Pemerhati: Penyandang disabilitas bisa mandiri lewat wirausaha

Pemerhati: Penyandang disabilitas bisa mandiri lewat wirausaha

Pendiri Socialpreneur Siti Maidina (ujung kanan) dan Executive Thisable Enterprise Fanny Evrita (kedua kanan) di pusat kebudayaan @america di Jakarta, Rabu (6/11/2019). ANTARA/Prisca Triferna

bagaimana menciptakan agar teman disabilitas ini punya role model
Jakarta (ANTARA) - Penyandang disabilitas dapat mewujudkan kemandirian dalam bekerja dan menjadi sumber daya manusia terampil yang melahirkan produk lewat kewirausahaan, menurut pendiri Socialpreneur Siti Maidina.

"Kewirausahaan dapat menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi dan kreativitas teman-teman disabilitas untuk berdaya dan berkarya di masyarakat khususnya di daerah. Karena seperti yang kita ketahui bersama tidak banyak perusahaan di daerah yang dapat merekrut teman-teman disabilitas untuk bekerja," ujar perempuan asal Jambi itu dalam acara diskusi inklusivitas dalam kewirausahaan di pusat kebudayaan @america di Jakarta, Rabu.

Menurut data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2015, sebanyak 8,56 persen atau sekitar 21,84 juta penduduk Indonesia merupakan penyandang disabilitas. Sementara Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakrnas) 2016 menunjukkan masih ada sekitar 12 juta penyandang disabilitas yang belum bekerja.

Siti Maidina sendiri mendirikan Socialpreneur di provinsi Jambi pada 2017 yang fokus pada program pemberdayaan dan kewirausahaan penyandang disabilitas dengan mendukung program pelatihan keterampilan seperti menjahit dan membordir serta membuat kerajinan.

Pemberdayaan disabilitas sendiri bisa dimulai dengan memberikan kepercayaan diri kepada mereka, bahwa meski punya kekurangan tapi akan ada kelebihan yang lain, menurut Project Executive Thisable Enterprise Fanny Evrita.

Baca juga: Pemerhati sebut perlu pemberdayaan pekerja disabilitas
Baca juga: Pemerintah agar terapkan sistem lebih baik kuota kuota disabilitas


Tapi Fanny tidak mengingkari masih banyak tantangan yang dihadapi untuk para penyandang disabilitas agar dapat hidup mandiri dan terpenuhi hak mereka untuk bekerja.

Salah satu yang penting adalah menghadirkan sosok panutan yang dapat menjadi sosok yang bisa diikuti jejaknya oleh para penyandang disabilitas, menurut Fanny.

"Tantangan kita adalah bagaimana menciptakan agar teman disabilitas ini punya role model. Jadi misalnya teman tuna rungu sudah ada role model akan banyak teman-teman yang mengikuti," ujar Fanny.

Lewat Thisable Enterprise, Fanny dan rekan-rekannya berusaha menjembatani para penyandang disabilitas yang sudah memiliki kemampuan setelah keluar dari balai-balai pelatihan dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karyawan.

Tapi, ujar Fanny, yang perlu ditekankan adalah menonjolkan kelebihan penyandang disabilitas dan bukannya malah menceritakan kekurangan agar tidak terjadi perekrutan ataupun pembelian produk berdasarkan belas kasihan.

Baca juga: Penyandang disabilitas bangun perusahaan rintisan Kopi Tuli
Baca juga: Desa Mata Air di Kupang gunakan dana desa bangun Posyandu disabilitas
Baca juga: Media didorong bantu pemenuhan kuota kerja penyandang disabilitas

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Batik Ciprat karya penyandang disabilitas yang laku di pasaran

Komentar