International Corner

ASEAN mampu antisipasi perebutan pengaruh negara-negara besar

ASEAN mampu antisipasi perebutan pengaruh negara-negara besar

Wawancara khusus ANTARA dengan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Jose Tavares di Jakarta, Senin (21/10/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) - Sejak dibentuk pada 8 Agustus 1967, ASEAN hingga kini dinilai mampu mengantisipasi kompetisi diantara negara-negara besar di kawasan.

Salah satu upaya yang belum lama ini telah dicapai ASEAN untuk mengantisipasi perebutan pengaruh negara-negara besar adalah kesepakatan Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik (ASEAN Outlook on Indo-Pacific/AOIP) oleh para menlu ASEAN dalam KTT ke-34 di Bangkok, Thailand, Juni lalu.

“Itu sebenarnya perwujudan dari sentralitas ASEAN, yang di dalamnya ada unsur politik luar negeri bebas aktif-nya Indonesia,” kata Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Jose Tavares dalam sesi wawancara khusus dengan ANTARA, awal pekan ini.

Pandangan ASEAN, yang diprakarsai Indonesia, didasarkan pada prinsip keterbukaan, transparan, dan inklusif dengan memajukan dialog dan kerja sama, serta menjunjung hukum internasional untuk menyelesaikan isu regional.

Konsep itu diharapkan menjadi rujukan kerja sama di kawasan Indo-Pasifik, juga petunjuk bagi negara-negara anggotanya untuk tidak memihak pada kekuatan adidaya mana pun dalam perebutan pengaruh di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Konsep kerja sama itu juga berbeda dengan konsep yang ditawarkan sejumlah negara, diantaranya China dengan Belt and Road Initiative (BRI), Jepang dan AS dengan Free and Open Indo-Pacific, India dengan Security and Growth for All in the Region (SAGAR), dan Quadrilateral Security Dialogue (QUAD) antara AS, Jepang, India, dan Australia.

Menurut Jose, Pandangan ASEAN mengenai Indo-Pasifik lahir supaya anggota asosiasi negara-negara Asia Tenggara itu tidak mengadopsi konsep-konsep lain yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini dibina ASEAN, yaitu untuk menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan, menciptakan ekosistem yang kondusif agar tercipta kerja sama tanpa perseteruan atau konflik.

“Untuk mendorong kerja sama yang baik berdasarkan kepentingan bersama,” kata Jose.

Baca juga: Pandangan Indo-Pasifik, upaya Indonesia lindungi multilateralisme

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan bahwa ASEAN telah melakukan pekerjaan dengan baik dalam menjaga stabilitas kawasan meski menghadapi "kekuatan besar".

"ASEAN adalah salah satu dari sedikit organisasi regional yang masih berfungsi hari ini," kata Mahathir, seperti dilaporkan The Straits Times.

Dia menambahkan bahwa kelompok-kelompok regional lain, seperti Uni Eropa dan blok trilateral Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), "tidak melakukan dengan baik".

"ASEAN tetap bersama, dan pada umumnya, kami memiliki pendekatan yang sama untuk menyelesaikan masalah kami," kata dia.

Baca juga: Menlu sebut tiga alasan penting Indo-Pasifik

Mahathir berbicara dalam menanggapi pertanyaan dari para hadirin pada Konferensi Praxis ISIS pada hari Senin (21/10), yang diselenggarakan oleh Institut Studi Strategis dan Internasional (ISIS) Malaysia.

Perdana Menteri Malaysia itu menyatakan bahwa sebagai "area strategis dunia", Asia Tenggara melihat banyak perdagangan global dan bisnis melewati wilayah tersebut.

Menurut Mahathir, pencapaian kelompok regional itu juga ditunjukkan dengan lancarnya lalu lintas kapal dagang di Selat Malaka dan Laut China Selatan.

"Tetapi begitu orang mulai mengirim kapal perang ke daerah ini, akan ada ketegangan," kata Mahathir.

"Seruan kita kepada kekuatan besar adalah untuk mencegah semua senjata perang ini di daerah ini ... Seruan kita tampaknya didengar oleh kekuatan besar. Sejauh ini, mereka tidak sengaja menciptakan krisis," ujar dia.

Mahathir kemungkinan merujuk pada ketegangan Sino-AS yang telah ada selama bertahun-tahun.

China telah membangun pangkalan militer di Kepulauan Spratly di Laut China Selatan---tempat negara itu memiliki klaim teritorial yang tumpang tindih dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan---sementara AS melakukan kebebasan patroli navigasi untuk menentang klaim China di perairan yang disengketakan. .

Dua kekuatan terbesar dunia juga terkunci dalam perang perdagangan yang pahit, dengan AS mengenakan tarif ekspor pada berbagai barang China yang akhirnya memuncak dalam sanksi, dan China mengambil langkah-langkah balasan.

Malaysia telah berupaya untuk mempertahankan jalan tengah antara kedua negara, melihat peningkatan investasi AS tahun ini sementara China tetap menjadi mitra dagang terbesar Malaysia.

Baca juga: Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik berfokus sinergi, bukan rivalitas

Baca juga: ASEAN perlu lakukan terobosan untuk laksanakan Pandangan Indo-Pasifik


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ada nasi goreng di Festival Jajanan ASEAN-Korea

Komentar