Warga Pariaman "badikie rabano" peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Warga Pariaman "badikie rabano" peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Sejumlah tukang dikie sedang badikie sambil memukul rebana pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raya Kota Pariaman, Sabtu. (ANTARA /Aadiaat M. S.)

Pariaman (ANTARA) - Warga Kota Pariaman, Sumatera Barat melaksanakan “badikie rabano” atau menceritakan tentang sejarah nabi Muhammad SAW yang disampaikan dengan cara dinyanyikan guna memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan hal itu telah berlangsung ratusan tahun.

"Untuk Kota Pariaman yang melaksanakan “badikie rabano” hanya di masjid ini," kata Ketua Pengurus Masjid Raya Kota Pariaman Amhar Jamil di Pariaman, Sabtu.

Ia mengatakan biasanya untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad warga di daerah Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman melaksanakan “badikie” namun pihaknya semenjak masjid itu berdiri menggabungkannya dengan rebana agar indah di dengar.

Baca juga: Peringatan Maulid Nabi di Bangka mirip suasana Idul Fitri

Ia menyebutkan dalam badikie tersebut dibacakan kitab berzanji yang berisi tentang sejarah Nabi Muhammad, selawat nabi, serta puja dan puji kepada nabi dengan menggunakan bahasa Arab.

Ia menyampaikan peringatan Maulid Nabi Muhammad di masjid tersebut telah dilaksanakan semenjak 1 Rabiul Awal dan hari ini telah memasuki hari ke 12.

Pada hari pertama, lanjutnya disebut dengan manyongsong atau menyongsong bulan dengan kegiatan pembacaan amir zanji, pembacaan syarakat, dan ditutup dengan doa maulid.

Hari berikutnya hingga hari ke-11 yaitu pembacaan tarik nabi atau sejarah Nabi Muhammad mulai dari masa kecil hingga wafat dengan menggunakan bahasa Indonesia.

"Tarik nabi ini dilaksanakan mulai dari usai shalat Magrib hingga memasuki waktu salat Isya dan nanti malam tablik akbar," katanya.

Ia mengatakan badikie rabano tersebut sudah dilaksanakan semenjak masjid itu didirikan oleh Syekh Muhammad Jamil sekitar 150 tahun yang lalu.

"Semenjak itu kami rutin melaksanakan badikie rabano untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad setiap tahunnya," ujarnya.

Namun ia menyayangkan sulitnya mencari generasi baru dari tukang dikie karena kurangnya ketertarikan generasi muda terhadap hal tersebut.

Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad di daerah itu juga dilaksanakan makan bajamba yang nasinya dibungkus dengan daun pisang oleh ibu-ibu yang tujuannya untuk menjamu tamu.

Baca juga: Kirab dua gunungan warnai peringatan Garebek Maulud di Kota Madiun

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wapres sebut ulama harus jadi agen perubahan

Komentar