Artikel

Nabung sampah, edukasi kebersihan, sampai inklusi keuangan

Oleh Ricky Prayoga

Nabung sampah, edukasi kebersihan, sampai inklusi keuangan

Anggota Komunitas Plastik Untuk Kebaikan melakukan aksi kampanye tentang daur ulang sampah plastik saat berlangsungnya Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (10/11/2019). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hp.

ini adalah inovasi baru dalam mendidik, mendorong literasi dan inklusi keuangan. Jadi pelajar dididik sekaligus bukan hanya hemat dalam keuangan melalui menabung tapi juga memelihara lingkungan
Jakarta (ANTARA) - Sampah sudah menjadi salah satu masalah yang paling sulit diselesaikan di kota Jakarta.

Perkembangan zaman dan terus bertambahnya penduduk, membuat sampah semakin beragam jenis, mulai dari bekas makanan (sampah basah), sampah plastik, sampai sampah elektronik yang sulit terurai.

Berbagai usaha sudah dilakukan pemerintah daerah, namun alih-alih teratasi, masalah sampah tetap tak kunjung selesai, bahkan menarik perhatian pesohor dunia, aktor Hollywood Leonardo Dicaprio.

"Indonesia berada pada peringkat kedua polusi plastik terbesar di dunia setelah China dengan laporan menghasilkan 187,5 juta ton sampah plastik per tahun, sekitar 1 juta ton di antaranya bocor mencemari laut," kata Leonardo Dicaprio pada akun Instagram @leonardodicaprio tertanggal 15 Maret 2019.

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta per September 2019 menunjukkan, produksi sampah di Jakarta mencapai 7.800 ton lebih setiap hari yang semuanya bermuara di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi.

Dengan jumlah sebanyak itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memprediksi TPST Bantar Gebang akan berhenti beroperasi pada 2021 karena kelebihan kapasitas.

Persoalan sampah di Jakarta yang kian mengkhawatirkan ini memaksa Pemprov DKI Jakarta memutar otak sampai akhirnya pada Agustus 2019 menggagas program pemberdayaan masyarakat untuk mengurangi dan mengolah sampah sejak dari sumbernya yang dinamai Samtama (Sampah Tanggung Jawab Bersama).

Samtama adalah program mengatasi sampah melalui RW-RW percontohan pengurangan sampah sejak di sumber sampah dengan 22 RW (dari 2.927 RW) sebagai pelopornya.

Sampah-sampah ini dikelola meliputi tiga program, yakni pengembangan TPS 3R (Recycle Center), kampanye dan menyusun regulasi pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, dan pengembangan bank sampah.

Berusaha memperluas keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah, pemerintah mendorong bank-bank sampah didirikan juga di sekolah berbagai tingkatan, hingga pemberian insentif berupa tabungan, bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan.

Baca juga: Nabung sampah di Kecamatan Koja bisa liburan ke luar negeri

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan langkah memberikan intensif berupa tabungan kepada anak-anak yang mengumpulkan sampah plastiknya sangat tepat, karena secara tak langsung akan merangsang proses pembiasaan agar anak-anak mencintai lingkungannya dan menumbuhkan kebiasaan menabung.

"Budaya menabung butuh pembelajaran dan pembiasaan, begitu seseorang memiliki kebiasaan maka akan tumbuh budaya dan selanjutnya akan membentuk karakter, terlebih kepada anak-anak, dan langkah memberikan insentif ini merangsang pembiasaan itu," ujar Anies.

Nabung dengan sampah

Berbekal keinginan memberikan insentif, Gerakan Ayo Nabung dengan Sampah akhirnya terwujud sebagai buah kerjasama Pemprov DKI, OJK dan BNI 46.

Kerjasama ketiga institusi dalam gerakan ini telah dimulai sejak 2018 dengan proyek percontohan wilayah Kota Adminisratif Jakarta Barat dan Jakarta Utara, yang tahun ini diperluas ke seluruh wilayah DKI Jakarta.

Dari data yang dihimpun, kerjasama dengan nama gerakan "Ayo Nabung Dengan Sampah" ini hingga September 2019, sudah diikuti lebih dari 150.000 siswa dan 5.000 warga dan pasukan "orange", di lebih dari 200 bank sampah.

