Grace Natalie sebut warisan segregasi harus diselesaikan

Grace Natalie sebut warisan segregasi harus diselesaikan

Ketua Umum PSI Grace Natalie (kedua kanan) dan arkeolog Dr. Harry Widianto (ujung kiri) berfoto usai diskusi di Museum Nasional, Jakarta, Selasa (5/11). ANTARA/Prisca Triferna

istilah putra daerah itu ternyata tidak relevan
Jakarta (ANTARA) - Indonesia harus menyelesaikan warisan politik segregasi agar dapat memilih pemimpin yang baik tanpa dibatasi oleh kesukuan, menurut Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie.

"Ternyata kita ini belum merdeka sepenuhnya, masih terkungkung oleh politik segregasi dari Belanda. Terasa sekali waktu pemilu kemarin, sangat membelah orang ketika politik segregasi dimainkan," ujar mantan jurnalis itu ketika berbicara dalam diskusi Jejak Manusia Nusantara dan Peninggalannya di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Selasa.

Dalam diskusi yang diadakan majalah sejarah daring Historia.id itu, sempat dibahas bagaimana pemerintah kolonial Belanda berusaha memecah belah penduduk Indonesia dengan membuat kampung-kampung etnis di Batavia.

Baca juga: Sejarawan: Politik segregasi akan gagal di Indonesia
Baca juga: Kemarin, gugatan kata "Pribumi" ditolak dan Facebook hapus fitur Trending

Warisan segregasi, ujar Grace, harus diselesaikan karena tidak ada suku dan etnis yang "murni" di Indonesia. Jika orang-orang menyadari hal tersebut mungkin politik Indonesia bisa menjadi lebih baik dan pemimpin-pemimpin yang lebih baik dapat terpilih.

Hal itu dia katakan karena isu etnis dan kesukuan menjadi komoditas laris saat ada momen politik, seperti pemilihan kepala daerah, kata dia.

Menurut Grace, hampir semua daerah memiliki isu tersebut dan hal itu menghalangi untuk memajukan orang yang memiliki kualifikasi bagus, dikalahkan oleh isu putra daerah.

"Masalahnya kapan kita akan punya kesempatan (mencalonkan) orang yang betul-betul bagus yang lepas dari embel-embel putra daerah? Apalagi ketika istilah putra daerah itu ternyata tidak relevan karena kalau dari penelitian tidak ada istilah itu," ujar dia.

Politisi PSI itu sempat mengikuti tes DNA garapan Historia.id dan terkejut mengetahui bahwa hasilnya memperlihatkan dia tidak hanya berdarah Tionghoa, tapi Asia Timur secara lebih luas, diaspora Asia (orang-orang Asia yang menyebar ke Amerika Utara), Asia Selatan, dan Afghanistan.

Baca juga: Akademisi: Indonesia harus hindari segregasi ideologi politik
Baca juga: Arkeolog: Papua anak sulung bangsa Indonesia


Menurut arkeolog Dr. Harry Widianto, penduduk asli yang menempati Indonesia modern datang dari berbagai wilayah sejak ribuan tahun lalu.

Asal-usulnya sendiri bisa ditelusuri dari benua Afrika ketika sekitar 150.000 tahun lalu leluhur manusia modern Homo sapiens bergerak keluar dari benua tersebut, kata arkeolog Badan Arkeologi Yogyakarta.

Yang datang pertama kali ke wilayah Indonesia sendiri adalah nenek moyang orang Papua, yang kemudian dikenal sebagai ras Melanesia.

Nenek moyang penduduk Indonesia barat datang beberapa ribu tahun setelahnya, ketika pendatang dari ras Mongoloid, yang diperkirakan berasal dari Taiwan dan daratan China berimigrasi dan menetap ke wilayah tersebut.

"Kalau kita bangsa Indonesia sekarang, yang paling sulung adalah orang-orang Papua. Indonesia bagian barat adalah pendatang dari China dan Taiwan. Lalu sekarang yang disebut pribumi itu apa?" ujar Harry.

Baca juga: LSI: Isu pribumi dongkrak elektabiltas Anies

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bertemu Jokowi, PSI perkenalkan kader muda

Komentar