Tips agar anak tidak cedera kepala saat bermain

Tips agar anak tidak cedera kepala saat bermain

Ilustrasi perban untuk mengatasi cedera kepala. (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Anak-anak yang aktif bergerak rentan mengalami cedera kepala akibat tidak sengaja terjatuh ketika sedang bermain.

"Pasanglah pintu di depan tangga," kata Dokter Tjin Willy dari Alodokter dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu, tentang kiat-kiat untuk mengurangi risiko cedera kepala anak.

Willy menambahkan, "Lalu kunci saat tidak ada pengawas."

Selain pengamanan pada tangga, orangtua juga perlu untuk memasang tralis jendela, terutama bila tinggal di rumah bertingkat atau apartemen.

Kemudian, letakkan keset kering di depan pintu kamar mandi demi menghindari risiko anak terpeleset akibat menjejakkan kaki yang basah.

Selain anak-anak, cedera kepala juga bisa terjadi pada orang dewasa sehingga Willy menyarankan untuk memakai alat pelindung diri seperti helm saat berolahraga atau ketika bekerja di tempat yang berisiko.

Cedera kepada dibagi menjadi tiga berdasarkan tingkat parahnya yaitu cedera kepala ringan, sedang, dan berat.

Cedera kepala ringan dapat menyebabkan gangguan sementara pada fungsi otak. Penderita dapat merasa mual, pusing, linglung, ataupun kesulitan mengingat untuk beberapa saat.

Kondisi itu dapat membaik dengan beristirahat. Penderita juga dianjurkan mengonsumsi paracetamol untuk meredakan rasa nyeri.

Penderita cedera kepala sedang juga dapat mengalami kondisi yang sama sebagaimana cedera ringat. Tapi, gangguan itu dapat berlangsung dalam waktu lebih lama.

Dokter biasanya akan memberi obat antikejang untuk menekan risiko kejang yang bisa terjadi seminggu setelah trauma, atau diuretik untuk meredakan tekanan dalam otak dengan mengeluarkan cairan dari tubuh.

Bagi penderita cedera kepala berat, potensi komplikasi jangka panjang hingga kematian dapat terjadi jika tidak ditangani dengan tepat.

Dalam kasus yang tergolong parah, seperti kerusakan pada pembuluh darah, dokter mungkin akan memberikan obat penenang yang dapat membuat pasien masuk dalam kondisi koma sementara (induced coma).

Penanganan itu dilakukan untuk meredakan tekanan dan beban kerja otak yang tidak dapat menerima oksigen dan nutrisi seperti biasanya.

Baca juga: Cedera di kepala, siswa SMK korban unjuk rasa dilarikan ke RS Pelni

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar