Desa Ohoidertawun jadi puncak penutupan Festival Pesona Meti Kei 2019

Desa Ohoidertawun jadi puncak penutupan Festival Pesona Meti Kei 2019

Tari Panah dibawakan oleh 1.000 pelajar SD dan SMP di Maluku Tenggara pada Puncak Acara Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2018 di objek wisata Ngurbloat (Pasir Panjang).(FOTO ANTARA/Siprianus Yanyaan)

Dipilihnya Ohoidertawun sebagai tempat penyelenggaraan puncak acara FPMK 2019 karena desa itu ketika konflik horisontal melanda hampir seluruh wilayah Maluku tahun 2009, daerah itu tetap terjaga dan masyarakatnya hidup berdampingan dengan rukun
Langgur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku menggelar puncak penutupan acara Festival Pesona Meti Kei (FPMK) tahun 2019 di objek wisata pantai ohoi (desa) Ohoidertawun dan Ohoider Atas, Kecamatan Kei Kecil, Sabtu  (26/10/2019).

Festival seni budaya dan promosi objek wisata tersebut merupakan agenda pariwisata tahunan yang dicanangkan pemerintah daerah sejak tahun 2016, dan tahun ini merupakan tahun keempat pelaksanaannya.

Berdasarkan pantauan ANTARA penutupan FPMK 2019 oleh Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun itu juga dimeriahkan dengan acara tarik tali (werwarat) yakni menangkap ikan secara tradisonal di Ohoi Ohoiel Kei Besar dan di Ohoi Danar, dihadiri pejabat Forkopimda, jajaran pimpinan OPD, BUMN/swasta, perbankan, komunitas pariwisata, warga masyarakat, serta wisatawan mancanegara.

Acara diakhiri dengan pelepasan lampion ke udara oleh jajaran Pemkab Malra dan warga desa.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dimana setiap puncak acara FPMK digelar di objek wisata Ngurbloat (pasir panjang) Malra, tahun ini objek wisata pantai Ohoidertawun menjadi pilihan tempat pelaksanaannya.

Puncak acara FPMK selain diisi serangkaian kegiatan yang menampilkan tarian-tarian adat yang diperagakan oleh kelompok sanggar maupun siswa-siswi.

Selain itu, dilangsungkan final lomba tarian adat dan lomba goyang meti Kei, serta panggung hiburan rakyat.

Bupati Malra, Muhamad Thaher Hanubun dalam arahannya menyatakan dipilihnya Ohoidertawun sebagai tempat penyelenggaraan puncak acara FPMK 2019 adalah karena desa itu menjadi catatan penting, di mana ketika konflik horisontal melanda hampir seluruh wilayah Maluku tahun 2009, daerah itu tetap terjaga dan masyarakatnya hidup berdampingan dengan rukun.

"Di wilayah Ohoidertawun, para raja, pimpinan TNI/Polri, menyatukan persepsi bahwa di Maluku Tenggara harus berhenti  berkonflik sehingga saya sengaja memilih tempat ini untuk mengingatkan kembali kehidupan masyarakat yang harus berdampingan dengan damai di tengah berbagai perbedaan yang ada," katanya.

Bupati juga berharap agar apa yang telah diberikan Tuhan kepada daerah ini dengan keindahan alamnya harus senantiasa dijaga, terutama dari sampah plastik.

Sementara itu, Wakil Bupati Malra Petrus Beruatwarin menyatakan FPMK tahun 2020 akan dilaksanakan dengan lebih meriah.

"Mudah-mudahan suasana ini kita bisa lebih tingkatkan lagi di tahun depan," katanya.

Ia menegaskan bahwa FPMK digelar untuk mengenalkan pesona daerah Malra untuk menarik wisatawan dan investor dalam maupun luar negeri.

Baca juga: Unpatti digandeng Dinas Perikanan kaji potensi kelautan Kei Besar

Baca juga: Biota Laut Maluku Tenggara Rusak Parah

Baca juga: Potensi Bahari-Sosbud Kei Besar digali melalui Ekspedisi Zooxanthellae


 

Pewarta: Shariva Alaidrus
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satu hektare hutan di Halmahera Tengah terbakar

Komentar