"Kegiatan semacam ini adalah inovasi baru dalam mendidik, mendorong literasi dan inklusi keuangan. Jadi pelajar dididik sekaligus bukan hanya hemat dalam keuangan melalui menabung tapi juga memelihara lingkungan," kata anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara.

Salah satu bank sampah yang aktif adalah yang berada di SMAN 1 Jakarta yang dikelola oleh para siswa sendiri, dibantu Kecamatan Sawah Besar.

Bukan main-main, untuk memperlancar operasional bank sampah ini, OSIS SMAN 1 sedemikian rupa mengelola sampah di sekolah mereka lewat kerjasama dengan tiap ketua kelas, menyediakan kantung sampah di setiap kelas yang akan dikumpulkan setiap Rabu dan Jumat.

Sampah-sampah itu kemudian diserahkan kepada kecamatan dan OSIS SMAN 1 mendapat imbalan dari sampah yang dijual. Prosesnya menggunakan aplikasi yang disediakan Pemprov DKI Jakarta di mana uang yang diterima dikirim melalui rekening milik OSIS.

"Kami ingin mengajak teman-teman di dalam sekolah bahwa sampah sebenarnya bisa diberdayakan lebih jauh, termasuk nilai ekonomisnya (tabungan)," kata Ketua OSIS SMAN 1 Jakarta Fajrin Putra Wijaya.

Baca juga: Dari sampah menjadi rupiah

Inklusi keuangan

Gerakan "Ayo Menabung dengan Sampah" ini sangat terasa meyakinkan dalam menyemangati pelajar melakukan aksi "bersih-bersih" sekaligus mengatur keuangan melalui rekening miliknya.

Direktur Bisnis Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo menilai gerakan ini selain mengedukasi soal lingkungan, juga memberikan pengertian soal perbankan yang akhirnya membantu inklusi keuangan masyarakat.

"Dengan lebih dari 200 bank sampah, total dana hasil penjualan yang telah dihimpun lebih dari Rp3 miliar. Ini bukti kegiatan gerakan ini membawa dampak besar bagi pengurangan sampah dari sumbernya, sekaligus juga membantu inklusi lewat pendorongan implementasi one student one account," kata Anggoro.

OJK sendiri menyebut kegiatan ini telah mendongkrak jumlah pengguna rekening pelajar sampai 34 persen atau sekitar 120 ribu rekening dari tahun sebelumnya.

Peningkatan  ini tentu mendukung target inklusi keuangan OJK hingga 75 persen pada akhir 2019.

Dalam rangka monitoring pencapaian target literasi dan inklusi keuangan, OJK telah melakukan Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLK) pada 2019. Hasil secara umum survei ini menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan hasil survei 2013 dan 2016.

Namun, meski inklusi keuangan terus digalakkan, OJK menyatakan tidak serta merta melupakan perlindungan konsumen.

Mereka membeberkan bahwa hingga akhir September 2019, layanan konsumen OJK menerima 279.111 layanan yang terdiri dari 44.189 layanan penerimaan informasi (laporan), 230.533 layanan pemberian informasi (pertanyaan) dan 4.389 layanan pengaduan.

"Ini penting, jadi industri keuangan jangan dan memang tidak hanya menjual produk. Bersama OJK dan BI otoritas sistem pembayaran, sama-sama kami punya unit atau departemen perlindungan konsumen," kata Tirta Segara.

Gerakan ayo menabung sampah di mana Pemprov DKI Jakarta, perusahaan perbankan dan regulator keuangan (OJK) turun tangan, membuktikan inovasi baru pengelolaan sampah dari sumbernya mendapat dukungan besar luar biasa dari berbagai pihak.

Namun, publik menantikan apakah harapan bebasnya Jakarta dari masalah sampah bisa sejalan dan sukses seperti inklusi keuangan yang terus meningkat. Jawabannya ada pada kemauan pihak-pihak terkait dan kita sendiri.

Baca juga: Jaktim pasang sekat antisipasi limbah warga menuju BKT

Oleh Ricky Prayoga
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kejar target, OJK sasar masyarakat melalui fintech

Komentar