Jaktim duduki peringkat tertinggi balita kerdil se-DKI

Jaktim duduki peringkat tertinggi balita kerdil se-DKI

Puskesmas Kramatjati menggelar kelas Siap Bersalin Bahagia (SBB) sebagai program peningkatan kesehatan ibu hamil. Kegiatan tersebut sekaligus menindaklanjuti pengentasan balita stunting. (ANTARA/HO-Puskesmas Kramatjati)

Jakarta (ANTARA) -
Wilayah Jakarta Timur tercatat sebagai kawasan perkotaan dengan jumlah balita stunting atau kekerdilan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta pada 2019.
 
Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada Mei 2019, Senin, terdapat dua kategori balita kerdil, di antaranya sangat pendek total 15.657 anak balita dan pendek sebanyak 19.122 anak balita.
 
Wilayah Jakarta Timur menduduki posisi tertinggi balita kerdil dengan kategori sangat pendek 4.857 anak balita dan pendek sebanyak 5.628 anak balita.
 
"Stunting dikarenakan adanya ketidaksesuaian panjang badan berdasarkan umur dan gangguan inteligensi anak," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Indra Setiawan.
 
Menurut dia, terdapat tiga alasan wilayahnya ditetapkan sebagai lokus atau genetika stunting tertinggi di Jakarta, yakni wilayah dengan populasi penduduk terbanyak di DKI, jumlah masyarakat miskin yang tinggi serta adanya kesenjangan pada panjang badan dan umur.
 
"Kalau lihat data nasional, DKI sebenarnya jauh di bawah rata-rata nasional, kalau tidak salah, hanya berkisar 13,7 persen dari populasi nasional," katanya.

Baca juga: Anies: Seharusnya Jakarta tidak ada lagi anak yang "stunting"
Baca juga: LIPI sebut konsumsi teripang bisa atasi "stunting"
 
Indra menyebutkan, Jakarta Timur dan Kepulauan Seribu tengah disasar menjadi kawasan lokus intervensi stunting pada 2020 untuk menekan jumlah keturunan yang mengalami stunting.
 
"Sepekan lalu kami ada pertemuan dengan masyarakat lintas profesi di Jakarta Timur. Pak Wali Kota ingin masalah ini jadi cambuk untuk kita agar kasus stunting di Jaktim bisa ditekan sampai nol," katanya.
 
Kasus stunting, kata Indra, dipicu oleh kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat yang masih minim.
 
Untuk itu, pihaknya tengah mengintensifkan upaya preventif dengan memberikan edukasi pola hidup sehat kepada masyarakat.
 
"Kita tarik dulu ke belakang, bagaimana menangani hidup sehat remaja putri, mempersiapkan remaja sebelum disunting sebagai istri, sampai melahirkan," katanya.
 
Bahkan hingga remaja putri tersebut memiliki bayi berusia dua tahun, akan diberikan bimbingan untuk mengantisipasi stunting.
 
"Faktor itu yang akan kita fokuskan agar stunting di Jaktim bisa nol," katanya.
 
Berikut data yang dirilis Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenai atau kekurangan gizi kronis dan kekerdilan pada anak balita di DKI Jakarta.
 
Kategori sangat pendek
- Jakarta Pusat 745 anak balita
- Jakarta utara 2.279 anak balita
- Jakarta Barat 3.671 anak balita
- Jakarta Selatan 4.052 anak balita
- Jakarta Timur 4.857 anak balita
- Kepulauan Seribu 53 anak balita
Total 15.657 anak balita
 
Kategori pendek
- Jakarta Pusat 967 anak balita
- Jakarta utara 3.207 anak balita
- Jakarta Barat 4.158 anak balita
- Jakarta Selatan 4.859 anak balita
- Jakarta Timur 5.628 anak balita
- Kepulauan Seribu 303 anak balita
Total 19.122 anak balita.
 
Perkembangan penurunan stunting
- 2013: 27,5 persen dari total jumlah anak balita usia 0-59 bulan
- 2018: 17,7 persen dari total jumlah anak balita usia 0-59 bulan
- 2023: 7,7 persen dari total jumlah anak balita usia 0-59 bulan.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Angka stunting turun di Kabupaten Pandeglang

Komentar