Delapan anak pecandu gawai dirawat di RS Jiwa Semarang

Delapan anak  pecandu gawai dirawat di RS Jiwa Semarang

Petugas medis memeriksa kesehatan seorang pemuda berinisial BS (kanan) yang menjalani perawatan terapi di rehabilitasi gangguan jiwa Yayasan Jamrud di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (18/10/2019). ANTARA FOTO/Risky Andrianto/wsj.

Semarang (ANTARA) - Delapan anak berusia antara 7-15 tahun terpaksa harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondohutomo, Kota Semarang, Jawa Tengah, karena terindikasi kecanduan gawai.

"Kebanyakan kecanduan gawai karena gim daring (game online)," kata Psikolog Klinis RSJD Amino Gondohutomo Sri Mulyani di Semarang, Kamis.

Ia mengungkapkan kedelapan anak yang masih duduk di kelas 4 SD hingga SMP itu harus dirawat dan menjalani terapi karena kondisi kejiwaannya yang marah ketika gawai diambil atau sudah tidak bisa diajak komunikasi karena sibuk dengan gawainya.

Beberapa ciri umum kecanduan gawai pada anak antara lain, lupa belajar, lupa mengerjakan pekerjaan rumah (PR), bangun selalu kesiangan, sering membolos sekolah, kemudian tidak mau lepas dari gawai, dan marah ketika gawai diambil.

"Mengganggu aktifitas sehari-hari, kalau sudah sampai adiksi (candu) harus segera diobati. Kondisinya sudah tidak bisa diberitahu, mau tidak mau harus dengan obat untuk menenangkan," ujarnya.

Baca juga: Kecanduan gim HP, dua remaja Bekasi alami gangguan jiwa

Baca juga: KPAI: Orang tua harus atasi kecanduan gawai

Baca juga: Mengatasi kecanduan gadget pada anak


 

Selain obat, kata dia, ada terapi perilaku dan pemeriksaan kondisi selama 21 hari.

Menurut Sri, jika orang tua melihat perilaku anak sudah mulai menunjukkan kecanduan gawai, maka langkah awal yang bisa dilakukan adalah membawa ke psikiater terlebih dulu.

"Penanganan harusnya ke psikiater, dokter jiwa, ada obat-obatan agar anak tenang. Setelah kondisi baik maka dilakukan terapi psikologis," katanya.

Ia menyebutkan permasalahan kecanduan gawai pada anak banyak terjadi, namun orang tua ada yang masih berpikiran RSJ untuk orang gila atau gangguan jiwa akut saja. Padahal jika anak sudah menunjukkan kecanduan gawai, harus dibawa ke dokter jiwa atau psikiater agar tidak semakin parah.

"Banyak orang tua tidak menyadari anak ketergantungan gawai, apalagi harus datang ke RSJ. Stigmanya masih gitu," ujarnya.*

Pewarta: Wisnu Adhi Nugroho
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemkot Bandung mulai bagikan 2.000 ekor anak ayam

Komentar