Budaya malu buang sampah cegah polusi plastik Danau Singkarak

Budaya malu buang sampah cegah polusi plastik Danau Singkarak

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dan Kepala DLH ikut bergotong royong membersihkan selingkar Danau Singkarak, Jumat (15/10/2019). ANTARA/Miko Elfisha/aa.

Kalau sudah malu buang sampah sembarangan. Polusi ini otomatis bisa dikurangi
Padang (ANTARA) - Budaya malu membuang sampah harus dihidupkan kembali untuk mencegah polusi plastik yang mulai mencemari lingkungan di kawasan Danau Singkarak, Sumatera Barat.

"Kalau sudah malu buang sampah sembarangan. Polusi ini otomatis bisa dikurangi," kata Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit di Solok, Jumat.

Sayangnya, kata dia, budaya malu itu sekarang sudah terkikis. Tua-muda, laki-laki perempuan seperti tidak merasa bersalah membuang sampah sembarangan.

Akibatnya lingkungan menjadi tercemar. Limbah plastik yang dibuang butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai. Jika masuk ke perairan seperti danau atau laut, akan berpengaruh buruk terhadap ekosistem.

Baca juga: Ahli geologi: Danau Singkarak setiap tahun bertambah luas

Baca juga: Sumbar siapkan aturan antisipasi kerusakan Danau Singkarak

Padahal, ada ribuan masyarakat di sekeliling Danau Singkarak yang menggantungkan hidup menjadi nelayan ikan endemik dan bilih.

Nasrul menyebutkan untuk membudayakan malu itu digagas gerakan gotong royong membersihkan selingkar Danau Singkarak, Jumat. Ribuan orang dengan beragam latar belakang ikut dalam gerakan itu.

"Gerakan ini hanya sebuah pemantik. Budayanya harus dihidupkan dengan dukungan semua pihak, terutama masyarakat sekeliling danau," ujarnya.

Selain ikut mengumpulkan sampah plastik dari pinggiran Danau Singkarak, Nasrul Abit juga mendatangi masyarakat yang membuka usaha warung di sekitar danau.

Ia meminta kesediaan mereka untuk ikut melarang jika ada yang membuang sampah ke dalam danau.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar Siti Aisyah menyebut untuk mengelola kawasan sekitar danau, telah dibentuk Badan Pengelolaan Kawasan Danau Singkarak (BPKDS) yang terdiri dari masyarakat sekitar.

"Mereka telah membuat program dan rencana kerja, salah satunya untuk mengantisipasi pencemaran akibat sampah melalui bank sampah," ujarnya.

Pemerintah mendukung program-program pelestarian lingkungan itu dengan memberi jalan membuka jejaring dengan perusahaan yang ada di provinsi itu.

"Melalui dana CSR, perusahaan bisa membantu program pelestarian lingkungan hidup itu," katanya.

BPKDS juga bisa membuat program jaring sampah di sungai dengan menyiapkan infrastruktur pendukung seperti armada untuk mengangkut sampah yang terjaring ke tempat pembuangan.

Gotong royong membersihkan selingkar Danau Singkarak itu juga mendapat dukungan penuh dari Pemkab Solok dan Tanah Datar, serta TNI/Polri.

Baca juga: Bagan di Danau Singkarak diminta dibongkar

Pewarta: Miko Elfisha
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengembalikan budaya malu cegah danau Singkarak dari pencemaran

Komentar