Wakil Ketua MPR: Fasilitas wisata pulau Bawean perlu pembenahan

Wakil Ketua MPR: Fasilitas wisata pulau Bawean perlu pembenahan

Seorang laki-laki memegangi tangan anak kecil yang ingin menyeberang ke perahu motor cepat (speedboat) di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik Jawa Timur, Kamis (31/10/2019). Pulau Bawean terletak 120 kilometer di sebelah utara Kabupaten Gresik dengan jarak tempuh dengan perahu motor cepat memakan waktu 3 jam 45 menit. ANTARA/ Abdu Faisal

..turis ketika pertama kali melihat pulau ini merasa kagum..
Gresik (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengatakan kalau fasilitas tempat wisata di pulau Bawean kurang memadai untuk menarik perhatian para turis mancanegara sehingga perlu dilakukan pembenahan.

"Misalnya layanan hotel atau keterampilan pemandu wisata, atau paket-paket wisata, itu akan saya dorong," ujar Jazilul di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Kamis.

Jazilul mengingatkan bahwa pulau Bawean telah didatangi banyak wisatawan sejak tahun 2018, ketika pulau Bawean menjadi salah satu tempat yang disinggahi dalam penyelenggaraan Wonderful Sail Indonesia.

"Alhamdulillah kami sampaikan, turis ketika pertama kali melihat pulau ini merasa kagum sehingga untuk tahun berikutnya akan dilakukan lagi (acara tersebut)," ujar Jazilul.
Baca juga: Masyarakat Bawean antusias sambut "Wonderful Sail to Indonesia"

Kendati telah banyak didatangi turis, tetapi kebanyakan turis tersebut merupakan turis domestik. "Mereka datang dari Surabaya dan berbagai kota di Indonesia," kata dia.

Sementara itu, Jazilul yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa itu menyebut ada sejumlah pembenahan yang perlu dilakukan pemerintah Kabupaten Gresik untuk meningkatkan kunjungan Pariwisata Bawean.

Dia mengatakan kalau masyarakat di Bawean masih belum terbiasa dengan busana dan jenis makanan asing yang disukai turis asing sehingga kebanyakan wisatawan yang datang ke Bawean masih turis domestik.

"Tantangannya itu pada budaya masyarakat Bawean. Kan di sini itu hampir seratus persen santri, kadang ada yang sensitif menyangkut busana, makanan, dan cara berpakaian," ujar Jazilul.
Baca juga: Wakil Ketua MPR: Pendekar silat Bawean Pengawal Islam dan Pancasila

Bawean juga disebut belum memiliki lounge atau balai pertemuan untuk melaksanakan sejumlah agenda penting kenegaraan, sehingga Bawean jarang mendapat kunjungan dari tamu-tamu negara.

"Saya juga bingung mengajak teman-teman pejabat berkunjung ke Bawean, karena belum ada lounge dan hotel terbatas. Satu-satunya yang pernah berkunjung kemari itu paling pak Ignasius Jonan (mantan Menteri ESDM)," katanya.

Selain itu, kondisi landasan pacu (runway) di Lapangan Terbang Perintis Harun Thohir juga dinilai kurang panjang.

"Runway-nya hanya 937 meter, sehingga yang digunakan saat ini hanya (maskapai) Susi Air," ujar Jazilul.
Baca juga: Penyeberangan ke Pulau Bawean mulai normal

Menurut Jazilul, kunci perbaikan transportasi di Bawean adalah dengan menambah panjang landasan itu sehingga bisa dilalui pesawat bertipe ATR 72 yang berukuran sedang ataupun ATR 42 yang berukuran lebih kecil.

"Untuk jenis ATR 72 itu butuh sekitar 1.800 atau (ATR 42) 1.400 meter. Sekarang yang baru ada baru 937 meter. Di lahan itu, ada tersisa sekitar 300 meter, kalau itu di-press (dapat) 1600 meter. Ke Timur pantai, ke Barat juga, jadi perpanjangan menjadi sulit. Kecuali harus mereklamasi," kata Jazilul.
Baca juga: Wakil Ketua MPR lakukan kunjungan satu hari ke Pulau Bawean
Baca juga: Biolaska eksplorasi biodiversitas Bawean

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wapres: Airlangga dan Bamsoet harus bersatu

Komentar