Kemenperin yakin pertumbuhan industri pelumas capai empat persen

Kemenperin yakin  pertumbuhan industri pelumas capai empat persen

Direktur Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Muhammad Khayam saat menghadiri peresmian pabrik pelumas PT Idemitsu Lube Techno Indonesia di Cikarang, Bekasi, Kamis. (ANTARA/ Sella Panduarsa Gareta)

Kami yakin mencapai empat persen, karena ada ekspansi dan potensi pasar yang luas.
Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam yakin bahwa pertumbuhan industri pelumas akan mencapai angka empat persen hingga akhir 2019 sesuai yang ditargetkan.

“Kami yakin mencapai empat persen, karena ada ekspansi dan potensi pasar yang luas,” kata Khayam ditemui di Cikarang, Bekasi, Kamis.

Khayam memaparkan, saat ini terdapat 44 perusahaan produsen pelumas nasional dengan kapasitas terpasang sebesar 2.040.000 kiloliter per tahun dan produksi sekitar 908.360 kiloliter per tahun, yang terdiri dari pelumas otomotif sebesar 781.189,90 kilo liter per tahun dan pelumas industri 127.170,45 kilo liter per tahun.

Penyerapan tenaga kerja langsung di industri pelumas pada 2018 sejumlah 3.157 orang, ditambah tenaga kerja dari 140 perusahaan importir dan 580 perusahaan distributor pelumas, menjadikan total tenaga kerja di industri ini mencapai 4.898 orang.

Baca juga: Pabrik pelumas kedua Idemitsu mulai beroperasi di Cikarang

Menurut Khayam, tantangan yang masih dihadapi industri ini adalah maraknya produk impor yang membanjiri pasar tanah air.

“Kebutuhan kita sekitar 2 juta kiloliter, produksi sekitar 900.000 kilo liter, memang sisanya masih diimpor,” ujar Khayam.

Untuk itu, ia berharap adanya investasi baru dan ekspansi industri pelumas di dalam negeri, sehingga mampu mensubtitusi produk pelumas impor.

Khayam menambahkan, untuk melindungi konsumen nasional serta menciptakan iklim usaha yang sehat, Kementerian Perindustrian memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) pelumas secara wajib dan mulai efektif pada 10 September 2019.

Melalui penerapan regulasi teknis yang berbasiskan standardisasi ini, diharapkan dapat dicegah beredarnya produk pelumas bermutu rendah di pasar domestik, khususnya yang terkait dengan kesehatan, keamanan, keselamatan, dan pelestarian fungsi lingkungan hidup yang dapat mendistorsi pasar pelumas dalam negeri.
Baca juga: Menperin optimistis industri tekstil berpotensi bangkit kembali

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar