BPBD harap alat deteksi tanah longsor SMKN Pundong terus dikembangkan

BPBD harap alat deteksi tanah longsor SMKN Pundong terus dikembangkan

Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto melakukan simulasi terhadap alat deteksi tanah longsor karya siswa SMK Negeri 1 Pundong, Bantul yang dipasang di wilayah Dusun Blali, Desa Seloharjo Pundong. (ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengharapkan alat deteksi tanah longsor yang diciptakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Pundong dan diujicobakan di wilayah pedukuhan Blali, Seloharjo bisa terus dikembangkan.

Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Kamis, mengatakan, mengapresiasi atas kreativitas dan inovasi siswa SMKN 1 Pundong yang menciptakan karya luar biasa, yaitu alat deteksi bencana tanah longsor yang dipasang di Dusun Blali, salah satu wilayah di Kecamatan Pundong yang potensi tanah longsornya tinggi.

"Harapan kita ke depan alat deteksi tanah longsor ini bisa dikembangkan, disempurnakan sehingga betul-betul bisa menjadi sebuah alat standarisasi deteksi tanah longsor hasil karya masyarakat Pundong Bantul. Dan ini yang akan kita terus dorong," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, organisasi perangkat daerah (OPD) ini siap bekerjasama dengan SMKN 1 Pundong dan jajarannya untuk pengembangan alat deteksi tanah longsor lebih lanjut, karena memang Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah yang rawan bencana cukup tinggi.

"Sehingga ke depan tidak hanya (alat deteksi) longsor, tahun lalu sudah ada (alat deteksi) banjir, karena itu tahun berikutnya akan menciptakan apa lagi ini yang akan kita tunggu, tapi jangan hanya berhenti sampai pada tataran uji coba," katanya.

Akan tetapi, kata dia, inovasi teknologi dalam penanggulangan bencana perlu terus dikembangkan, sehingga pada akhirnya nanti dapat menjadi produk yang massal dan bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk Kabupaten Bantul, namun juga daerah lain luar Bantul yang memang ada wilayah rawan bencana.

"Harapan kita bisa juga untuk menyumbang kepada bangsa dan negara dari adanya beberapa alat untuk penanggulangan bencana," katanya.

Dia mengatakan, akan melakukan evaluasi dari adanya alat deteksi tanah longsor terkait fungsi dan efektivitasnya dalam memberikan peringatan dini kepada masyarakat jika ada tanda-tanda kejadian tanah longsor yang biasanya dipicu akibat hujan deras setelah musim kemarau berakhir.

"Dimungkinkan (dipasang di tempat lain), jadi kita akan melihat lebih jauh terkait musim hujan yang sebentar lagi, kalau alat itu efektif akan kita kembangkan dan mungkin dipasang di beberapa tempat lagi, karena kita (Bantul) masih banyak titik yang perlu ada penambahan alat deteksi tanah longsor," katanya.

Kepala SMKN 1 Pundong Bantul Sutopo mengatakan alat deteksi tanah longsor diciptakan siswa dengan teknologi sederhana, yang mana cara kerjanya akan mengeluarkan bunyi jika ada rekahan tanah selebar 25 cm di sekitar alat tersebut, sehingga bunyi tersebut bisa sebagai sistem peringatan dini.

"Jangkauan alat hingga 100 meter, apabila ada rekahan tanah 25 cm alat akan bunyi sebagai peringatan, sehingga warga bisa waspada. Dan kalau tanah merekah 50 cm, maka alat berbunyi makin keras, sehingga warga bisa waspada dan evakuasi mandiri," katanya.

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemerintah Anggarkan Rp 7 Triliun untuk Alat Deteksi Bencana

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar