International Corner

Kesalahan persepsi tantangan utama perluasan pasar Indonesia di Afrika

Kesalahan persepsi tantangan utama perluasan pasar Indonesia di Afrika

Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri RI Daniel Tumpal Simanjuntak menjelaskan mengenai diplomasi ekonomi Indonesia ke Afrika, saat berkunjung ke ruang redaksi ANTARA, Jakarta, Jumat (25/10/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) - Kesalahan persepsi mengenai Afrika dinilai masih menjadi tantangan utama perluasan pasar Indonesia di benua tersebut.

Menurut Direktur Afrika pada Kementerian Luar Negeri RI Daniel Tumpal Simanjuntak, Afrika selama ini belum menjadi tujuan investasi dan perdagangan yang menarik bagi pelaku usaha Indonesia, karena benua tersebut kerap diasosiasikan dengan berbagai persepsi buruk seperti keterbelakangan, konflik, dan kelaparan.

“Kita melihat Afrika seperti pandangan umum atau stereotip yang sudah tidak tepat,” kata Tumpal dalam sesi wawancara khusus di ruang redaksi ANTARA, Jakarta, akhir pekan lalu.

Baca juga: Menilik diplomasi ekonomi Indonesia ke arah Afrika

Padahal, lanjut dia, Afrika menyimpan potensi yang sangat besar ditunjukkan dengan riset Dana Moneter Internasional (IMF) yang memproyeksikan Afrika sebagai kawasan dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia pada 2020.

Pertumbuhan di masa depan kemungkinan akan didukung oleh sejumlah faktor termasuk tingkat urbanisasi yang paling cepat di dunia, dan pada 2034, populasi usia kerja Afrika diperkirakan akan lebih besar daripada China atau India.

“Dengan proyeksi pertumbuhan di atas 4 persen, penduduk lebih dari satu miliar, dan angkatan kerja yang besar, negara-negara besar berlomba-lomba bekerjasama dengan Afrika,” tutur Tumpal.

Karena itu, Kemlu berupaya memperbaiki persepsi yang salah mengenai Afrika dan lebih mendorong BUMN serta perusahaan swasta Indonesia untuk mulai menggarap pasar Afrika.
Baca juga: Raja Eswatini targetkan peningkatan kerja sama dengan Indonesia

Menurut Tumpal, saat ini terdapat sekitar 10 perusahaan Indonesia yang telah melakukan outbond investment di Afrika. Investasi perusahaan-perusahaan tersebut sebagian besar di bidang tekstil dan garmen, serta consumer goods.

Selain itu, Kemlu juga mendorong beberapa BUMN strategis seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Wijaya Karya (WIKA), PT Pertamina, PT INKA, dan PT LEN untuk ikut menjajaki kerja sama bidang infrastruktur di Afrika.

Baca juga: Mata diplomasi ekonomi Indonesia terus tertuju ke Afrika

Bagi perusahaan besar seperti PT Medco Energi Internasional, Bakrie Group, dan PT Pertamina, Afrika telah menjadi bagian dari ketahanan energi Indonesia dari akuisisi blok migas dan kesepakatan bisnis di benua tersebut.

“Yang perlu ditekankan ke depan, tentunya dengan semangat kemitraan dengan saudara-saudara kita di Afrika, bagaimana kita bisa lebih memiliki aset di sana,” kata Tumpal.

Selain itu, Indonesia juga mendorong negosiasi perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan sejumlah negara di Afrika untuk mengurangi hambatan tarif yang selama ini menjadi ganjalan dalam hubungan perdagangan dengan Afrika.
Baca juga: Empat strategi diplomasi ekonomi Indonesia di Afrika

Indonesia berhasil menandatangani konklusi negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Mozambik pada akhir Agustus 2019, yang dimulai dari kunjungan Menlu RI ke Mozambik pada Februari 2017.

Setelah Mozambik, Indonesia akan mulai menegosiasikan perjanjian perdagangan bebas dengan Tunisia, Mauritius, dan Djibouti.
Baca juga: KBRI adakan Misi Promosi Pariwisata Indonesia di Afrika Selatan
 

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kelanjutan dua forum ekonomi Indonesia dan Afrika

Komentar