Penyandang disabilitas bangun perusahaan rintisan Kopi Tuli

Penyandang disabilitas bangun perusahaan rintisan Kopi Tuli

Pendiri Kopi Tuli, Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso, dalam acara Akselerator Universitas Indonesia (UI) Works di Jakarta, Rabu (30/10/2019). (ANTARA/Indriani)

karena kami selalu ditolak karena penyandang disabilitas
Jakarta (ANTARA) - Sejumlah penyandang disabilitas tunarungu membangun perusahaan rintisan di bidang pangan, yakni Kopi Tuli atau Koptul.

"Perusahaan ini kami bangun, untuk menampung penyandang disabilitas seperti kami yang sulit mendapatkan pekerjaan karena penyandang disabilitas," ujar seorang pendiri Kopi Tuli,Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso, dalam acara Akselerator Universitas Indonesia (UI) Works di Jakarta, Rabu.

Putri yang merupakan lulusan desain komunikasi visual Universitas Binus itu, mengaku sudah mengirimkan lamaran ke setidaknya 500 perusahaan.

Namun, semua perusahaan itu tidak mau menerima dirinya, karena penyandang disabilitas dan perusahaan itu takut akan sulit berkomunikasi dengan dirinya.

Dengan menggunakan bahasa isyarat, Putri dan dua rekannya, yakni Mohammad Adhika Prakoso dan Tri Erwinsyah Putra, mendirikan Kopi Tuli.

"Kopi dipilih karena merupakan media komunikasi. Biasanya orang ngopi untuk berkomunikasi dengan lainnya," katanya.

Baca juga: DPPU UI minta perusahaan rintisan tidak terbebani masalah administrasi

Putri berharap, dengan Kopi Tuli yang didirikan pada 12 Mei 2018 itu, bisa menjembatani komunikasi bahasa isyarat dan membangun ruang interaksi serta memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas.

Hingga saat ini, sudah ada dua gerai Kopi Tuli di kawasan Duren Tiga, Jakarta dan Depok, Jawa Barat. Saat ini, Putri juga memperkerjakan sembilan tenaga kerja.

Putri mengaku mempunyai mimpi mendirikan 1.000 gerai kopi di Tanah Air atau dengan kata lain bisa mempekerjakan 4.000 penyandang disabilitas.

"Kopi Tuli merupakan jawaban kekecewaan kami, karena kami selalu ditolak karena penyandang disabilitas. Saya mengirimkan lamar pada 200 perusahaan dan semuanya ditolak," kata pendiri lainnya, Adhika.

Adhika berharap, dalam acara tersebut bisa mendapatkan investor untuk mendirikan empat kedai kopi dengan modal Rp2 miliar. Biaya untuk satu kedai kopi Rp500 juta.

Baca juga: Perusahaan rintisan sulit mendapatkan investor

Kopi yang dijual di Kopi Tuli seharga Rp18.000 hingga Rp20.000 per cangkir.

Ke depan, Adhika berharap, bisa membangun lebih banyak gerai dan mencetak tenaga kerja terampil melalui gerai kopi itu.

Kopi Tuli merupakan salah satu peserta Program Akselerator UI Works. Program yang mempertemukan perusahaan rintisan dan pemilik modal itu, terdiri atas serangkaian acara pembinaan akselerasi bisnis perusahaan rintisan yang berlangsung selama tiga bulan. Progam itu merupakan lanjutan dari program inkubasi yang telah dijalankan di UI.

Pada tahun ini, terdapat 15 perusahaan rintisan yang mengikuti program tersebut. Perusahaan rintisan mendapatkan pembinaan,

Melalui program itu, diharapkan menciptakan suatu ekosistem perusahaan rintisan sehingga mampu mengakomodasi perkembangan kewirausahaan yang berkembang dengan cepat.

Baca juga: UI - Gojek kerja sama dukung program akselerator UI works
Baca juga: Melawan diskriminasi lewat kopi

 

Pewarta: Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden instruksikan pembangunan pusat data nasional

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar