Histori rock Indonesia, kiprah sang "Dewa Rock"

Oleh Alviansyah Pasaribu

Mantan vokalis band Boomerang Roy Jeconiah memperlihatkan buku "Lombok-Palu-Dongala Rev!val" saat beraksi menghibur pengunjung saat peluncuran di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, Jumat (2/11/2018). (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)


Era Emas Log

Tahun 2000 adalah era emas Log bersama Boomerang juga Jamrud sejalan lahirnya dua album fenomenal "Xtravaganza" dan "Ningrat". Cara Log yang "tidak pelit" untuk mempromosikan anak asuhnya membuat kedua band itu meraih kesuksesan sepanjang karir mereka.

Untuk Roy Jeconiah cs, Log memberikan lima video klip untuk melengkapi album itu antara lain "Pelangi", "Gadis Extravaganza", "Bungaku", "MilikMu" dan "Tragedi".

Baca juga: Histori rock Indonesia, rivalitas musik dan Aktuil sebagai barometer

Sedangkan untuk Aziz MS dan kolega, diberikan enam video komersial antara lain "Ningrat", "Kabari Aku", "Asal British", "Surti-Tejo", "Pelangi di Matamu", "Jauh (Andaikan...)".

Komposisi kreativitas band, kekompakan, manajemen yang baik dan dukungan komersial dari label rekaman merupakan ramuan jitu Log untuk membuat rock tidak sekadar bersinar, melainkan memimpin industri rekaman mainstream kala itu.

Tidak puas, Log kemudian melanjutkan momentum kesuksesan Jamrud dengan mengantar mereka untuk pentas di berbagai negara. Album Sydney 090102 (2002) yang terjual 1.000.000 kaset/CD juga direkam di Australia.
 
Mantan vokalis Boomerang Roy Jeconiah (kiri) dan John Paul Ivan (kanan) beraksi dalam festival rock bertajuk " Djarum Super Rockfest 2012 "di Lapangan D, Senayan, Jakarta, Sabtu, (10/11). (ANTARAFOTO/Teresia May)


Roda berputar, Log kemudian mengalami momen surut saat Boomerang hengkang.

Status Boomerang sebagai salah satu "anak emas" Log lepas pada 2003. Mereka pindah ke bawah bendera Sony Music Indonesia kemudian merilis "Terapi Visi".

Namun sentuhan Boomerang di rumah barunya berbeda dengan kiprah mereka saat di pangkuan Log. Boomerang seolah masih berada di bawah bayang-bayang kesuksesan sebelumnya, sehingga lupa mengeksplorasi musik mereka yang "datar-datar" saja, hingga gitaris John Paul Ivan hengkang pada 2005 diikuti vokalis Roy Jeconiah.

Jamrud yang dalam periode menurun setelah album All Access In Love (2006), juga harus melepas Krisyanto, meski pria yang identik dengan kacamata hitam itu "pulang" pada 2011.

Baca juga: Histori rock Indonesia, Orde Baru buka keran budaya barat

Oleh Alviansyah Pasaribu
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar