Titik panas di Kabupaten Ogan Komering Ilir masih menyebar

Titik panas di Kabupaten Ogan Komering Ilir masih menyebar

Komandan Satgas Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan Sumatera Selatan yang sekaligus Komandan Korem 044/Gapo Kol Arh Sonny Septiono (ANTARA/Dolly Rosana/19)

Palembang (ANTARA) - Titik panas di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pada Kamis masih menyebar secara sporadis, yang berdasarkan Satelit Lapan berjumlah 53 titik.

Komandan Satgas Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan Sumatera Selatan yang sekaligus Komandan Korem 044/Gapo Kol Arh Sonny Septiono mengatakan, walau hujan telah mengguyur sebagaian besar wilayah Sumatera Selatan, tapi khusus di Kabupaten Ogan Komering Ilir terbilang masih minim dan tidak merata.

Untuk itu, upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan masih dilakukan di kabupaten tersebut mengingat areal yang terbakar merupakan lahan gambut.

“Selama masa status tanggap darurat masih berlaku hingga 10 November 2019, maka tim di lapangan tetap standby dan melakukan upaya pemadaman dengan maksimal,” kata Sonny.

Ia mengatakan berdasarkan informasi dari BMKG diperkirakan cuaca ekstrim tanpa hujan akan terjadi pada tanggal 6 November hingga 11 November 2019.

Satgas akan melakukan upaya strategis mengingat hujan yang diperkirakan pada 10 November berlangsung tidak menyeluruh.

Adapun upaya strategis itu adalah mengorganisir 1.512 personel yang saat ini masih terus disiagakan di daerah rawan karhutla. Ribuan personel itu diminta untuk terus optimal dalam upaya memadamkan karhutla.

Baca juga: Cegah karhutla di Ogan Komering Ilir, satgas maksimalkan pemadaman

Selain itu, Korem Gapo juga sudah mengirimkan kembali 100 personel TNI membantu pemadaman karhutla khusus di OKI yang diketahui sedang terjadi kebakaran lahan. Kemudian, pemadaman melalui udara menggunakan beberapa unit helikopter pembom air.

“Penyiagaan pasukan untuk pemadaman titik api ini akan terus dilakukan meski masa tanggap darurat berakhir,” kata Sonny.

Baca juga: Ogan Komering Ilir bentuk tim investigasi kebakaran lahan

Ia menjelaskan, upaya pemadaman kebakaran lahan saat cuaca ekstrim terbilang tidak mudah. Selain kesulitan untuk menjangkau titik api karena minimnya akses, petugas di lapangan juga kesulitan mencari sumber air.

“Kami TNI/Polri punya personel tapi peralatan pemadamnya tidak ada. Kami berharap pemerintah daerah dan pihak perusahaan perkebunan memperbanyak peralatan pemadam sehingga apabila terjadi kebakaran kami bisa membantu,” kata Sonny.

Kabid Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel Ansori, masa satatus darurat karhutla sudah diperpanjang dari sebelumnya berakhir di akhir Oktober menjadi 10 November 2019.

“Insya Allah sesuai dengan prediksi BMKG, hujan akan turun banyak di Sumsel pada 10 November. Kami belum ada rencana perpanjangan masa status, berkemungkinan tetap akan ditutup (masa status darurat karhutla berakhir),” ujar dia.
Baca juga: Polres Ogan Komering Ilir tangkap sembilan pembakar lahan
Baca juga: Satgas penanggulangan karhutla tetap siaga di Ogan Komering Ilir
Baca juga: Lima pembakar lahan di Ogan Komering Ilir segera jalani sidang

 

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BNPB sebut biaya penanganan karhutla 2019 capai 3,2 T

Komentar