Tangis Wali Kota Malang "meledak" temui korban tamparan motivator

Tangis Wali Kota Malang "meledak" temui korban tamparan motivator

Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) didampingi Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander dan Dandim 0833 Kota Malang berdialog dengan siswa korban tamparan motivator, Agus Setiawan, di SMK Muhammadiyah 2 Malang, Jumat (18/10) (Endang Sukarelawati)

Saya membayangkan kalau mereka ini anak saya,
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Tangis Wali Kota Malang, Sutiaji seketika "meledak" begitu bertemu dengan sepuluh siswa SMK Muhammadiyah Malang yang menjadi korban tamparan salah seorang motivator, Agus Setiawan dalam sebuah acara yang diselenggarakan di SMK tersebut, Kamis (17/10).

Wali Kota yang didampingi Kapolres Malang Kota dan Dandim 0833 Kota Malang itu tak mampu menahan isak tangisnya, bahkan berhenti sesaat ketika berdialog dengan para siswa yang menjadi korban tamparan motivator, orang tua/wali siswa, guru-guru SMK Muhammadiyah 2 Malang, serta jajaran pengurus yayasan, Jumat.

"Saya membayangkan kalau mereka ini anak saya. Anak saya ada yang seusia para korban ini. Mereka ini adalah calon pemimpin di masa depan," ucapnya.

Ia menyesalkan kejadian kekerasan ini sampai terjadi di Kota Malang. Apalagi, Kota Malang adalah kota pendidikan. "Saya dan Kota Malang tertampar dengan peristiwa kekerasan di lingkungan sekolah ini," jelasnya.

Sutiaji mengaku tertampar dengan kejadian ini karena tidak sesuai dengan visi misinya yang menjadi Malang kota bermartabat. "Saya pernah dipendidikan. Saya tahu, dan saya tidak suka ada orang yang memperlakukan siswa seperti itu," ujarnya.

Baca juga: Wali Kota Malang ajak para mahasiswa rajut kebhinekaan

Pada pekan depan, politikus Partai Demokrat itu akan mengumpulkan seluruh kepala sekolah di Kota Malang guna mengedukasi para kepala sekolah dalam mendidik para siswa, bahkan memberikan cara (tips) dalam memilih motivator dalam setiap kegiatan program pendidikan.

"Nanti para sekolah kalau mau mengundang motivator harus tau dulu track recordnya. Beneran motivator atau tidak. Itu harus sepengatahuan kami dan harus diinformasikan ke kami. Ini yang menjadi PR," ujarnya.

Sutiaji mengecam motivator pelaku penamparan terhadap siswa, karena tidak berperilaku sebagaimana yang dilakukan oleh para motivator pada umumnya.

Menurut Sutiaji, seorang motivator seharusnya dapat memberikan pesan-pesan moral yang baik, bukan sebaliknya bertindak seenaknya dengan melakukan kekerasan. Apalagi, kekerasan itu dilakukan di lembaga pendidikan.

"Ini menjadi kontradiktif. Karena motivator harus memotivasi. Ada nilai kesabaran dan moral yang disampaikan, tetapi ini malah membunuh embrio kebaikan dari siswa," lanjutnya.

Baca juga: Bupati Puncak-Wali Kota Malang sampaikan pesan damai dari Padang

Terkait dengan kasus ini, Sutiaji menyerahkan semuanya kepada kepolisian. Polisi juga telah menangkap pelaku di Surabaya saat akan bepergian ke Makassar.

"Di visi misi kami sudah jelas, bahwa akses pendidikan dan kesehatan akan kami tingkatkan untuk Kota Malang. Setelah tadi Kapolres menyebutkan bahwa pelaku telah tertangkap, kami serahkan sepenuhnya kepada polisi," katanya.

Kasus tamparan motivator tersebut bermula dari acara Proklim dengan mendatangkan motivator Agus Setiawan ke sekolah. Pada saat sang motivator meminta operator untuk menuliskan kata "Goblok", sang operator menuliskannya tetapi bukan goblok, melainkan goblog.

Karena ada kesalahan penulisan, sebagian besar siswa tertawa dan Agus menanyakan siapa yang tertawa, karena tidak ada yang mengaku, siswa yang duduk di barisan depan dan kedua diminta maju.

Namun, tanpa disangka sang motivator menampar siswa yang disuruh maju. Ada 10 siswa yang menjadi korban tamparan Agus.

Kejadian penamparan siswa oleh motivator itu viral dan langsung ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Baca juga: Pemerintah Kota Malang jamin keamanan mahasiswa asal Papua

 

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemkot Malang soroti praktek ilegal penjualan miras

Komentar