Puskesmas diharapkan manfaatkan aplikasi Decardia buatan mahasiswa UGM

Puskesmas diharapkan manfaatkan aplikasi Decardia buatan mahasiswa UGM

Tampilan aplikasi Decardia di HP Androit. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)

dengan aplikasi Decardia dokter dapat mengukur risiko pasien diabetes dengan tingkat akurasi hingga 99 persen
Yogyakarta (ANTARA) - Aplikasi Decardia yang dirancang oleh tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) diharapkan dimanfaatkan oleh para dokter maupun perawat di puskesmas untuk memantau besaran risiko munculnya penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes.

"Saya berharap aplikasi ini bisa dimanfaatkan di puskesmas-puskesmas," kata Ketua Tim Pengembangan Aplikasi Decardia, Andri Cipta di Yogyakarta, Kamis.

Aplikasi Decardia dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta oleh tiga mahasiswa UGM yakni Andri Cipta mahasiswa Ilmu Keperawatan FKKMK UGM dengan Nadhifah Azzahrah Yumna (FKKMK) dan Muhammad Nabhan Naufal Fakultaa Teknik (FT) UGM.

Menurut Andri, aplikasi yang dikembangkan di bawah dosen pembimbing Anggi Lukman Wicaksana, tepat dimanfaatkan di puskesmas khususnya untuk mendukung Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).

Baca juga: Mahasiswa UGM ciptakan alat pengubah plastik jadi bahan bakar

Dalam program itu para pasien penderita diabetes biasanya melakukan kontrol dan mengecek seberapa besar risiko penyakit kardiovaskular yang dimiliki.

Biasanya dokter atau perawat melakukan pendataan tingkat risiko kardiovaskular seperti serangan jantung atau stroke pada pasien diabetes secara manual. Cara itu memungkinkan terjadinya "human error" saat memasukkan data.

"Dengan aplikasi Decardia yang kami kembangkan perawat atau dokter dapat mengukur risiko pasien diabetes dengan tingkat akurasi tinggi hingga 99 persen," kata dia.
Tiga mahasiswa perancang aplikasi Decardia berfoto bersama dosen pembimbing. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)


Andri mengatakan aplikasi Decardia dilengkapi dengan fitur, seperti panduan penggunaan, perhitungan risiko, serta edukasi. Sementara cara kerjanya cukup sederhana, pengguna hanya cukup memasukkan beberapa aspek data penilaian berupa jenis kelamin, usia, kadar kolesterol, tekanan darah, status merokok atau tidak. Selanjutnya, data akan diolah oleh sistem sehingga muncul besaran risiko kardiovaskular.

Aplikasi itu, kata dia, memang dikembangkan untuk merespons tingginya kematian akibat penyakit jantung atau stroke di Indonesia. Penderia diabetes yang memiliki risiko penyakit itu diharapkan dapat melakukan deteksi secara dini.

"Dengan deteksi dini ini bisa menjadi sarana antisipasi dan penanganan agar risiko tersebut dapat diturunkan dan dikendalikan," kata dia.

Saat ini, menurut Andri, aplikasi itu dapat dimanfaatkan para pengguna Android dengan mengunduh secara gratis di playstore ataupun appstore.

"Ke depan aplikasi masih akan kembangkan untuk penghitungan risiko kardiovaskular bagi pasien non-diabetes dengan menambah fitur yang ada," kata dia.

Baca juga: Mahasiswa KKN UGM bangun kedai di wisata Samberpasi Biak

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sikap BEM KM UGM atas undangan Presiden Jokowi

Komentar