Dekranasda Kota Kediri gelar "Dhoho Street Fashion 2019" Desember

Dekranasda Kota Kediri gelar "Dhoho Street Fashion 2019" Desember

Sejumlah model saat sesi foto dengan mengenakan baju dari bahan tenun ikat, kain khas dari Kota Kediri di Goa Selomangleng Kediri, Jawa Timur. (Antara Jatim/ HO)

Keterlibatan Didiet Maulana untuk menjamin langkah pengembangan produk tenun ikat Kota Kediri terjamin kesinambungannya dari tahun-tahun sebelumnya
Kediri (ANTARA) - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri, Jawa Timur, akan menggelar Dhoho Street Fashion 2019 Pride of Jayabaya pada 5 Desember 2019 di Hutan Kota Joyoboyo, Kota Kediri.

Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar mengemukakan dalam kegiatan itu, dua desainer nasional akan bergabung menjadi penampil utama yakni Didiet Maulana dan Priyo Oktaviano.

"Keterlibatan Didiet Maulana untuk menjamin langkah pengembangan produk tenun ikat Kota Kediri terjamin kesinambungannya dari tahun-tahun sebelumnya, sementara Priyo Oktaviano sudah berpengalaman mengolah bahan tenun dalam karya fesyennya," kata Bunda Fey, sapaan akrabnya di Kediri, Sabtu.

Baca juga: Pemerintah dorong industri fesyen untuk tingkatkan perekonomian

Didiet Maulana sudah terlibat untuk ketiga kalinya sejak pagelaran Dhoho Street Fashion di Kediri berlangsung pada 2017, sedangkan Priyo Oktaviano yang asli putra daerah Kota Kediri baru bergabung pada tahun 2019 ini.

"Khusus untuk Priyo, dia putera daerah yang punya reputasi internasional sebagai desainer, sudah saatnya pulang kampung untuk membantu mengembangkan produk tenun ikat Kota Kediri," ungkap Bunda Fey.

Priyo Oktaviano diketahui telah terlibat dalam perkumpulan Cinta Tenun Indonesia yang berdiri sejak 2008.

Beragam prestasi telah diraihnya, termasuk menjadi desainer terbaik pada Harbin Fashion Week 2019 di China dengan karyanya yang berbahan baku Tenun Sambas dari Kalimatan Barat dan Kain Lurik dari Klaten, Jawa Tengah.

Dhoho Street Fashion 2019 ini akan mengambil tema Pride of Jayabaya, di mana ini juga kelanjutan dari tema tahun sebelumnya yakni Legacy of Panji Sekartaji.

Tema "Pride of Jayabaya" adalah upaya kembali mengenang spirit masa keemasan Kerajaan Kadiri pada kurun waktu 1135 – 1157 Masehi, saat Maharaja Jayabaya memerintah.

Baca juga: Fesyen Retno Marsudi tidak terpisahkan dari aksesori

Di masa ini slogan yang terkenal Panjalu Jayati atau Kediri Menang ditorehkan pada Prasasti Hantang, sebuah tetenger atau pertanda kembalinya Jenggala menjadi bagian dari Kerajaan Kediri.

Namun, lebih dari itu yang paling terkenal dari peninggalan Prabu Jayabaya adalah ramalannya yakni Jangka Jayabaya.

Ramalan tersebut begitu terkenal, menjadi panduan atau harapan masyarakat, bahkan tidak ada tanda-tanda luntur meskipun dunia sudah memasuki era 4.0.

Dalam ramalannya, Jayabaya menggambarkan Nusantara (Indonesia) akan mengalami masa di mana gunung-gunung akan meletus, bencana banyak melanda, banyak orang jahat berkuasa, dan orang-orang baik justru tertindas.

Baca juga: Kementerian Ketenagakerjaan optimalkan BBPLK tingkatkan sdm fesyen

Harapan masa keemasan akan hadir dengan munculnya sosok Ratu Adil atau Satria Piningit. Ketika itu kembali datang, masa kejayaan kembali Indonesia menjadi negara bermartabat, gemah ripah loh jinawi, adil dan makmur.

Bunda Fey berharap dalam pagelaran nantinya akan ditampilkan beragam model yang menarik, yang menggambarkan tema Pride of Jayabaya tersebut.

"Tugas desainer untuk menafsirkan tema Pride of Jayabaya ini dalam baju rancangan mereka, tentunya kami berharap bisa diterjemahkan menjadi karya yang ready to wear, yang siap dipasarkan dan masih tetap relevan dengan trend fashion terkini," kata dia.

Untuk lokasi, Bunda Fey mengatakan sengaja ditempatkan di Hutan Kota Joyoboyo Kota Kediri. Nantinya, lokasi itu akan dibuat semenarik mungkin, sehingga peragaan busana berlangsung lancar dan pengunjung juga merasa terinpirasi dari hasil karya tersebut.

Hutan Kota Joyoboyo Kediri menjadi lokasi pagelaran. Jika sebelumnya kondisi hutan kota masih belum dikelola baik, kini Pemkot Kediri menyulapnya menjadi ruang publik dengan menggandeng arsitek Yusing.

Hasilnya kini lebih menarik. Kesannya angker dan terkenal banyak ularnya, kini sekarang menjadi salah satu tempat nongkrong favorit di Kota Kediri.

"Masih ada waktu untuk merespon tema Pride of Jayabaya untuk kami tampilkan dalam Dhoho Street Fashion 2019, apalagi nanti juga akan berlokasi di Hutan Kota Joyoboyo, yang secara visual lanskapnya pasti akan menarik sebagai latar belakang pagelaran busana," ujar dia.

Selain menampilkan dua desainer kenamaan nasional, Dhoho Street Fashion 2019 juga akan mengakomodasi talen lokal agar muncul bakat-bakat desainer daerah. Selain itu juga akan ada show case karya yang akan siap dibeli oleh para undangan dan publik yang menyaksikan gelaran tahunan ini.

Kegiatan Dhoho Street Fashion adalah inisiasi Dekranasda Kota Kediri untuk memajukan sentra tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Salah satu pengrajin tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul, UD Medali Mas milik Ruqoyah telah mendapatkan anugerah Bintang Lima OVOP (One Product One Village) dari Kementerian Perindustrian RI pada 2018. 

Baca juga: Gwen Stefani dinobatkan sebagai ikon fesyen 2019

 

Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar