Wayang orang "Sang Sukrasana" ceritakan kekuatan rakyat dan kekuasaan

Wayang orang "Sang Sukrasana" ceritakan kekuatan rakyat dan kekuasaan

Penyelenggara dan para pemain "Sang Sukrasana" berfoto bersama usai konferensi pers yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Kamis (31/10/2019). (ANTARA/Dea N Zhafira)

Jakarta (ANTARA) - Menyambut Hari Wayang Nasional yang jatuh pada 7 November, pagelaran wayang orang berjudul "Sang Sukrasana" siap digelar pada sepuluh hari setelahnya, yakni 17 November mendatang.

Pentas ini bercerita tentang kekuatan rakyat dan ambisi untuk berkuasa yang diwakili sosok Sukrasana dan Sumantri sebagai kakaknya.

"Pagelaran ini adalah persembahan karya visual dari generasi muda bangsa Indonesia dengan bimbingan para senior yang memahami pakem Jawa klasik dan berbudi luhur layaknya seluruh cerita di pewayangan," kata penggagas ide karya "Sang Sukrasana" Jaya Suprana di Jakarta, Kamis.

Menurut Jaya, pentas wayang orang merupakan salah satu media yang bukan hanya menyajikan tontonan menarik dan kental dengan budaya bangsa, namun juga dapat menjadi tuntunan bagi para penikmatnya.

"Wayang merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan. Penonton tak hanya mendapat tontonan, tapi juga tuntunan ketika menyaksikan," ujarnya.

Baca juga: Wayang orang kembali tampil di Jerman setelah 30 tahun

Baca juga: Wayang Orang akan berkeliling di pinggiran Jerman

 
(Ki-ka) Asmara Abigail, Lukman Sardi, Ruth Marini, Maudy Koesnaedi, dan Kenthus Amprianto dalam konferensi pers "Sang Sukrasana" di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Kamis (31/10/2019). (ANTARA/Dea N Zhafira)


Pagelaran wayang orang "Sang Sukrasana" ini berfokus pada tokoh pewayangan asli Indonesia, Sukrasana, yang merupakan adik dari tokoh Sumantri. Kisah mereka terjadi jauh sebelum adanya Mahabharata.

Sukrasana (Lukman Sardi) dikisahkan sebagai rakyat tanpa jabatan apapun, memiliki wajah menyeramkan dan buruk rupa, namun memiliki kekuatan yang luar biasa. Sedangkan sang kakak, Sumantri, adalah ksatria yang ambisius dan tampan rupawan.

Baca juga: Ribuan wayang kapi-kapi beraksi di Tugu Yogyakarta

Baca juga: British Museum tampilkan koleksi topeng dan wayang milik Raffles


Sukrasana sangat menyayangi dan membantu sang kakak tanpa pamrih. Sayangnya, perjuangannya berakhir tragis karena dikhianati oleh ambisi.

Lebih lanjut, Jaya mengatakan bahwa kisah ini terinspirasi dari situasi negara yang digambarkan tengah berebut kekuasaan tapi melalaikan kepentingan rakyat kecil.

"Rakyat diperankan sebagai Sukrasana yang kuat, padahal dia tidak punya jabatan, tidak pumya apapun, hanya semangat pengabdian dan pengorbanan. Ini kisah yang mengharukan," kata Jaya.

"Keinginan saya agar pagelaran ini akan mengangkat harkat dan martabat rakyat sebagai sukma bangsa. Karena kalau rakyat tidak ada, maka penguasa pun tak ada, negara juga tak ada," lanjutnya.

Sementara itu, pagelaran ini juga turut dibintangi oleh Maudy Koesnaedi, Asmara Abigail, Ruth Marini, Kenthus Amprianto, Inayah Wahid, hingga Tina Toon.

Pertunjukan wayang orang ini akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 17 November pukul 16.00 WIB.

Baca juga: Wayang Kulit, Legong Lasem meriahkan festival Indonesia-Japan di Osaka

Baca juga: Gede Suarsa dari Buleleng ciptakan sedotan bambu bergambar wayang

Baca juga: Seni lukis wayang kaca Buleleng diusulkan jadi warisan budaya nasional

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dubes RI untuk Rusia raih penghargaan MURI

Komentar