BPIP: Pancasila tidak cukup berhenti pada sikap toleransi

BPIP: Pancasila tidak cukup berhenti pada sikap toleransi

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPIP Prof. Hariyono (duduk dua dari kanan) bersama peserta dialog pentahelix "Gotong Royong Membumikan Pancasila" di Kupang, NTT, Jumat (25-10-2019). ANTARA/Zuhdiar Laeis

Kupang (ANTARA) - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menilai implementasi Pancasila semestinya tidak cukup berhenti pada sikap toleransi, tetapi juga untuk membangun prestasi.

"Materi pelajaran Pancasila seyogianya tidak mengedepankan hafalan, tetapi pengetahuan yang menginspirasi," kata Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPIP Prof. Hariyono di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat.

Hal tersebut disampaikannya saat Dialog Pentahelix Provinsi NTT bertema "Gotong Royong Membumikan Pancasila" yang digelar BPIP.

Dialog tersebut diikuti jajaran Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi NTT dan kabupaten/kota, unsur media, organisasi kemasyarakatan, dan perguruan tinggi.

Baca juga: Ancaman Pancasila dinilai tak hanya komunisme

Menurut Hariyono, Pancasila harus menjadi pengetahuan yang menginspirasi para siswa dan mahasiswa untuk menumbuhkan diri lebih berprestasi.

Sejalan dengan itu, kata dia, Pancasila sebagai pelajaran pada pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi sudah diusulkan BPIP menjadi mata pelajaran dan mata kuliah wajib lagi.

"Pancasila pada pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi sudah kami usulkan, koordinasikan. Kami kerja sama dengan Kemendikbud agar Pancasila menjadi mata pelajaran dan mata kuliah wajib lagi," katanya.

Hariyono mengatakan bahwa upaya pembumian nilai-nilai Pancasila tidak mudah dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus digarap bersama seluruh elemen secara bergotong royong.

Oleh karena itu, kata dia, BPIP mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga media untuk bergotong royong membumikan Pancasila.

Baca juga: BPIP: Kesbangpol jangan hanya dijadikan "pemadam kebakaran"

"Bagaimana para pelaku stakeholder yang disebut pentahelix, yakni kelompok media, ormas, pemerintah, dan perguruan tinggi bisa duduk bersama bergotong royong membuat program relevan dengan nilai-nilai Pancasila," katanya.

BPIP, kata dia, bersinergi dengan seluruh kesbangpol di seluruh Indonesia sebagai tindak lanjut koordinasi yang dilakukan dengan Kementerian Dalam Negeri.

Sehari sebelumnya, Kamis (24/10), BPIP juga telah mengumpulkan jajaran kesbangpol di regional timur Indonesia untuk mengoptimalkan pembumian Pancasila.

Pertemuan Kesbangpol Regional Wilayah Timur Indonesia yang juga mengangkat tema "Gotong Royong Membumikan Pancasila" tersebut diikuti perwakilan kesbangpol 12 provinsi.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPIP menilai kinerja TNI - Polri tangani pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar