Artikel

Histori Rock Indonesia, saat britpop lebih dikenal indies

Oleh Aubrey Kandelila Fanani

Histori Rock Indonesia, saat britpop lebih dikenal indies

Personil grup band Pure Saturday. (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)

Jakarta (ANTARA) - Sama seperti di perkembangan rock di era sebelumnya, kehadiran referensi yang masif memunculkan banyak band cover version yang membawakan lagu-lagu dari musisi idolanya.

Sepanjang 1990-an, Jakarta diramaikan banyak band independen dengan ragam genrenya. Era ini bisa dibilang sebagai momentum awal gerakan indie di Indonesia.

"Sangat menarik memang 90-an itu karena semuanya terjadi di waktu yang bersamaan," kata Harlan Boer, musisi sekaligus pengarsip musik kepada ANTARA beberapa waktu lalu.

Selain thrash yang menggeliat di dekade akhir 1980-an dan Young Offender dengan berbagai macam bandnya mulai dari punk hingga indies, ada juga beberapa band hardcore, grunge seperti Toilet Sound, serta band-band lain dari banyak kelompok.

"Era ini perhelatan musik independen Jakarta digelar hampir sepekan sekali. Tempatnya di Poste Cafe yang legendaris," kata penulis buku "Bandung Pop Darlings" Irfan Muhammad.

Baca juga: Histori rock Indonesia, grunge dan rombongan "bawah tanah"

Kembali kepada Harlan, ia menyebutkan bahwa kemandirian yang dirintis band-band thrash di Pid Pub atau punk dan alternative di Black Hole memberi sumbangsih pada gerakan independen di Jakarta.

Kedua gerakan ini membuka musik lain yang akhirnya diakses oleh banyak anak muda di Jakarta.

"Punk misalnya, didengar bisa lewat berbagai pintu. Bisa lewat thrash, alternative, atau bahkan skateboard. Jadi di 1990-an susah dibilang apa yang sedang ramai secara umum. Tergantung kita sedang ada di mana saat itu," ucap Harlan.

Kondisi di Bandung kurang lebih sama. Referensi di antaranya masuk lewat anak-anak muda yang sering nongkrong di area papan luncur Taman Lalu Lintas Bandung.

Tak hanya nongkrong, mereka juga banyak mendapat referensi dalam bermusik, tak heran kalau kemudian sebagian anak nongkrong ini mendirikan band-band yang punya karateristik berbeda-beda.

Baca juga: Histori Rock Indonesia, Slank tawarkan pilihan berbeda

"Band-band itu di antaranya Puppen, ada Arian yang sering nongkrong di situ, ada juga Pas Band, drummer pertamanya, Richard Mutter di Taman Lalu Lintas juga, kalau Pure Saturday, Adi Udi yang sering nongkrong di situ," kata Irfan.

Tiga band yang bisa disebut pionir ini akhirnya mencetak sejarah dengan merilis album mereka secara mandiri. Puppen yang pertama lewat mini album "For Through The Sap" pada 1993 dan dirilis serta didistribusikan secara independen.

Menyusul kemudian Puppen dengan mini album "Not a Pup" dan "Pure Saturday" yang merilis debutnya pada 1995.

Rekaman tiga band ini mendapat perhatian positif dari publik musik. Pas Band mampu menjual mini album berisi empat lagunya sebanyak 10.000 kopi dalam waktu tiga bulan. Kesuksesan ini membawa mereka pada kontrak dengan Aquarius.

Sementara Puppen dan Pure Saturday menjadi band penting di kancah masing-masing. Beberapa kali band ini pun terpampang di sejumlah media anak muda nasional.

"Mini album Pas ini disebut sebagai salah satu album rekaman independen pertama di Indonesia. Saat itu membuat rekaman adalah hal yang sulit dan trennya masih bawain lagu orang," ucap dia.
 
THE UNPLUGGED PAS BAND. (Antarafoto/Teresia May)


Baca juga: Histori rock Indonesia, kiprah sang "Dewa Rock"

Tren Alternatif

Perlawanan musisi independen lantas dinyatakan lewat kemandirian membuat, merilis, dan mendistribusikan karyanya secara mandiri.

Meski diakui tidak banyak karena mahalnya proses produksi rekaman, beberapa telah memulai seperti Cherry Bombshell di Bandung, Pestolaer, Planetbumi, Toilet Sound di Jakarta, dan lain-lain.

Beberapa di antara band yang lahir di kalangan ini ada juga yang akhirnya menarik perhatian label rekaman besar dan mendapat porsi rekaman dan distribusi yang nasional.

Dari Bandung, Cherry Bombshell misalnya mendapat kontrak label dengan Bulletin, Kubik dengan Target Pro. Sementara di Jakarta beberapa band seperti Rumahsakit atau Tipe X dirilis oleh label sempalan Aquarius yakni Pops Records dan Independent.

"Bulletin memang cukup banyak mengontrak band-band yang punya karakteristik tidak biasa di belantika musik. Selain Cherry Bombshell, mereka juga merilis Naif yang awalnya besar di skena indies atau Netral," ucap Irfan.

Kendati begitu, pengaruh alternatif tak hanya jadi momentum buat mereka yang memulai karirnya dari ekosistem musik independen.
Grup band Naif tampil pada acara Synchronize Festival 2017 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (8/10). Naif tampil membawakan sejumlah tembang andalan mereka, di antaranya Air dan Api, Karena Kamu Cuma Satu, dan Posessif, pada hari terakhir perhelatan Synchronize Festival 2017. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/17 (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)


Baca juga: Perankan Dewa Tuak, Andi /rif kesulitan hafal naskah

Beberapa band yang sejak awal sudah profesional pun banyak yang ikut terpengaruh dengan tren alternatif ini.

/RIF misalnya memulai karirnya sebagai band yang tampil di beberapa cafe dan bar di Kota Bandung. Selain gandrung pada rock n roll, Andy cs juga sering membawakan ulang beberapa nomor dari band seperti Pearl Jam atau yang Britpop seperti Suede.

Tak heran kalau kemudian lagu-lagu mereka seperti "Bunga" dan "Radja" yang ada di debutnya pada 1997 kental dengan pengaruh alternatif.

Menurut Harlan, hal yang sama juga terasa pada karya-karya pop yang mengandung unsur rock alternatif seperti Potret. Ini adalah gelombang yang berbeda dengan rock-rock di paruh pertama dekade 90 dan gerakan independen yang muncul di paruh kedua 90-an.

"Dengan kubunya Slank atau God Bless, ini beda lagi nih. Dengan alternatifnya Pas Band juga beda, tapi di situ kan ada pengaruhnya dengan musik baru yang ada di era tersebut yakni alternatif tadi. Mungkin pengadaptasiannya yang berbeda-beda," ucap dia.

Radar label rekaman besar pada gerakan independen dan lebih menyeluruh lagi musik alternatif disebut Harlan memang sudah terasa terutama di paruh kedua dekade 90.

Ramainya panggung, banyaknya band-band alternatif yang sering diliput media nasional, hingga kemandirian para pelakunya bergerilya dalam merilis rekaman sendiri hingga mendapat respons baik, membuat label besar tertarik merilis band-band seperti ini.

"Ada garansi kalau ini ada yang suka. Misalnya ke Poster tiap hari Minggu ada saja penontonnya. Belum kuping A&R-nya yang melihat ini punya potensi. Itu bertahan terus sampai tahun 2000," ujar Harlan.


Baca juga: Histori rock Indonesia, lahirnya musisi legenda

Baca juga: Histori rock Indonesia, Orde Baru buka keran budaya barat

Baca juga: Histori rock Indonesia, rivalitas musik dan Aktuil sebagai barometer

Oleh Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ma’ruf Amin tekankan nilai kebangsaan dalam konflik Papua

Komentar