Artikel

Krisis air hantui warga Jakarta

Oleh Andi Firdaus

Krisis air hantui warga Jakarta

Warga RT 02 RW 03 Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, menerima distribusi bantuan air bersih dari PT Aetra, Rabu (23/10/2019). Distribusi bantuan diberikan setelah kawasan setempat dilanda kekeringan imbas kemarau panjang dalam sebulan terakhir. (ANTARA/Andi Firdaus).

Jakarta (ANTARA) -
Udara di kawasan Bambu Apus (Jakarta Timur( mengembuskan hawa hangat saat Adi Ismanto terkulai lemas di atas bale (balau) bambu teras rumahnya, Kamis (24/12) siang.
 
Ada 14 kemasan galon masing-masing berkapasitas 19 liter isi air bersih bantuan dari pemerintah berjajar rapi di antara deretan toples berisi dagangan cupang hias di samping bale bambu.
 
Pria berbadan gempal dengan kulit sawo matang itu bergegas bangkit dari tempat duduknya menyambut kedatangan Farid.

Bocah tujuh tahun itu tidak sabar ingin menumpang mandi dan segera memakai seragam baru yang telah disetrika rapi di lemari rumahnya yang berjarak selemparan batu dari rumah Pak RT.
 
Meski sedikit kedodoran, celana pendek merah dan baju putih membuat Farid merasa gagah untuk bersekolah di SDN 01 Bambu Apus siang itu.
 
"Nah gitu dong, mandi. Masa dari kemarin sekolah gak mandi-mandi," kata Adi.
 
Sejak semalam, pria 41 tahun itu baru saja mewakili warganya menerima bantuan air bersih dari produsen air bersih PT Aetra. Total 7.000 liter air bersih didistribusikan kepada 25 dari 96 rumah tinggal yang dilanda krisis air sejak September 2019 di wilayah padat penduduk itu.
 
Krisis air yang dialami warganya membuat Adi memutuskan meminta bantuan kepada lurah setempat pada Selasa (22/10) malam. Tepat pukul 23.00 WIB, satu unit truk tangki air bersih dari perusahaan swasta itu tiba di kediaman Adi.
 
Kucuran air dari selang truk tangki ditampung oleh puluhan warga menggunakan galon maupun panci. Sekitar 2,5 jam lamanya air di dalam truk tangki habis dipindah ke wadah penampungan warga untuk selanjutnya diangkut ke masing-masing rumah.
 
Bantuan air itu cukup untuk persediaan dua hari ke depan bagi kebutuhan MCK maupun masak dan minum warga.
 
Sumarna (60), mengeluhkan debit air sumur sedalam 12 meter di rumahnya ikut surut
imbas kemarau panjang. Ayah satu anak itu beberapa kali menumpang mandi ke rumah kakaknya di Cililitan.
 
"Biasanya saya nyalain mesin pompa dari malam sampai pagi. Itu juga yang keisi paling seember," katanya.
 
Bahagia benar Sumarna saat membawa pulang dua ember besar dan satu kaleng bekas cat berisi air bersih bantuan pemerintah. Tapi pemakaian air terpaksa dijatah sehari satu ember.

"Alhamdulillah banget dah (dapat bantuan air bersih). Paling sehari satu ember biar awet," katanya.

Baca juga: Jakarta Krisis Air Bersih
Baca juga: Jakarta siapkan Rp100 miliar untuk sumur resapan
Warga RT 02 RW 03 Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, menerima distribusi bantuan air bersih dari PT Aetra, Rabu (23/10/2019). Distribusi bantuan diberikan setelah kawasan setempat dilanda kekeringan imbas kemarau panjang dalam sebulan terakhir. (ANTARA/Andi Firdaus).
Kolam Retensi
Sumarna menyebutkan kedalaman sumur air tanah milik warga yang dilanda krisis rata-rata hanya berkisar 12 hingga 15 meter. Kontur lahan yang relatif lebih tinggi dari kawasan sekitar membuat air di dalam tanah tidak terjangkau mesin sedot.
 
"Apalagi diperparah sama kemarau panjang. Tapi baru tahun ini air tanah saya benar-benar kering," katanya.
 
Ketua RW 03 Bambu Apus, Hermansyah
mengungkapkan kawasan di RT 02 sangat minim lahan terbuka hijau untuk serapan air saat musim hujan. Dalam sepuluh tahun terakhir, kawasan Bambu Apus telah dipadati rumah tinggal hingga perkantoran.
 
Populasi yang cenderung padat memaksa penduduk setempat saling berebut pasokan air dari dalam tanah. Sebab baru separuh warga yang kini terdata sebagai pelanggan perusahaan air minum (PAM).
 
"Kalau bisa sih kita mau minta tandon (kolam retensi). Biar saat hujan ada cadangan airnya," katanya.
 
Namun permintaan tersebut tidak kunjung terealisasi akibat lahan yang terbatas untuk dibebaskan pemerintah.
 
Kondisi keterbatasan lahan terbuka hijau (RTH) ditepis Lurah Bambu Apus Dodo Supendi. Tercatat dari total 310 luas wilayah kelurahan setempat, masih tersisa 40 lahan kosong untuk kebutuhan RTH.
 
Kawasan paling timur di Jakarta Timur ini dihuni tidak kurang dari 29.000 jiwa penduduk dengan tingkat kepadatan sekitar 9.133 jiwa per kilometer persegi.
 
Pemerintah Kota Jakarta Timur bahkan merencanakan pembangunan kolam retensi pada 2020 bagi kebutuhan resapan air di kala musim hujan atau cadangan air di saat kemarau panjang.
 
Kolam retensi itu rencananya menempati lahan seluas 5.000 meter persegi milik Dinas Kehutanan DKI di RT 01 RW 01 yang berjarak sekitar satu kilometer dari RT 02 RW 03 Bambu Apus.
 
"Komposisinya 40 persen buat taman dan 60 persen kolam retensi," katanya.
 
Bila proyek tersebut terealisasi, maka kolam retensi di dekat SDN 01 itu akan menjadi yang perdana di Bambu Apus.

Baca juga: Puluhan rumah tinggal di Bambu Apus krisis air bersih
Baca juga: Krisis air Jakbar, PAM Jaya janjikan akses pipa rampung akhir tahun
Warga Bambu Apus memperlihatkan bakntamlunhan airntanah yang keruh akibat krisis air selama kemarau panjang 2019, Kamis (24/10/2019). (ANTARA/Andi Firdaus)
Meluas
Dodo mencatat krisis air bersih di wilayahnya juga melanda warga di RT 05 dan RT 08 RW 03. Jajarannya terus berupaya mendistribusikan bantuan air bersih dari PT Aetra dan Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur.
 
Bantuan awalnya dari Damkar, tapi karena ternyata yang mengalami kekeringan agak luas.

"Jadi kita kontak lapor BPBD DKI dan akhirnya dapat bantuan dari Aetra pada malam hari. Jadi sudah mulai tercukupi," katanya.
 
Kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga penghujung tahun 2019 juga melanda Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur.
 
Tidak kurang dari 90 kepala keluarga di wilayah setempat butuh bantuan air bersih.
 
"Kalau di saya ada 90 kepala keluarga (KK) dengan total 245 jiwa yang terdampak kekeringan dan butuh bantuan air bersih," kata Lurah Cilangkap Nasir Sugiar.
 
Sejak Selasa (22/10), warga RT 02, RT 05, RT 06 dan RT 07 mendapat suplai bantuan air bersih dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur.
 
Total bantuan air bersih dari pemerintah untuk Kelurahan Cilangkap mencapai 4.000 liter yang didistribusikan selama dua hari berturut-turut.
 
Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Meteorologi  Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di DKI Jakarta pada musim kemarau panjang ini terdapat 15 kecamatan yang masuk dalam kategori "Awas Potensi Kekeringan" dengan indikator lebih dari 61 hari tanpa hujan.
 
Kecamatan yang masuk kategori ini adalah Menteng, Gambir, Kemayoran, Tanah Abang, Cilincing, Tanjung Priok, Koja, Kelapa Gading, Penjaringan, Tebet, Pasar Minggu, Setiabudi, Makasar (Kelurahan Halim), Pulogadungdan Cipayung.
 
Sementara itu, berdasarkan data PAM Jaya, terdapat 41 kelurahan atau 15,47 persen dari total kelurahan di DKI Jakarta belum terlayani jaringan Air PAM atau 4,15 persen dari total kelurahan di DKI Jakarta.
 
Kelurahan yang dimaksud antara lain Kapuk Muara, Kamal Muara (di Jakarta Utara), Pondok Rangon, Munjul, Cilangkap, Setu, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya, Kebon Pala dan Halim Perdana Kusuma (Jakarta Timur).

Baca juga: Kali Maja surut, warga terdampak kekeringan dan krisis air bersih
Baca juga: Jakarta terancam krisis air bawah tanah
Salah satu sungai di Jakarta yang surut dan terlihat kotor. (ANTARA/DEVI NINDY)
Bantuan
Warga DKI Jakarta yang mengalami kesulitan air bersih sebagai dampak dari musim kemarau panjang saat ini bisa melaporkan ke Call Center 112 milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
 
Laporan kekurangan air bersih di musim kemarau yang disampaikan warga segera  ditindaklanjut oleh tim Pemprov DKI Jakarta melalui badan usaha yang dimiliki, yakni PDAM Jaya.
 
Selanjutnya, PDAM Jaya bekerjasama dengan dua operator layanan air bersih, salah satunya adalah PT Aetra Air Jakarta akan secepatnya menyalurkan air bersih yang dibutuhkan warga Jakarta.
 
Air bersih yang disalurkan diambil langsung dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP) yang ada di Aetra.
 
"Kita dibantu tangkinya juga (oleh Aetra Air Jakarta). Kemudian, karena saat ini WTP dikelola oleh mereka, maka air bersih akan kita ambil pada titik-titik dimana mereka saat ini mengelola itu. Kami juga mempunyai reservoir yang airnya disalurkan melalui tangki-tangki," kata Direktur Utama PAM Jaya Priyatno Bambang Hernowo.
 
Bantuan air bersih akan tiba di wilayah kekeringan dalam waktu dua jam sejak warga melaporkan kondisi kekeringan. "Laporan warga diterima dari Call Center 112, kemudian diteruskan kepada kami," katanya.
 
Disebutkan pula bahwa pasokan air PDAM Jaya di SPAM Jatiluhur saat ini masih aman, selain mereka juga memiliki pasokan air dari wilayah Tangerang.
 
Untuk suplai air bersih Aetra Air Jakarta kepada pelanggannya selama musim kemarau ini tidak ada kendala.

Data Aetra Jakarta pada semester I tahun 2019 menunjukkan bahwa 55,6 persen pelanggannya tetap mendapatkan pasokan air bersih dengan tekanan yang stabil, bahkan cukup tinggi yakni di atas 0,75 bar.
 
Aetra Air Jakarta optimistis bahwa suplai air bersih kepada pelanggan tidak mengalami gangguan selama musim kemarau ini.
 
Terkecuali dalam kondisi harus dilakukan 
perbaikan teknis. Misalnya penanganan kebocoran pipa, dampak pekerjaan pihak eksternal dan kondisi di luar rencana pekerjaan teknis Aetra Air Jakarta.
 
"Biasanya pelanggan akan mengalami gangguan berupa aliran mengecil atau mati dalam waktu tertentu," katanya.
 
Pemprov DKI Jakarta beserta jajaran telah siap dengan kondisi kekeringan yang kerap melanda sebagian kawasan hampir setiap kemarau panjang melanda.
 
Tapi tidak hanya cukup kesiapsiagaan petugas. Fasilitas kolam retensi menjadi kebutuhan prioritas yang perlu diperhatikan pemerintah untuk menanggulangi dampak kekeringan maupun banjir.
Baca juga: Krisis air Jakarta tanggung jawab siapa?

Oleh Andi Firdaus
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hujan mulai turun, BPBD hentikan droping air

Komentar