Boeing dinilai harus lampirkan kewajiban pelatihan pilot pesawat Max

Boeing dinilai harus lampirkan kewajiban pelatihan pilot pesawat Max

Pengamat penerbangan CommunicAvia Gerry Soejatman (ANTARA/ Juwita Trisna Rahayu)

Mau enggak mau harus ada penambahan butir ‘training’ karena sudah tidak bisa disembunyikan, semua orang sudah tahu, semua pilot sudah tahu ada MCAS, wajar pilot menanyakan mana trainingnya karena bawa nyawa mereka dan nyawa orang
Jakarta (ANTARA) - Pengamat penerbangan CommunicAvia Gerry Soejatman menilai Boeing harus melampirkan ketentuan pelatihan bagi pilot yang akan mengoperasikan pesawat Boeing 737 Max 8 setelah diperbaiki sistemnya.

Gerry saat ditemui di Jakarta, Rabu, lmenjelaskan sistem yang dimaksud adalah Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) sebagai alat baru yang dimasukkan ke dalam sistem Boeing Max 8 dan yang menjadi salah satu faktor berkontribusi terhadap kecelakaan pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8.

“Mau enggak mau harus ada penambahan butir ‘training’ karena sudah tidak bisa disembunyikan, semua orang sudah tahu, semua pilot sudah tahu ada MCAS, wajar pilot menanyakan mana trainingnya karena bawa nyawa mereka dan nyawa orang,” katanya.

Dia menuturkan apabila perusahaan menufaktur mengeluarkan jenis pesawat baru dengan alat yang baru, maka harus diikuti dengan pelatihan pilot untuk mempelajari dan menguasai alat itu saat terbang.

Namun, Boeing luput memasukkan terkait MCAS itu ke dalam buku manual, sehingga saat pilot JT 610 mencari-cari cara untuk menghentikannya, justru tidak menemukannya dalam buku tersebut.

“Saking putus asanya Boeing ingin memperlihatkan pesawat ini sama, hal itu (MCAS) dikesampingkan,” katanya.

Gerry menilai sudah menjadi kewajiban bagi Boeing untuk menambah dua sensor “angle of attack” yang menjadi bagian dari MCAS itu karena sebelumnya hanya dipasang satu sensor dan sangat tidak stabil (noisy).

MCAS adalah alat otomatis untuk mencegah terjadinya “stall” dalam penerbangan. Stall adalah keadaan di mana adanya ketidakseimbangan antara tekanan udara di atas dan di bawah sayap yang menyebabkan hilangnya daya angkat.

“Enggak ada jalan lain, Boeing harus pakai dua sensor AoA seperti yang dijanjikan, mereka berhutang ke semua pihak, ke konsumen, ke penumpang, dan ke masyarakat,” katanya.

Dia menjelaskan AoA yang sebelumnya dipasang tidak stabil, angkanya selalu bergerak naik-turun, jadi harus dipasang dua sensor dan baru bisa dinyatakan pesawat itu akan stall saat kedua sensornya menyala dan hanya satu kali.

“Kemarin itu berkali-kali menyala, sehingga mendorong pesawat untuk menukik terus dan stall,” katanya.

Gerry memperkirakan butuh waktu enam bulan hingga satu tahun bagi Boeing Max untuk terbang lagi saat sistem tersebut benar-benar dipastikan sudah berfungsi dan laik.

Untuk itu, lanjut dia, diperlukan pengawasan baik dari otoritas Amerika Serikat, yakni Federal Aviation Administration (FAA) dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan untuk memastikan pesawat tersebut benar-benar laik.

Baca juga: Parlemen AS kembali panggil petinggi Boeing terkait tragedi 737 MAX

Baca juga: CEO Boeing datangi KBRI Washington terkait korban 737 MAX

Baca juga: Boeing minta maaf pada keluarga korban Lion AirJT 610

 

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

DPR dan Menhub bahas laporan akhir kecelakaan Lion Air

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar