Krisis air di Gunung Kidul mengancam warga

Krisis air di Gunung Kidul mengancam warga

Warga terdampak kekeringan di Kabupaten Gunung Kidul rela berjalan empat hingga lima km untuk mendapat air. Mereka memanfaatkan air telaga yang keruh untuk kebutuhan sehari-hari. ANTARA/Sutarmi

Gunung Kidul (ANTARA) - Lima kecamatan terdampak kekeringan di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang meliputi Kecamatan Tepus, Tanjungsari, Purwosari, Patuk, dan Paliyan mengalami krisis anggaran distribusi air bersih ke masyarakat.

Kepala Pelakasana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul Edy Basuki di Gunung Kidul, Sabtu, mengatakan pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan seluruh kecamatan.

Baca juga: 130 ribu warga Gunung Kidul terdampak kekeringan

"Berdasarkan rapat koordinasi, pihak ke tiga banyak yang memberikan bantuan, sehingga bantuan tersebut sedikit bisa membantu warga yang kekurangan air bersih," kata Edy.

Meski kondisi kekeringan semakin parah dan anggaran distribusi air bersih menipis, BPBD Gunung Kidul belum akan mengeluarkan status darurat kekeringan. Hal ini dikarenakan banyaknya bantuan dari pihak ketiga untuk distribusi air kepada warga.

Baca juga: Embung Nglanggeran Gunung Kidul mengering akibat kemarau panjang

Selain pihak ketiga yang memberikan bantuan dropping air, Provinsi DIY juga memberikan bantuan dropping air.

Ia mengungkapkan hingga pertengahan Oktober ini, anggaran BPBD Gunung Kidul tinggal Rp164 juta.

Baca juga: Begini cara Gunung Kidul kejar target retribusi wisata Rp27,8 miliar

"Kecamatan yang masih memiliki tangki air masih bisa melakukan dropping air hingga awal November," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Girisubo Arif Yahya mengatakan krisis air di wilayahnya semakin parah. Hal ini dikarenakan air makin sulit dicari sehingga sumber-sumber ada diserbu oleh truk tangki pengangkut air.

Sopir tangki mengambil inisiatif mengambil air di lokasi lain, namun kondisi sama sehingga mengakibatkan penyaluran air ke masyarakat menjadi tersendat.

"Debit sumbernya makin mengecil saat kemarau, sehingga tangki yang ambil air harus antre panjang, bahkan untuk pengambilan air tidak saja mengambil sumber air dari Desa Songbanyu tetapi hingga Pracimantoro, Wonogiri,” katanya.

Pewarta: Sutarmi
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gunungkidul anggarkan Rp740 juta hadapi musim kemarau

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar