Dinkes: Waspadai leptospirosis saat pancaroba selain DB di Yogyakarta

Dinkes: Waspadai leptospirosis saat pancaroba selain DB di Yogyakarta

Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Yudirian Amelia (kiri) saat menjelaskan potensi penyakit musim pancaroba, seperti leptospirosis dan demam berdarah. ANTARA/Eka Arifa Rusqiyati/am.

Bakteri leptospira bisa masuk melalui luka di tubuh meskipun hanya kecil sehingga cenderung disepelekan. Misalnya luka karena menggunting kuku, atau luka lecet di kulit
Yogyakarta (ANTARA) - Selain potensi merebaknya penularan demam berdarah (DB), selama musim pancaroba hingga musim hujan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman penyakit leptospirosis yang disebarkan melalui kencing tikus.

“Penyakit ini tidak hanya berpotensi muncul di wilayah yang berada di sepanjang bantaran sungai, tetapi merata di seluruh wilayah Kota Yogyakarta. Dengan demikian, kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis juga harus ditingkatkan,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Yudiria Amelia di Yogyakarta, Jumat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, hingga saat ini sudah tercatat 21 kasus leptospirosis sepanjang 2019 dan tidak ada satu pasien pun yang meninggal dunia. Jumlah tersebut meningkat signifikan jika dibanding 2018 dengan 13 kasus dan satu pasien meninggal dunia.

Penderita leptospirosis tersebar di beberapa wilayah seperi Kuncen, Pringgokusuman, Sorosutan, Purwokinanti, Ngampilan, dan Pandeyan.

Ia mengatakan, salah satu aktivitas yang bisa menjadi awal penularan leptospirosis adalah membersihkan selokan yang dilakukan tanpa perlindungan diri yang cukup seperti alas kaki dan pelindung tangan.

“Bakteri leptospira bisa masuk melalui luka di tubuh meskipun hanya kecil sehingga cenderung disepelekan. Misalnya luka karena menggunting kuku, atau luka lecet di kulit. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri sangat disarankan jika melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan,” katanya.

Selain penggunaan alat pelindung diri, Yudiria mengatakan, kecepatan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan jika mengalami gejala awal leptospirosis juga sangat penting dilakukan sehingga penanganan penyakit bisa dilakukan lebih cepat.

“Karena penyakit ini disebabkan bakteri, maka pemberian antibiotik sebenarnya cukup jika pasien bisa ditangani lebih cepat,” katanya.

Hanya saja, lanjut dia, masyarakat biasanya tidak memperhatikan gejala awal dan hanya menganggap penyakit yang dialaminya adalah demam biasa. “Seharusnya, jika mengalami demam tinggi segera memeriksakan diri ke puskesmas,” katanya.

Sedangkan untuk demam berdarah (DB) hingga saat ini sudah tercatat 455 kasus atau mengalami kenaikan dibanding 2018 dengan 413 kasus hingga akhir tahun.

“Kasus demam berdarah biasanya mulai mengalami kenaikan saat musim pancaroba dan puncaknya pada Mei, baru kemudian turun lagi,” katanya.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu mengatakan, penyebaran penyakit DB terbanyak di antaranya berada di Kelurahan Prenggan, dan Sorosutan.

“Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk harus terus digiatkan, selain penerapan pola hidup bersih dan sehat, serta menjaga pola makan,” katanya yang menyebut ban bekas kerap menjadi sarang nyamuk karena genangan air di dalamnya sulit dibersihkan.


Baca juga: Dinkes DIY: satu orang meninggal terkena leptospirosis, 50 suspect

Baca juga: Swedia tertarik pelajari DB di Yogyakarta

Baca juga: Yogyakarta siagakan tim reaksi cepat jelang pancaroba

Baca juga: Hadapi DBD Musim Pancaroba, Dinkes DIY Siapkan Satu Ton Abate


Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sejumlah daerah di Sulteng waspada bencana

Komentar