Artikel

Budi Karya Sumadi "doyan" tinjau infrastruktur Sabtu-Minggu

Oleh Ahmad Wijaya

Budi Karya Sumadi "doyan" tinjau infrastruktur Sabtu-Minggu

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. ANTARA/HO/BKIP Kementerian Perhubungan

Presiden ingin bahwa segala kegiatan Perhubungan pada dasarnya harus memberikan suatu ruang ekonomi baru atau potensi baru
Jakarta (ANTARA) - Budi Karya Sumadi, Selasa (22/10), dipanggil Presiden Joko Widodo ke Istana Kepresidenan untuk diminta kembali menjadi Menteri Perhubungan, sama seperti jabatan semula dalam Kabinet Kerja I.

"Jadi saya ditugaskan untuk melanjutkan tugas saya sebagai Menteri Perhubungan," kata pria asal Palembang namun menamatkan studi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tersebut.

Dia yang datang mengenakan baju putih lengan panjang, mengatakan secara khusus Jokowi minta agar mendukung pariwisata dan bagaimana logistik bertambah baik.

Budi Karya selama menjadi Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja I memang dikenal sebagai menteri yang "doyan" melakukan kunjungan kerja ke daerah untuk meninjau langsung infrastruktur transportasi. Tak peduli apakah itu hari libur nasional, hari Sabtu dan Minggu.

Bahkan ada gurauan dari sejumlah staf Biro Komunikasi dan Informasi Publik (BKIP) Kementerian Perhubungan, bahwa dirinya jarang sekali bisa berkumpul dengan keluarga pada akhir pekan, karena harus mendampingi Budi Karya saat kunjungan kerja ke daerah.

"Jangan-jangan karena anak saya sering saya tinggal bekerja walaupun pada akhir pekan sehingga jarang berkumpul, anak saya memanggil saya oom bukan papa," kelekar salah satu staf BKIP.

Kerja keras Budi Karya saat menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabiner Kerja I memang menunjukkan hasil positif dan dia memang ingin, sesuai arahan Presiden Jokowi, pembangunan infrastruktur bukan Jawa sentris tapi Indonesia sentris.

Program Indonesia Sentris yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla telah membuka akses keterisolasian serta dapat meningkatkan perekonomian suatu daerah.

Dalam kurun waktu 5 tahun ini, dilakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian, yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap Daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal dan Perbatasan).

Baca juga: Budi Karya Sumadi lanjutkan tugas sebagai Menhub
Baca juga: Menhub akan bertemu kepala daerah se-Papua bahas konektivitas


Diantaranya melalui penyediaan prasarana yaitu 18 rute tol laut dengan tujuan menekan disparitas harga di Indonesia Timur; 891 trayek angkutan perintis, dan pembangunan serta pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan dan terisolir.

Filosofi Indonesia sentris itu menjadi tekanan penting, baik berupa pembangunan maupun kegiatan kegiatan yang dilaksanakan dengan memperhatikan daerah-daerah terluar terdepan, tertinggal dan di perbatasan.

Bila dilihat apa yang sudah dilakukan, tol laut begitu intensif. Dalam lima tahun ini sudah ada 18 rute tol laut. Jadi disparitas harga bisa ditekan dan memastikan pasokan sembilan bahan pokok itu bisa didapatkan masyarakat di bagian Indonesia timur. Lalu ada juga 891 angkutan perintis ada jalan, kereta api, laut dan udara. Ini dilaksanakan secara seksama.

Kementerian Perhubungan di bawah Budi Karya telah melaksanakan program Jembatan Udara untuk meningkatkan konektivitas logistik dengan menyediakan 39 (tiga puluh Sembilan) rute yang dilayani sampai ke daerah-daerah pedalaman, terpencil dan pulau terluar untuk pemerataan serta kesenjangan ekonomi dan pembangunan antar wilayah di Indonesia bagian Timur.

Kemenhub juga membuat jembatan udara atau konektivitas logistik ke daerah-daerah pegunungan, ada 39 rute yang dilalui di daerah pedalaman, terpencil, terluar.

