Histori rock Indonesia, kiprah sang "Dewa Rock"

Oleh Alviansyah Pasaribu

Grup band Jamrud beraksi membawakan sejumlah lagu hit-nya saat tampil pada hari pertama Synchronize Fest 2019 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat (4/10/2019). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)


Log pun kembali sibuk mengurus Jamrud untuk album Bumi & Langit Menangis (2011), Energi+ dari Bumi dan Langit (2012), Saatnya Menang (2013), Akustikan (2015), dan 20 Years Greatest Hits (2016), meski semuanya tidak pernah mengulang kesuksesan album Ningrat.

Pada sela-sela masa surut, Log tidak berhenti berkarya. Predikat "Dewa Rock" layak disematkan karena dia tetap menjalankan bisnisnya dalam ekosistem musik cadas.

Sejak terlibat pada delapan edisi Djarum Super Rock Festival hingga 2004, dia kembali menukangi festival rock bersama Gudang Garam Rock Competition pada 2007 untuk melahirkan beberapa band rock baru.

Untuk menunjang publikasi, Log pernah merilis tabloid Rock. Meski tidak sukses seperti industri rekaman, setidaknya Log mencoba totalitas dan menunjukkan cintanya pada rock.

Sebagai promotor, ia juga pernah mendatangkan Sepultura (1992), Mr BIG (1996), White Lion (2003), Helloween (2004), Skid Row (2008), dan DragonForce (2015).

Momen romantis Log Zhelebour bersama Jamrud selama 22 tahun akhirnya berakhir pada Maret 2017. Jamrud telah memiliki tim manajemen sendiri, sedangkan Log tetap menjalankan bisnis promotornya.

Lantas ke mana alat rekaman, sound system, dan tim manajemen Log saat ini? Apakah masih disimpan untuk lahirnya band rock baru?

Baca juga: Histori rock Indonesia, fenomena musik dari pemancar gelap
 

Oleh Alviansyah Pasaribu
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar