Gempa susulan, Museum Siwalima tunda sejumlah agenda libatkan pelajar

Gempa susulan, Museum Siwalima tunda sejumlah agenda libatkan pelajar

Relief proses ritual adat kakehang masyarakat Alifuru di Museum Siwalima retak akibat guncangan gempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019. (ANTARA/Shariva Alaidrus)

dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah datang untuk memeriksanya
Ambon (ANTARA) - Pengelola Museum Siwalima Provinsi Maluku menunda sejumlah agenda rutin yang melibatkan pelajar sehubungan dengan masih adanya gempa-gempa susulan mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya.

Kepala Museum Siwalima Jean Esther Saiya di Ambon, Kamis, mengatakan pihaknya telah menunda beberapa kegiatan rutin melibatkan pelajar hingga waktu yang tidak dipastikan karena masih ada gempa-gempa susulan di daerah itu.

Penundaan tersebut dilakukan untuk menjaga berbagai kemungkinan yang terjadi saat kegiatan berlangsung, baik dari pelajar maupun pegawai museum.

"Kami terpaksa harus menundanya karena mengingat situasi belum benar-benar stabil, masih ada gempa-gempa susulan yang terasa. Ada juga kegiatan tetap yang seharusnya dilaksanakan pada Oktober ini juga sudah kami batalkan," ucap dia.

Dia menyebut sejumlah agenda perlombaan yang melibatkan pelajar, baik SD, SMP, maupun SMA dan sederajat  telah dijadwalkan pada Oktober 2019 hingga beberapa bulan ke depan, akan tetapi ditunda pelaksanaannya.

Baca juga: LIPI akan tinjau lokasi semburan air panas dampak gempa di Desa Oma

Salah satu agenda yang dijadwalkan pada Oktober ini, tetapi ditunda, adalah lomba menulis dan mengkaji tenun Maluku untuk pelajar SMA dan SMK di Kota Ambon.

Ia menjelaskan sebenarnya lomba itu untuk meningkatkan pengetahuan para pelajar terhadap budaya dan seni menenun di Maluku.

Kegiatan lain yang dibatalkan pelaksanaanya adalah Museum Night pada 11 Oktober 2019, berupa perkemahan untuk memperingati Hari Museum Nasional pada 12 Oktober. Gempa susulan masih terjadi, setelah guncangan gempa susulan bermagnitudo 5,2 pada 10 Oktober 2019.

"Kami membatalkan kegiatan Museum Night karena ada gempa susulan sehari sebelumnya. Para orang tua murid juga pasti tidak akan mengizinkan anak-anaknya untuk ikut serta dalam perkemahan karena situasi belum stabil," ujarnya.

Baca juga: Layanan kesehatan pengungsi gempa Ambon di RSUD diupayakan gratis

Pascagempa magnitudo 6,5 yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada 26 September 2019, dinding gedung pameran tetap satu, gedung pameran kelautan dan relief yang menggambarkan proses ritual adat kakehang masyarakat Alifuru di Museum Siwalima retak.

Gempa susulan magnitudo 5,2 pada 10 Oktober 2019 juga meruntuhkan sebagian plafon gedung pameran tetap satu.

Kendati sudah kembali membuka pameran untuk umum pada 30 September 2019, jadwal kunjungan diperpendek dari biasanya pukul 08.00-16.00 WIT menjadi pukul 08.00-14.30 WIT.

"Semula kami mengira yang retak cuma gedung pameran tetap satu dan relief, ternyata bagian dalam gedung pameran kelautan juga retak, dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah datang untuk memeriksanya," kata Jean.

Baca juga: Komplotan pencuri di pesantren dan tenda pengungsi diciduk
Baca juga: Pemkot Ambon verifikasi bangunan kantor yang rusak

Pewarta: Shariva Alaidrus
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Di Maluku Presiden Ingatkan Indonesia rawan bencana

Komentar