BKPM dorong peningkatan investasi industri furnitur melalui BFFI

BKPM dorong peningkatan investasi industri furnitur melalui BFFI

Business Forum on Furniture Industries (BFFI) yang digelar di Jakarta, Selasa (5/11/2019). (ANTARA/HO/BKPM)

Klaster ini diharapkan dapat menjadi pusat furnitur Indonesia dan diisi oleh perusahaan-perusahaan furnitur skala kecil dan besar
Jakarta (ANTARA) - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong peningkatan investasi di bidang industri furnitur melalui gelaran Business Forum on Furniture Industries (BFFI).

Forum bisnis yang digelar di Jakarta, Selasa (5/11) itu dihadiri oleh sebanyak 60 pelaku usaha furnitur dalam dan luar negeri termasuk perusahaan furnitur asal Shandong, China.

"BKPM akan mendorong investasi besar yang masuk untuk bermitra dengan UMKM. Dengan ketersediaan bahan baku furnitur yang melimpah, Indonesia berpotensi menjadi negara penghasil funitur terbesar di dunia," kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Ekspor furnitur tembus 1,69 miliar dolar AS

Industri furnitur merupakan salah satu sektor yang menjadi prioritas Presiden Joko Widodo dalam upaya untuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, serta menekan defisit neraca perdagangan.

Pengembangan industri furnitur tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas produksi pelaku industri yang sudah ada, namun juga untuk mendorong investasi asing agar menanamkan modalnya di Indonesia.

Indonesia, lanjut Bahlil, juga merupakan penghasil bahan baku rotan terbesar di dunia. Hal ini sejalan dengan harapan Presiden Jokowi agar produk furnitur Indonesia dikenal oleh dunia internasional dan dapat bersaing dengan produk dari negara lain.

"Kita harus banyak berbenah mengingat nilai ekspor furnitur kita hanya sebesar 1,69 miliar dolar AS. Kita sudah ketinggalan dengan negara lain seperti Vietnam dengan nilai ekspor furnitur sebanyak 5,5 miliar dolar AS dan Malaysia dengan 2,3 miliar dolar AS. Oleh sebab itu, kita akan mendorong pengembangan industri furnitur berbasis klaster khususnya di Provinsi Jawa Tengah," terangnya.

Bahlil mengatakan pemilihan Jawa Tengah sebagai lokasi klaster industri furnitur didasarkan pada luas area hutan produksi, ketersediaan sumber daya manusia yang terampil, serta infrastruktur yang memadai seperti pelabuhan, bandar udara, serta jalan tol Trans Jawa.

Klaster tersebut juga akan mengembangkan industri furnitur dari hulu hingga ke hilir.

"Klaster ini diharapkan dapat menjadi pusat furnitur Indonesia dan diisi oleh perusahaan-perusahaan furnitur skala kecil dan besar, asing maupun lokal," imbuhnya.

BFFI merupakan tindak lanjut kunjungan kerja BKPM, Kementerian Perindustrian, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), dan Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) ke Provinsi Guangzhou, China, pada 9-13 Oktober 2019 lalu.

"Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan Central Java Investment Business Forum (CJIBF). Kami harap peserta forum mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai rencana pengembangan klaster industri furnitur di Jawa Tengah," kata Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Ikmal Lukman.

Rangkaian kegiatan CJIBF akan diikuti dengan site visit (kunjungan) ke beberapa lokasi potensial untuk dijadikan klaster industri furnitur di Jawa Tengah seperti Pemalang dan Kendal.

"BKPM akan mengawal langsung rencana investasi ini mulai dari tahap rencana hingga realisasi investasi," ujar Ikmal.

Baca juga: Industri furnitur Sukoharjo tembus pasar Amerika Serikat
Baca juga: Perdagangan industri furnitur dan kerajinan surplus

 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden beri waktu satu bulan selesaikan kebijakan permudah investasi

Komentar