Jambi (ANTARA News) - Pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota di Jambi sampai saat ini masih mengabaikan pembangunan lingkungan hidup. "Terbukti banyak bangunan di kawasan hijau dan bantaran sungai tidak jelas analisa mengenai dampak lingkungan (amdal-nya," kata mantan Direktur Eksekutif Walhi Jambi, Feri Irawan di Jambi, Kamis. Lalu pengembangan perkebunan kelapa sawit yang dinilai merusak lingkungan atau kelestarian lahan dan hutan masih terus dilakukan, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan masa yang akan datang. Feri mencontohkan, pembangunan pusat perbelanjaan di bantaran Sungai Batanghari Kota Jambi menunjukkan ketidakpedulian pemerintah daerah terhadap kelestarian sungai. Bangunan rumah dan toko (Ruko) di kawasan resapan air malah dibiarkan tumbuh kian menjamur, akibatnya ketika musim hujan daerah itu banjir. Perambahan hutan untuk perladangan, terutama di hutan produksi dan pembalakan liar sepertinya tidak tersentuh. Para pengusaha banyak menebangi kayu tanpa melakukan penanaman kembali atau konversi lahan yang dirusak. Ia menilai kelestarian lingkungan sebagai penopang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan masyarakat seharusnya harus sejalan. "Saya melihat para pimpinan daerah di Jambi ini tidak memiliki visi dan misi yang jauh ke depan, hanya melihat kepentingan sesaat untuk kepentingan sendiri dan kelompok," ujarnya.(*)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2008