Akademisi dukung pemrograman dan "coding" komputer masuk kurikulum

Akademisi dukung pemrograman dan "coding" komputer masuk kurikulum

Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) Dr. Pratama Persadha. ANTARA/HO-CISSReC

memang sebaiknya diperkuat sejak dini atau SMA
Semarang (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Doktor Pratama Persadha mendukung materi pemrograman dan coding komputer masuk kurikulum pendidikan.

Pratama kepada  ANTARA di Semarang, Jumat, mengatakan, kebutuhan materi pelajaran itu sangat mendesak karena hampir semua sendi kehidupan membutuhkan sistem teknologi informasi (TI) yang dibangun salah satunya lewat coding.

Pratama mengemukakan hal itu ketika merespons beredarnya video Nadiem Anwar Makarim yang berpidato tentang pendidikan ideal untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh pada era digital.

Menyinggung soal video yang viral tersebut, menurut dia, itu video lama atau sebelum Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Namun, pesannya jelas bahwa berkehidupan siber harus masuk dalam kurikulum pendidikan.

Baca juga: Dirjen: bangun 1.000 startup butuh 100.000 programer
Baca juga: Code.org ajak pengguna komputer jadi "programer"


Nadim dalam video itu, kata Pratama, paling tidak menggarisbawahi empat hal penting, yakni pertama soal pentingnya bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Artinya, bahasa asing harus mendapat perhatian khusus oleh semua elemen pendidikan.

Menurut Pratama, efeknya jelas jika bahasa asing, terutama Inggris, dikuasai oleh sebagian besar siswa dan mahasiswa. Dengan demikian, kesempatan untuk belajar, bekerja, dan membuka usaha di luar negeri akan terbuka sangat lebar.

"Nadim sendiri mendapatkan banyak pengalaman luar biasa di luar negeri yang membuatnya berani mendirikan Gojek pada tahun 2010 ketika yang lain belum terpikirkan," kata Pratama.

Kedua, kata pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Nadiem memandang penting materi pemrograman dan coding komputer harus sedini mungkin diajarkan di sekolah, minimal sekolah menengah atas (SMA).

Pratama lantas mencontohkan India, salah satu negara yang sukses dengan fokus pada SDM teknologi sejak lama. Hasilnya para insinyur TI mereka dipakai di berbagai negara, Indonesia dan bahkan AS. Puncaknya saat CEO Google dijabat oleh orang India bernama Sundar Pichai.

Ketiga, coaching dan pengajar dari ekspertis dunia. Salah satu kesuksesan kota New York adalah berhasil menarik talenta terbaik seluruh dunia di berbagai bidang. Oleh karena itu, transfer ilmu dan teknologi terjadi secara terstruktur maupun kultural.

Baca juga: Potensi Programer Aplikasi Mobile Indonesia Besar
Baca juga: Kominfo apresiasi rencana sekolah coding di Indonesia


Indonesia dengan lebih membuka diri dan memberikan banyak kemudahan riset, Pratama yakin akan menarik banyak orang pintar untuk berbagai ilmu di dalam negeri.

"Jadi, kita tidak hanya akan menjadi negeri konsumen, tetapi negeri para inovator," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) ini.

Keempat, lanjut dia, terkait dengan persaingan teknologi informasi, aplikasi, dan membangun startup. Hal ini dibutuhkan kemampuan statistik dan psikologi yang mumpuni.

Statistik jelas dibutuhkan untuk membaca data dan meraba masa depan. Psikologi yang dimaksud adalah kemampuan meraba setiap user interface (UI) design, user experience (UX) design, dan kawan-kawannya apakah akan disukai oleh para pemakai.

"Ini membutuhkan kecakapan tersendiri. Oleh karena itu, memang sebaiknya diperkuat sejak dini atau SMA," kata Pratama Persadha menegaskan. 

Baca juga: Indosat Digital Camp beri 10.000 beasiswa "coding" bersertifikat
Baca juga: Kenalkan coding untuk anak lewat kelas mini di Bekraf Habibie Festival

Pewarta: D.Dj. Kliwantoro
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mendikbud ingin anak Indonesia bisa berpikir komputasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar