Pelaku industri perkebunan pertahankan kelestarian spesies endemik

Pelaku industri perkebunan pertahankan kelestarian spesies endemik

Seekor Julang Sulawesi (Aceros cassidix) atau burung rangkong terbang di antara pepohonan di kawasan hutan lindung Gunung Wolasi, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Kamis (6/12/2018). Rangkong Sulawesi merupakan spesies endemik yang memiliki sebaran terbatas dan tergolong kritis akibat maraknya perburuan serta terganggu habitat alaminya di hutan. ANTARA FOTO/Jojon/aa.

Bogor (ANTARA) - Kepala Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Joeni Setijo Rahajoe mendorong para pelaku industri pertanian dan perkebunan untuk mempertahankan kelestarian spesies endemik di wilayahnya.

"Spesies endemik di lokasi daerah yang dikelola perusahaan perlu dipertahankan," kata Joeni kepada wartawan di sela-sela Seminar Pengelolaan Keanekaraman Hayati Indonesia Mendukung Revolusi Industri 4.0 dan Sustainable Development Goals (SDGs) di Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Seminar itu dilakukan dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang diperingati setiap 5 November. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan.

Joeni mendorong penanaman bijak dan pemulihan tanah untuk upaya konservasi keanekaragaman hayati di wilayah pertanian dan perkebunan. Penanaman bijak dapat dilakukan seperti agroforestry komunitas dayak yang melakukan pergantian tanaman tiap tahun sehingga tidak hanya pertanaman tunggal atau monokultur.

Dia mengatakan saat perusahaan melakukan reklamasi lahan, maka harus diperhatikan jenis tanaman yang ditanam, yang sebaiknya juga menanam tanaman endemik wilayah setempat sehingga tidak asal menghijaukan sebagian area dari wilayah kelolanya.

Dia mengharapkan perusahaan menanam jenis lokal sehingga turut berupaya dalam pelestarian keanekaragaman hayati.

"Selama ini lebih banyak didatangkan dari luar karena asal hijau, dan kondisi tanah tidak diperbaiki," ujarnya.

Dalam upaya reklamasi lahan, kondisi tanah juga harus diperhatikan dengan baik untuk mendukung keberlanjutan hidup dari spesies yang hidup di dalam kawasan tersebut.

Joeni mengatakan reklamasi lahan bekas tambang harus benar-benar berpegang pada keberlanjutan hidup puspa dan satwa di dalamnya. Jika tidak ada pemulihan tanah, dan hanya sekadar menghijaukan lahan bekas tambang, maka 10 tahun kemudian tanaman yang ditanam itu tidak dapat bertahan.

"Kalau tanah tidak diperhatikan, tanaman mati," ujar Joeni. ***3***
Baca juga: LIPI: Degradasi hutan ancam kelestarian spesies endemik
Baca juga: Mukomuko berupaya melestarikan ikan mikih
Baca juga: Aktivis serukan pelestarian spesies burung endemik Raja Ampat

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar