LIPI: Tanah ambles di Desa Sila fenomena "creeping"

LIPI: Tanah ambles di Desa Sila fenomena "creeping"

Fenomena "creeping" atau pergerakan massa tanah di Desa Sila, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah pada Rabu, 6 November 2019.

Perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti dan potensi bahayanya
Ambon (ANTARA) - Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan tanah ambles di Desa Sila, Kabupaten Maluku Tengah beberapa hari lalu merupakan fenomena "creeping" atau tanah merayap.

"Fenomena yang terjadi di Sila, (Kecamatan, red.) Nusalaut merupakan salah satu gerakan massa tanah yang disebut 'creeping' atau tanah merayap," kata peneliti muda bidang geologi P2LD LIPI Fareza Sasongko Yuwono di Ambon, Jumat.

Pada Senin(4/11), sekitar pukul 10.00 WIT dilaporkan oleh warga Desa Sila, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah terjadi pergerakan tanah di lokasi seluas 50 meter persegi.

Pergerakan tanah terjadi di lokasi rekahan tanah yang terbentuk pada 2006, akibat gempa bumi magnitudo 6,1 yang berpusat di Laut Seram, Desa Wahai, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah dengan kedalaman 117 kilometer. Lokasi pergerakan tanah itu berjarak sekitar 100 meter dari pantai setempat.

Tanah tersebut terus bergerak turun, dari yang sebelumnya sedalam 75 centimeter hingga Rabu (6/11), pukul 14.00 WIT sudah mencapai kedalaman antara 12-15 meter.

Baca juga: Pemkab lakukan kajian potensi tanah longsor Bukit Menoreh

Tanah yang ambles tersebut sempat diukur oleh warga setempat menggunakan bambu berukuran sembilan meter dan tali sepanjang tiga meter. Mereka menemukan di dalam tanah ambles itu terdapat air laut.

Warga setempat khawatir dengan peristiwa itu karena di dekat lokasi terdapat tiga rumah, sedangkan kejadian itu tanpa didahului guncangan gempa.

Menanggapi laporan tersebut, Fareza mengatakan banyak faktor penyebab fenomena "creeping", antara lain akibat getaran yang dihasilkan gempa bumi dan adanya rekahan tanah yang sudah ada sebelumnya.

Selain itu, kejenuhan air tanah yang dipengaruhi intensitas hujan dan intrusi air laut.

"Perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti dan potensi bahayanya," demikian Fareza Sasongko Yuwono.

Baca juga: Tanah di Desa Bukit Raya Penajam kembali bergerak
Baca juga: BPBD: 1,5 hektare tanah ambles di Banyumas, empat rumah rusak

Pewarta: Shariva Alaidrus
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar