Artikel

Semangat perjuangan di koran kuno terbitan Borneo Barat

Oleh Nurul Hayat

Semangat perjuangan di koran kuno terbitan Borneo Barat

Sejumlah mahasiswa melihat fotokopi koran kuno yang ditampilkan dalam pameran koran langka di kantor LKBN Antara Biro Kalbar beberapa waktu lalu. (ANTARA/Nurul Hayat)

Pontianak (ANTARA) - Pernahkah anda membaca surat kabar atau koran kuno yang terbit sekitar 100 tahun yang lalu?

Tulisan dengan topik semangat perjuangan sangat kental dalam tampilan halaman depan sejumlah koran kuno dan langka, pada kurun waktu 1919-1927 yang pernah terbit di Borneo Barat (Kalimantan Barat).

Tak banyak yang tahu pada sekitar tahun 1919 hingga 1920-an, telah terbit sejumlah koran di Pontianak, ibu kota Borneo Barat (sebelum kemerdekaan RI).

Sedikitnya ada 12 koran pernah terbit pada masa awal pergerakan buruh di Indonesia dan semangat mewujudkan kemerdekaan Indonesia itu.

Koran pertama yang terbit bernama "Borneo Barat Bergerak". Surat kabar ini terbit 1 Oktober 1919.

Disusul surat kabar lainnya, yakni Halilintar, Soeara Borneo, Warta Borneo, Berani, Sinar Borneo, Kapoeas Bode, Oetoesan Borneo, Matahari Borneo, Borneo Barat, dan Borneo Shimbun.

Untuk diketahui, adanya bukti sejumlah koran pernah terbit di Pontianak pada masa pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, terungkap dari pameran koran langka oleh 41 komunitas di kota berjuluk "Khatulistiwa" itu.

Pameran digelar terkait peringatan 100 tahun koran langka dan hari jadi ke-248 Kota Pontianak, pada 23 Oktober 2019.

Potongan halaman depan koran langka berbentuk file Portable Document Format (PDF) diperoleh inisiator pameran Ahmad Sofian dari arsip koleksi surat kabar langka yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Pria yang akrab disapa Sofie itu berkeliling ke sejumlah tempat setelah beberapa tahun belakangan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber mengenai koran langka yang ada di Indonesia.

Setelah mendatangi sejumlah tempat dan bertemu beberapa tokoh yang memiliki pengetahuan mengenai koran-koran langka, akhirnya ia sampai ke suatu tempat, yakni arsip koran langka di Perpustakaan Nasional di Jakarta.

Penulis buku "Pontianak Heritage" itu mendapat fotokopi file arsip dari terbitan perdana koran-koran langka yang pernah diterbitkan di Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat (Borneo Barat).

Untuk mengenalkan kepada publik mengenai keberadaan surat kabar langka itu maka digelarlah pameran keliling yang melibatkan 41 komunitas. Pameran digelar pada beberapa tempat sejak 15 Oktober hingga 31 Oktober mendatang.

Menurut Ahmad Sofian, dalam pameran, selain menampilkan edisi perdana koran kuno, pihaknya juga memamerkan potongan halaman depan surat kabar "Borneo Barat Bergerak". Koran ini merupakan koran tertua yang terbit di Pontianak pada 1 Oktober 1919.

Kehadiran surat kabar "Borneo Barat Bergerak" menjadi penanda sejarah lahirnya koran pertama di Kalbar pada 100 tahun yang lalu.

Namun sayangnya, yang masih tersimpan sebagai bukti bahwa "Borneo Barat Bergerak" pernah terbit 100 tahun yang lalu dalam arsip koran langka Perpustakaan Nasional, hanyalah berupa potongan halaman depannya saja.

Baca juga: HUT Pontianak momentum baik tingkatkan kualitas SDM

Baca juga: Ribuan pelajar Pontianak disiapkan ikuti khataman Al Quran massal

Baca juga: Festival arakan pengantin sambut ulang tahun Pontianak ke-248



Ajakan semangat berjuang

Kira-kira, berita dan artikel apa sajakah yang pernah disajikan dalam lembar-lembar setiap koran kuno itu?

Di antaranya, ada artikel ajakan untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan Indonesia, semangat membela kaum buruh. Kemudian artikel mengenai perilaku atau sikap hidup manusia. Ada juga berita tentang kasus kejahatan, seperti pencabulan dan perjudian.

Kemudian juga ada tulisan mengenai aktivitas ekonomi atau perubahan kehidupan masyarakat kota, surat pembaca, dan beberapa iklan mobil serta produk minuman "soesoe entjer tjap Nonna" yang sudah ada sejak 1922.

Surat kabar "Warta Borneo" dengan penanggung jawab redaktur bernama Boullie misalnya, pada edisi 8 November 1924 (tahun pertama terbit) memiliki tagline atau slogan "Satoe boeat Semoea, - Semoea boeat Satoe." Koran ini terbit tiap hari Saptoe (Sabtu).

Halaman depan koran berisi artikel mengenai bermacam-macam sikap orang dalam pergaulan sehari-hari. Dengan judul "Sedikit Tjermin Perbandingan".

Masih pada halaman yang sama, terdapat artikel yang mengulas pernyataan yang selalu disampaikan pihak penjajah bangsa kulit putih berupa kalimat "Sabarlah dahoeloe".

Penulis artikel menjelaskan bahwa bangsa kulit putih (orang Eropa yang menguasai negara-negara jajahan), selalu menyampaikan kalimat 'sabarlah dahoeloe", terkait keinginan negara jajahan untuk merdeka.

Penulis menyatakan, baik di Philipina, British Indie (Hindoestan) dan Hindia Nederland, yang menginginkan kemerdekaan dari penguasaan bangsa kulit putih, selalu mendapatkan pernyataan "sabarlah dahoeloe".

"Bangsa koelit poetih roepanja kebanjakan ada pandai betoel mengeloearkan perkataan jang berboenji 'Sabarlah dahoeloe'. Akan menoenjoekan boektinja, baiklah kami terangkan kepada pembatja dari Warta Borneo...". Begitulah bunyi kalimat pembuka ulasannya.

Baca juga: Pameran koran langka Seratoes-248 Kalbar kenalkan sejarah

Baca juga: Puluhan komunitas gelar pameran koran langka di Pontianak


Kemudian surat kabar "Berani". Terbit setiap hari Saptoe (Sabtu). Edisi koran pada 18 Juli 1925, memiliki slogan "Barang siapa jang bentji pada kita, ialah moesoeh kita!".

Pada koran ini terdapat artikel berjudul "Kaoem boeroeh moesti berani!". Artikel berisi adanya upaya yang selalu dilakukan kaum kapitalis untuk menghalang-halangi kemajuan organisasi buruh di Indonesia.

Redaksi surat kabar "Berani" tampaknya mengutip artikel dari surat kabar lainnya "Soeara Tambang" yang diperkirakan terbit di Sumatera. Artikel itu mengajak kaum buruh untuk berani melawan kaum kapitalis.

Ada pula surat kabar mingguan "Halilintar" yang terbit Sabtu 14 Juli 1923. Surat kabar dengan penanggung jawab redaktur bernama SM Anwaar ini memiliki slogan "Siapa jang mengisap kita? Hai kaoem boeroeh seloeroeh doenia, koempoellah mendjadi satoe."

Halaman pertama surat kabar ini terdapat tulisan berjudul "Toedjoean kita Saudara2 sekalian!"

Artikel dibuka dengan kalimat mengandung rasa bangga "amat besar hati", karena koran dapat terbit di negeri ini, meski dalam kondisi negeri dan dunia saat itu (kurang perhatian) terhadap nasib buruh.

Nasib buruh diibaratkan sebagai sabut (kelapa) yang diayunkan gelombang dan terhempas kesana kemari.

Selain itu, ada juga surat kabar "Oetoesan Borneo" yang terbit dua kali dalam seminggu. Surat kabar ini diterbitkan dan dicetak oleh NV Boekh dan Drukkerij "Phin Min".

Pada salah satu edisi surat kabar yang terbit 31 Desember 1928, terdapat artikel mengenai tahun baru. Berjudul "Selamat datang tahoen 1928!".

Isi tulisan menceritakan kegiatan yang akan dilakukan bangsa Eropa dalam menyambut perayaan tahun baru. Dimana bangsa Eropa akan menghormati hari pergantian tahun itu dengan kegiatan-kegiatan kumpul bersama para muda mudi dan ibadah di gereja sebagai ungkapan syukur atas perlindungan Tuhan yang Maha Esa pada tahun yang telah dilalui.

Juga ada tulisan mengenai "Pemandangan di Pontianak. Bedanja dahoeloe dengan sekarang." Tulisan ini mengungkapkan kondisi kota Pontianak masa itu yang cenderung lebih maju dari tahun 1902.

Tulisan dimulai dengan membandingkan luas pulau Jawa dan Madura dengan pulau Borneo. Pulau Jawa dan Madura yang hanya 131.431 kilometer persegi (saat itu) sementara pulau Borneo mencapai 739.630 kilometer persegi.

Penulis artikel bernama si Anoe (diperkirakan nama inisial) menyatakan jika diambil perbandingan pulau tersebut, maka pulau Borneo ada sekitar 5 1/2 kali seluas pulau Jawa. Akan tetapi sungguhpun begitu, penduduk pulau Jawa ada 17 1/2 kali banyaknya dari penduduk pulau Borneo. Karena Borneo hanya mempunyai 2 million (juta) jiwa saja, sementara pulau Jawa sampai 35 million.

Jika ditulis ulang, artikel tersebut begini isinya;

Pontianak saat tahun 1902 pada kawasan yang disebut sebagai Boom (perintang pelabuhan) tempat kapal-kapal berlabuh, hanya ada satu jembatan dengan paling banyak dua kapal saja bisa merapat.

Disana juga terdapat satu gudang untuk penyimpanan barang-barang yang dibawa oleh kapal dari negeri-negeri lain. Semua barang disimpan dalam gudang untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Kapalnya pun hanya de Kock (bermuatan 500 ton) dan Merkus (600 ton) yang hanya satu kali dalam 10 hari mengunjungi sungai Kapuas dan berlabuh di Boom Pontianak.

Kemudian ada kapal dari Singapura Ban Fo Soon bermuatan 450 ton, Ban Hin Goan bermuatan 450 ton, dan Valentya bermuatan 300 ton. Kapal-kapal ini menjadi langganan bagi Boom Pontianak untuk mengangkut dan membawa barang dari Pontianak dan dari negeri-negeri lain. Kapal-kapal itu masuk ke pelabuhan Pontianak melalui kuala sebelah selatan, kira-kira 8 jam lamanya.

Perjalanan kapal dagang banyak yang berhubungan dengan Singapura, baik barang masuk maupun keluar, seperti kopra, getah jelutung, sahang (lada), pinang, rotan, damar, dan lain-lainnya. Barang ekspor tersebut datang dari tanah ulu (daerah hulu Kalbar) dan dibawa menggunakan bandong (kapal berbentuk rumah yang dijalankan dengan mesin penggerak) yang digandeng kapal api kecil dan kapal Hekwieler Kapoes kepunyaan KPM. Perjalanan kapal yang menyusuri sungai Landak, amat jauhnya. Sementara di sebelah Boom, terdapat pabrik minyak kelapa.

Artikel tersebut pada akhirnya terputus, karena tulisan yang ditampilkan dalam file PDF itu tidak terbaca, meski menggunakan kaca pembesar.

Menyitir pernyataan beberapa tokoh bahwa "surat kabar yang telah dibaca bisa saja berakhir di tempat sampah, namun 100 tahun kemudian menjadi dokumen sejarah yang penting."

Seperti yang pernah dilakukan tokoh pers BM Diah, ketika menemukan teks Proklamasi kemerdekaan RI tulisan tangan Soekarno. Ketika itu, tulisan tangan teks proklamasi telah dibuang ke tong sampah, namun kemudian dipungut BM Diah.

Tulisan tangan tersebut tersimpan rapi dalam buku catatannya dan baru diserahkan ke Pemerintah RI pada tahun 1992, dan kini menjadi bagian dari dokumen penting (bersejarah) bangsa Indonesia.

Penulis buku "Pontianak Heritage" sekaligus inisiator kegiatan pameran koran langka, Ahmad Sofian menyatakan pameran koran langka atau surat kabar lama yang disebut "Seratoes - 248", mengambil makna dua kejadian pada Oktober 2019 yang hanya akan terjadi satu kali.

Pertama, 100 tahun surat kabar pertama di Borneo Barat dan yang kedua 248 tahun hari jadi Pontianak.

"Surat kabar pertama di Kalbar adalah 'Borneo Barat Bergerak' yang terbit 1 Oktober 1919. Dan hari jadi Pontianak ditetapkan pada 23 Oktober 1771," katanya.

Pameran pertama digelar di kantor Perum LKBN Antara Biro Kalbar Jalan Johar No. 1, yang juga menjadi lokasi pembukaan pada 15 Oktober lalu.

Pameran berlanjut di kafe Daun Lebar di Jalan Sepakat 1, Warung Kopi BOS di Jalan M Sohor, dan berakhir di PMK Co-working Space di Jalan Wonoyoso pada 31 Oktober mendatang.

Dia mengharapkan melalui pameran, warga Pontianak mengetahui dua momentum sejarah yang besar. Sehingga sejarah pada masa lalu dipergunakan untuk mengembangkan masa depan.

Kegiatan itu tidak hanya sebuah nostalgia, namun juga membawa pesan untuk bersama-sama mengetahui, dan tak lupa akan sejarah penerbitan surat kabar. Serta potensi yang dimiliki oleh Pontianak dan Kalimantan Barat.

Sementara Kepala LKBN ANTARA Biro Kalbar Teguh Imam Wibowo menyatakan pameran juga sebagai bentuk pengetahuan bagi masyarakat ternyata di Kalbar sudah ada media cetak sejak 100 tahun yang lalu.

Selain mengenalkan kepada masyarakat tentang perkembangan jurnalistik masa penduduk Hindia Belanda di Kalbar, pameran juga menunjukkan bahwa Kalbar memiliki peran penting dalam perkembangan literasi di Indonesia.

Ia mengajak kalangan muda dan masyarakat umum untuk tahu perkembangan media cetak di Kalbar dan juga mengetahui sejarah media massa dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan di Tanah Air.

Seperti pernyataan Bung Karno dalam pidato terakhirnya saat HUT RI 17 Agustus 1966, "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah."*

Oleh Nurul Hayat
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar