Polisi benarkan surat pernyataan Ninoy Karundeng dibuat dalam paksaan

Polisi benarkan surat pernyataan Ninoy Karundeng dibuat dalam paksaan

Ninoy Karundeng. ANTARA/Fianda Rassat

Ninoy menulis surat bermeterai di bawah ancaman yakni akan dibunuh
Jakarta (ANTARA) - Penyidik Polda Metro Jaya membenarkan jika surat pernyataan yang dibuat Ninoy Karundeng terkait peristiwa penganiayaan dan penyekapan terhadap dirinya dibuat berdasarkan arahan dari para tersangka penganiayaan.

Surat pernyataan yang mengatakan jika Ninoy diperlakukan dengan baik saat berada di Masjid Al Falaah tersebut beredar di media sosial tak lama setelah terjadinya peristiwa penyekapan dan penganiayaan terhadap pegiat media sosial tersebut.

"Ada beberapa oknum yang dipilih sebagai tim medis di TKP untuk menuntun korban membuat surat pernyataan yang isinya tidak mempermasalahkan peristiwa penganiayaan maupun penyekapan yang bersangkutan di lokasi kejadian," kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Dedy Mukti di Polda Metro Jaya, Selasa.

Salah satu anggota tim medis tersebut diketahui sebagai dokter yang bernama Insani Zulfah Hayati alias INS alias IZH yang telah terlebih dulu ditetapkan sebagai tersangka.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Ninoy mengatakan kepada media bahwa surat pernyataan bermeterai tersebut memang ditulis olehnya.

Hanya saja dia menulis surat itu dalam kondisi di bawah ancaman yakni akan dibunuh bila tidak menuruti arahan penculiknya saat itu.

Baca juga: Polisi tetapkan tersangka baru dalam kasus Ninoy Karundeng

Baca juga: Ninoy ancam laporkan pengurus Masjid Al Falaah ke polisi

Baca juga: Ninoy ke Polda konfrontasi keterangan pengurus Masjid Al Falaah


"Surat yang saya tulis itu, itu betul saya yang menulis tapi kalau saya tidak menulis, saya akan dibunuh. Itu saya harus mengikuti, itu diikuti apa yang mereka mau," kata Ninoy di Gedung Subdit Resmob Polda Metro Jaya, Jumat (11/10).

Ninoy mengatakan dirinya tidak bisa punya pilihan lain kecuali mengikuti perintah yang diberikan oleh para penculiknya.

Dia juga mengatakan orang-orang itu siap untuk menghabisi nyawanya jika dia menolak.

"Saya tidak bisa berbuat apapun kecuali mengikuti mereka. Bahkan sampai di situ mereka sudah mempersiapkan macam-macam," ujarnya.

Dia juga mengatakan dia putus asa mencari jalan untuk menyelamatkan nyawanya dan pada saat itu satu-satunya jalan adalah menuruti perintah penculiknya.

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar