Garapan "Terjebak di Dunia Maya" tutup Festival Seni Bali Jani 2019

Garapan "Terjebak di Dunia Maya" tutup Festival Seni Bali Jani 2019

Putri Suastini Koster berfoto bersama sutradara pementasan dan sejumlah seniman pendukung garapan "Terjebak di Dunia Maya" usai latihan (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2019)

Denpasar (ANTARA) - Garapan musikal multiseni bertajuk "Terjebak di Dunia Maya" akan mengiringi penutupan gelaran Festival Seni Bali Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar pada Jumat (8/11) malam.

"Garapan ini akan mengangkat topik teknologi informasi, dengan penggunaan gadget yang sangat diminati di kalangan masyarakat. Selain itu, keasyikan menggunakan gadget karena bisa terhubung dengan dunia maya secara leluasa, sehingga tidak jarang ada yang untuk beberapa lama tidak lagi berkomunikasi dengan dunia nyata," kata Iwan Darmawan, sutradara garapan tersebut, di Denpasar, Kamis.

Selama dua pekan pelaksanaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019 dari 28 Oktober-8 November telah menghadirkan enam kegiatan yakni Pawimba (lomba), Aguron-guron (workshop), Adilango (pagelaran), Kandarupa (pameran), Tenten (Pasar malam seni), dan Timbang Wirasa (sarasehan) di areal Taman Budaya, Denpasar. Kegiatan ini telah melibatkan ribuan seniman yang mengisi ranah inovasi seni modern dan kontemporer.

Baca juga: Dirjen Kebudayaan: Bali punya kekuatan jadi pusat seni kontemporer

Garapan berjudul "Terjebak di Dunia Maya" produksi Komunitas Kreatif Bali (KaKaBe) itu juga didukung pembacaan puisi oleh seniman Ni Putu Putri Suastini Koster yang juga pendamping Gubernur Bali itu.

Konsep pemanggungan ini juga didukung oleh Sanggar Natah Rare, Banjar Tegeh Sari Denpasar melibatkan 80 penari dan pemain drama dalam sebuah garapan tari kontemporer. Untuk komposer ada Onny Toele dan Ariesta Candra Carolus dari Perhimpunan Musisi Bali (10 musisi) dan GDV Production dan Dalang Pertunjukan Dewa Jayendra dan Produser Putu Indrawan.

Terkait dengan garapan yang diangkat, menurut dia, karena penggunaan gadget yang tak bisa dibendung, bahkan dalam satu keluarga bisa hadir bersama-sama dalam satu ruangan, namun tidak saling berkomunikasi karena terlalu asyik berkomunikasi dengan pengguna gadget lainnya di tempat lain.

"Gadget, alat untuk mengirimkan pesan dalam bentuk teks, foto, gambar dan video ini membawa dampak negatif, bila isi informasi yang dikirimkan tidak akurat. Apalagi bila informasi yang terkirim ke banyak penerima dan diterima oleh masyarakat pemegang gadget yang disebut netizen secara berantai (viral)," ucapnya.

Informasi-informasi bohong atau hoaks dengan mudah tersebar secara menyeluruh di media sosial seperti facebook, instagram maupun whatsapp. Dan tidak jarang hoaks menimbulkan dampak di dunia nyata, seperti putusnya pertemanan hingga pemicu kerusuhan yang masif.

Baca juga: Festival Seni Bali Jani tonggak kebangkitan seni modern, kata gubernur

"Akibat lain dari media sosial adalah meningginya rasa simpati dengan berbagai komentar- komentar bebas pada setiap informasi, namun sangat kurang mampu menunjukkan rasa empati, atau sikap langsung memberi solusi dan action untuk bereaksi positif terhadap sebuah informasi," ujar Iwan Darmawan.

Kakabe memformulakan pertunjukan ini sebagai musikal multiseni. Dimulai dari membuat naskah dasar dengan tema masyarakat kini yang terjebak di dunia maya. Naskah berdurasi 60 menit ini terbagi menjadi 3 babak, dan setiap babak (20 menit) dibagi setiap 5 menit, sehingga ada 4 sub-babak.

Sedangkan Komposer musik Onny Toele dan Othon Ariesta Candra Carolus lalu menerjemahkan ke dalam 12 garapan musik. Dari musik dan naskah dasar, empat koreografer yang terdiri dari Arik, Dian, Krisna dan Dibya menerjemahkan menjadi 12 tarian kontemporer yang memiliki alur dinamis.

Begitu pula, para penari ini juga diminta untuk melakukan dialog drama dengan panduan Dalang bernama Jayendra.
Pada musik ke 12 masuk pembacaan puisi oleh Putri Suastini Koster, yang masih relevan dengan tema yaitu kondisi yang bisa terpecah belahnya sebuah bangsa oleh hoaks yaitu puisi berjudul 17 Agustus ciptaan Yudistira ANM Massardi.

Dalam produksi ini, terlibat juga Klian Adat Banjar Tegeh Sari Himawan dan Penyarikan Putu Adi Tama. Pemeran perempuan warga Tegeh Sari dan Dokter Diah, serta pentolan Harley Angles, Yaitu Basis Putu Indrawan dan drummer Kabe Gariyasa. Pertunjukan ini juga didukung musisi trompet, saxophone, biola dan cello.***3***

Baca juga: Gubernur Koster siap buka Festival Seni Bali Jani 2019
Baca juga: Wayang "ental" tiga dimensi padukan gaya Jepang dan Bali
Baca juga: Sanggar Paripurna Bona pentaskan wayang golek modern dengan animasi

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar