Disdik Pekanbaru usut korban perundungan anak SMP

Disdik Pekanbaru usut korban perundungan anak SMP

Pelajar SMP Pekanbaru korban perundungan yang viral di media sosial (Anggi Romadhoni)

Info yang sampai keluar dan ke kami katanya dibiarkan guru. Kalau dibiarkan guru, tentu guru yang salah,
Pekanbaru (ANTARA) - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru sedang mengusut dan investigasi kasus perundungan (bullying) yang menimpa salah satu pelajar SMPN setempat hingga harus mendapat perawatan di rumah sakit.

"Kita akan investigasi dulu ke anaknya. Bagaimana yang sebenarnya," kata Kepala Disdik Kota Pekanbaru Abdul Jamal di Pekanbaru, Sabtu.

Hal ini, sebut Jamal dilakukan untuk memastikan persoalan sebenarnya terkait dengan gurunya. Kasus ini diduga merupakan persoalan siswa dengan siswa, bukan antara guru dan siswa.

"Info yang sampai keluar dan ke kami katanya dibiarkan guru. Kalau dibiarkan guru, tentu guru yang salah," tambah dia.

Baca juga: Pelajar SMP dibully hingga terkapar di rumah sakit saat jam belajar

Karena itu, pihaknya masih mendalami kejadian sebenarnya dengan turun langsung ke lapangan untuk menyelidiki masalah tersebut.

"Tentu kita turun, sejauh ini informasi itu baru sepihak saja kita dengar. Juga tidak ada yang melaporkan ke kita," sebut dia.

Pihaknya juga akan menggandeng instansi terkait agar terlibat dalam kasus ini.

"Kita juga koordinasi dengan OPD seperti DP3A untuk masalah anak ini," ujarnya.

Sementara anggota Komisi I DPRD Pekanbaru yang membidangi pendidikan, Firmansyah mengatakan anak-anak saat jam belajar sudah diserahkan sepenuhnya kepada guru oleh orangtuanya untuk mendapatkan pendidikan.

"Otomatis jika anak sudah sampai di sekolah adalah tanggungjawab sekolah untuk menjaga kenyamanan dan juga keselamatan anak," tegas Firmansyah.

Ia menyayangkan perundungan itu terjadi di lingkungan sekolah saat sedang jam pelajaran.

Baca juga: Kenali tanda-tanda anak alami perundungan online

Karenanya, Firmansyah meminta kepala sekolah serta seluruh majelis guru untuk terlibat dalam keamanan serta kenyamanan seluruh siswa yang ada di lingkungan sekolah.

"Tidak ada alasan kalau misalnya anak itu besar badannya terus bandel, itukan guru tidak sendirian ada kepala sekolah dan juga pihak keamanan," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang pelajar salah satu SMP Negeri di Kota Pekanbaru mengalami perundungan hingga terkapar di rumah sakit.

"Kejadian itu saat kami tengah dalam jam belajar seni budaya," ungkap rekan korban Jumat (8/11).

Rekan sekelas korban berinisial R itu mengatakan kejadian perundungan terjadi pada Rabu (5/11) lalu. Dia menambahkan bahwa kejadian itu berawal dari aksi bercanda yang dilakukan oleh dua rekan sekelas korban lainnya.

Namun, aksi bercanda itu berujung dengan kekerasan hingga menyebabkan korban terjatuh ke lantai. R mengaku tidak melihat pasti kejadian yang menimpa rekannya F.

Akan tetapi, dia memastikan pada saat kejadian seorang guru juga berada di dalam ruang kelas tersebut. Guru wanita itu juga dia benarkan tengah memegang ponsel saat kejadian itu.

Baca juga: Cara aktifkan fitur "Restrict" di Instagram untuk cegah perundungan

Pewarta: Vera Lusiana
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kampanye stop perundungan dalam masa orientasi sekolah

Komentar