitian tentang rumah tahan gempa diharapkan akan menjadi standar untuk diterapkan di seluruh Indonesia terkait dengan kondisi bangunan yang ada.

"Bangunan yang meliputi perumahan, gedung perkantoran dan jenis-jenis gedung lainnya sudah semestinya menerapkan standar rumah tahan gempa," katanya.

Baca juga: Mahasiswa UGM ciptakan pondasi tahan gempa dari "shockbreaker" motor

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BMKG perkuat bandara hadapi gempa & tsunami

Komentar