Ekspor Sumbar terus meningkat dalam empat bulan terakhir

Ekspor Sumbar terus meningkat dalam empat bulan terakhir

Petugas Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Padang memeriksa ikan tuna yang baru dibongkar dari kapal untuk diekspor ke Jepang dan Amerika Serikat (Antara/Iggoy El Fitra)

secara akumulatif sejak Januari hingga September 2019 ekspor Sumbar sudah mencapai 961,59 juta dolar AS.
Padang, (ANTARA) - Badan Pusat Statistik Sumatera Barat mencatat ekspor di provinsi itu mengalami peningkatan dalam empat bulan terakhir.

"Pada September 2019 ekspor Sumbar mencapai 138,12 juta dolar AS atau naik 26,68 persen dibandingkan Agustus 2019 yang hanya 109,03 juta dolar AS," kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Sabtu.

Sementara pada pada Agustus 2019 ekspor Sumbar mencapai 109,03 juta dolar AS atau naik 3,57 persen dibandingkan Juli 2019 yang mencapai 105,27 juta dolar AS.

Kemudian pada Juli 2019 ekspor Sumbar mencapai 105,27 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 1,06 persen dibandingkan Juni 2019 yang mencapai 104,17 juta dolar AS.

Selanjutnya pada Juni 2019 mencapai 104,17 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 3,72 persen dibandingkan Mei 2019 yang mencapai 100,43 juta dolar AS.

Baca juga: Presiden arahkan pemerintah fokus investasi dan produk ekspor

Menurut Sukardi secara akumulatif sejak Januari hingga September 2019 ekspor Sumbar sudah mencapai 961,59 juta dolar AS.

Pada September 2019 golongan yang paling banyak diekspor adalah lemak dan minyak hewan nabati sebesar 100,14 juta dolar AS dan golongan karet dan barang dari karet 22,79 juta dolar AS.

Sebaliknya pada September 2019 nilai impor Sumbar mencapai 18,02 juta dolar AS atau terjadi penurunan sebesar 67,81 persen dibandingkan Agustus 2019.

Golongan barang paling banyak diimpor pada September 2019 yaitu bahan bakar mineral 14,01 juta dolar AS, pupuk 0,99 juta dolar AS serta mesin dan peralatan listrik 0,87 dolar AS.

Sebelumnya sebanyak 22,8 ribu ton produk sawit dan turunan asal Sumatera Barat diekspor ke Cina dan Jepang.

Komoditas yang diekspor berupa minyak sawit berupa RBD sebanyak 4 ribu ton, CPO sebanyak 7,8 ribu ton dengan tujuan Cina dan produk sampingan berupa cangkang sebanyak 11 ribu ton ke Jepang.

Baca juga: Silo Gunung di Padang resmi berstatus warisan budaya dunia UNESCO 

Kepala Karantina Pertanian Padang Eka Darnida Yanto menyebutkan selain produk turunan sawit juga diekspor produk pertanian lain asal Sumbar.

Total nilainya mencapai Rp212,8 miliar terdiri dari lempeng karet sebanyak 604,8 ton, biji kopi sebanyak 18 ton, kayu manis sebanyak 95 ton dan produk turunan kelapa yang terdiri dari santan 83,8 ton, kelapa parut 25 ton dan air kelapa sebanyak 71,2 ton.

Negara tujuan ekspor antara lain Belanda, Spanyol, Norwegia, Cina, Banglades dan Jerman.

Eka menyampaikan ekspor cangkang sawit mengalami peningkatan sebesar 28 persen hingga Agustus 2019 .

Total ekspor di 2018 sebanyak 404,8 ribu ton sementara hingga minggu kedua Agustus 2019 ekspor cangkang sawit telah telah mencapai 344,4 ribu ton, ujarnya jelas Eka.

Sejalan dengan itu Bank Indonesia mengeluarkan sejumlah rekomendasi yang perlu dilakukan pemangku kepentingan terkait untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat memasuki kuartal ke II 2019 termasuk soal ekspor.

Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama menilai perlu diinisiasi even penghargaan bagi pengusaha di Sumbar yang berinvestasi dan melakukan ekspor terbesar untuk memotivasi pengusaga meningkatkan investasi dan ekspor.

***1***

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pandemi tak pengaruhi ekspor ikan tuna olahan di Sumbar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar