BPBD: Pembentukan sekolah aman bencana dilakukan bertahap

BPBD: Pembentukan sekolah aman bencana dilakukan bertahap

Pelajar berlarian meninggalkan kompleks sekolah menuju tempat yang lebih aman saat mengikuti simulasi evakuasi mandiri bencana gempa dan gelombang tsunami di SMPN 1 Baitussalam, Aceh Besar, Aceh, Selasa (8/10/2019). (ANTARA/IRWANSYAH PUTRA)

Rejang Lebong (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menyebutkan pembentukan sekolah aman bencana di daerah itu dilakukan secara bertahap.

Kepala BPBD Rejang Lebong, Basuki, Kamis mengatakan pembentukan sekolah aman bencana ini dilakukan secara bertahap karena terbatasnya anggaran yang mereka miliki.

"Saat ini sudah ada lima sekolah aman bencana dan untuk tahun depan akan kita dirikan satu sekolah lagi, pembentukannya dilakukan secara bertahap karena anggarannya terbatas," ujar dia.

Sekolah yang akan dijadikan sekolah aman bencana tersebut tambah dia, nantinya akan dipilih, terutama sekolah yang berisiko terkena bencana baik tingkat SD/madrasah, SMP maupun SMA sederajat.

Baca juga: BNPB: Perkuat Program Sekolah Aman Bencana di Sumbar

Dijelaskannya program pembentukan sekolah aman bencana ini bertujuan membentuk sekolah tangguh terhadap bencana, yang dimulai dari sosialisasi, pembuatan kajian risiko bencana, pembuatan peta sekolah dan jalur evakuasi, pembuatan SOP, pelatihan pertolongan pertama dan kebencanaan lainnya, maupun pelaksanaan gladi dan simulasi.

Sementara itu, selain akan mendirikan sekolah aman bencana tambahan BPBD Rejang Lebong pada 2020 nanti, juga akan membentuk desa tangguh bencana di satu desa sehingga totalnya menjadi 12 desa.

"Tahun depan akan kita tambah satu desa lagi sehingga nantinya desa tangguh bencana yang ada di Rejang Lebong menjadi 12 desa. Pembentukannya di 156 desa dan kelurahan di Rejang Lebong dilakukan secara bertahap," tambah dia.

Program pembentukan desa tangguh bencana itu sendiri dimulai sejak 2013 lalu tersebar dalam beberapa wilayah yang masuk dalam zona rawan bencana, dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat di desa tindakan yang bisa dilakukan jika sewaktu-waktu di desa mereka terjadi bencana alam.

"Dengan adanya pengetahuan yang di miliki masyarakat sehingga mereka ini nantinya bisa melakukan evakuasi atau minimal bisa menyelamatkan diri mereka sendiri sebelum tim evakuasi datang, setiap desanya terdapat 30 orang relawan bencana," urainya.

Baca juga: BPBD Rejang Lebong bentuk sekolah aman bencana

Baca juga: Sleman kukuhkan 30 satuan pendidikan aman bencana

Pewarta: Nur Muhamad
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar