Artikel

Suharso Monoarfa, politikus Partai Ka'bah yang jabat Kepala Bappenas

Oleh Citro Atmoko

Suharso Monoarfa, politikus Partai Ka'bah yang jabat Kepala Bappenas

Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa tiba di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (22/10/2019). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pras.

Jakarta (ANTARA) - Saat dikukuhkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menggantikan Romahurmuziy yang terjerat kasus korupsi sebulan jelang gelaran Pemilu 2019, politikus senior ini menyatakan menerima jabatan tersebut bukan karena ingin mencari jabatan namun agar partai berlambang Ka'bah tersebut dapat tetap eksis.

"Saya ingin PPP dapat melampaui batas persyaratan "parliamentary threshold" empat persen, sehingga tetap bertahan di parlemen," katanya.

Setengah tahun kemudian, ia pun resmi ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia adalah Suharso Monoarfa.

Sehari sebelum pengumuman susunan Kabinet Kerja Jilid II, Suharso yang diundang ke Istana Merdeka sempat memberikan sinyal posisi menteri yang akan ia duduki.

Ia mengaku mendapat tugas membuat peta jalan (road map) agar Indonesia dapat keluar dari "middle income trap" yaitu suatu keadaan dimana suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah tapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.


Baca juga: Suharso: Menteri dari PPP, hak prerogatif presiden

"Presiden meminta saya untuk menyiapkan "road map" bahkan waktu dekat mempresentasikan dalam sidang kabinet perdana dan untuk menjelaskan kepada kabinet mengenai hal itu," tuturnya.

Sebelum menjabat Plt Ketua Umum PPP, Suharso merupakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dari 2015 hingga Maret 2019.

Pria yang akhir bulan ini genap berusia 65 tahun itu juga sempat menjadi Menteri Perumahan Rakyat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009 hingga 2011.

Suharso juga pernah duduk di parlemen pada periode 2005 sampai 2009 dari dapil Gorontalo. Sebelum itu, ia adalah Staf Khusus Wakil Presiden 2002-2004 Hamzah Haz.

Di dunia profesional, Suharso sempat menjadi pimpinan di sejumlah perusahaan antara lain Direktur Penerbitan PT Iqro, Bandung, pada 1979 hingga 1982, General Manager PT First Nobel, Gobel Group, pada 1982 sampai 1986, Direktur Nusa Consultant pada 1986 hingga 1990, dan Sekretaris Perusahaan dan Direktur PT Bukaka Teknik Utama pada 1991 hingga 1997.

Baca juga: Pengamat: Menteri di Kabinet Kerja jilid dua harus bekerja cepat

Ia kemudian menjabat sebagai Chairman PT Batavindo Kridanusa dari 1996 hingga 2000 dan Direktur PT. Bukaka Sembawang Int pada 1997 sampai 2000. Pada 1998 hingga 2002 ia menjadi Chairman PT Argo Utama Global dan pada 2012 menjadi Chairman Rheno Resources.

Walaupun lahir di Mataram, Suharso mengenyam pendidikan SD hingga SMA di Malang, Jawa Timur. Ia lalu melanjutkan studinya di Akademi Geologi dan Pertambangan Bandung dan meraih gelar diploma pada 1975, kemudian meraih gelar sarjana dari Departemen Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1979.

Suharso juga menyelesaikan Executive Development Program, University of Standard, Palo Alto, USA, pada 1994 dan Executive Program, University of Michigan, Ann Arbor, USA, pada 1995. Pada 2014, ia menerima gelar Honoris Causa atau gelar kehormatan di bidang bisnis dari William Business College, University of Sydney, Australia.

Suharso memiliki tiga anak dari istri pertamanya Carolina Kaluku yaitu Andhika Mohammad Yudhistira Monoarfa, Raushanfikri Enaldo Monoarfa, dan Ainy Syahputri Monoarfa. Gugatan cerai yang diajukan Carolina saat itu diduga sebagai penyebab mundurnya Suharso sebagai Menpera.

Saat serah terima jabatan Menpera kepada Djan Faridz, ia memperkenalkan istri mudanya Nurhayati Effendi, yang juga sempat menjabat sebagai Anggota Komisi V DPR RI Periode 2015-2019.

Baca juga: Lima tahun catatan pembangunan 3T Indonesia

Oleh Citro Atmoko
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Terima kasih Ibu Susi – Pemilik jargon ‘Tenggelamkan!’ yang ikut tenggelam

Komentar