Pembangunan infrastruktur transportasi yang dilakukan juga agar membuka ruang ekonomi baru di daerah-daerah. Seperti misalnya, melalui dukungan atas pengembangan kawasan wisata dengan penyediaan akses transportasi dari dan menuju kawasan wisata, baik sarana maupun prasarana pendukung.

“Karena Pariwisata berkaitan erat dengan sektor ekonomi kreatif, dan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah. Presiden ingin bahwa segala kegiatan Perhubungan pada dasarnya harus memberikan suatu ruang ekonomi baru atau potensi baru,” kata Budi Karya.

Secara lebih detail ada lima Bali baru super prioritas yaitu di Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Manado. Sehingga untuk kelima daerah tersebut telah fokus melakukan pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana transportasi seperti bandara, pelabuhan, kereta api, jalan dan sebagainya.

Baca juga: Menhub pastikan pembangunan infrastruktur miliki nilai ekonomis

Dalam lima tahun pemerintahan Kabinet Kerja, telah banyak capaian yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan baik itu di sektor transportasi darat, laut, udara maupun kereta api. Untuk sektor Perhubungan Darat capaiannya yaitu Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT), Rehabilitas Terminal, Pembangunan Pelabuhan Penyebrangan dan Pembangunan Kapal.

Kemenhub juga melakukan pengembangan transportasi perkotaan. Pengembangan angkutan massal di wilayah perkotaan mampu memindahkan sebagian pengguna kendaraan pribadi untuk berpindah ke angkutan umum. Di Jabodetabek, proporsi perjalanan dengan angkutan umum terus meningkat seiring perbaikan layanan angkutan umum yang ada.

Saat ini sudah ada MRT dan KRL yang mampu menarik minat masyarakat menggunakan transportasi massal.

Dalam hal transportasi perkotaan jelas angkutan massal menjadi pilihan, sehingga akhirnya masyarakat memiliki MRT dan LRT. LRT Jabodebek nanti akan beroperasi pada 2021.

Sektor laut dan udara
Capaian Sektor Perhubungan Laut yaitu Pembangunan Pelabuhan Non Komersial sebanyak 118 lokasi dan pengembangan pelabuhan diantaranya pengembangan Pelabuhan Patimban, Pelabuhan Kuala Tanjung dan proyek tol laut. Untuk meningkatkan bidang logistik, Kementerian Perhubungan juga akan menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub internasional.

Hal tersebut dilihat dari arus bongkar muat peti kemas di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2018 yang mencapai 7,5 juta TEUs dan diharapkan dapat terus bertambah menjadi 8 hingga 12 juta TEUs di tahun 2019. Sehingga kedepan perdagangan ke luar negeri dari Indonesia dapat ditangani oleh Pelabuhan Tanjung Priok.

Pada sektor Perhubungan Udara capaiannya antara lain Pembangunan Bandara Baru di 15 lokasi untuk peningkatan konektifitas antar wilayah dan peningkatan pariwisata 5 Bali Baru Indonesia.

“Di sektor Perhubungan Udara Kemenhub membangun di 15 lokasi dan konektivitas wilayah bertambah baik yang juga akan dukung sektor pariwisata di 5 Bali baru.

Sedangkan capaian pada Sektor Perkeretaapian yaitu Pembangunan proyek Double-Double Track (DDT), Reaktiviasi jalur KA, Pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung dan Kereta Semi Cepat Jakarta-Surabaya.

“Kereta api sudah berhasil menyelesaikan double-double track, reaktivitasi jalur kereta api, pembangunan kereta cepat yang sedang berlangsung sekarang dan kereta semi cepat yang sesang dilakukan feasibility study,” kata Budi Karya.

Baca juga: Pemerintah Pusat genjot pengembangan sejumlah Bandara di Papua Barat
Baca juga: IKN manjakan pejalan kaki dan primadonakan transportasi massal

Oleh Ahmad Wijaya
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rawan kecelakaan, menhub utus tim investigasi ke Cipularang

Komentar