Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta terus mendorong percepatan terwujudnya penyediaan lokasi parkir wisata, khsususnya untuk bus pariwisata sehingga diharapkan dapat mengurangi potensi kepadatan dan kemacetan saat masa liburan.

“Kami berkoordinasi dengan DIY, salah satunya untuk penyediaan parkir wisata di lahan bekas STIE Kerja Sama. Kami sudah menghitung kebutuhan satuan ruang parkir (SRP) dan menyiapkan data teknis lainnya,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Agus Arif di Yogyakarta, Senin.

Ia berharap, realisasi parkir wisata di lahan bekas STIE Kerja Sama tersebut sudah bisa diwujudkan dalam waktu dekat dan tidak berakhir sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan lahan parkir di Kota Yogyakarta yang bisa berdampak pada meningkatnya kepadatan lalu lintas terutama pada masa liburan.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta dorong penambahan lokasi parkir sekitar Malioboro

“Pada akhir pekan lalu, memang terjadi kenaikan jumlah bus wisata yang masuk ke Kota Yogyakarta. Puncaknya terjadi pada Sabtu (9/11) yaitu ada sekitar 1.100 armada dari pukul 08.00-20.00 WIB. Karena jumlah bus yang masuk banyak dan ruang parkir tidak mencukupi, maka muncul keluhan bus parkir di tepi jalan. Tetapi kami upayakan untuk mengingatkan bus agar tidak parkir di tepi jalan,” katanya.

Berdasarkan penghitungan, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta menyebut kebutuhan ruang parkir bus pariwisata berukuran besar mencapai sekitar 260 sampai 300 satuan ruang parkir atau hampir tiga kali lipat dibanding kapasitas parkir yang ada di kawasan utama wisata yaitu di Parkir Senopati, Abu Bakar Ali dan Ngabean.

Kapasitas satuan ruang parkir untuk bus pariwisata berukuran besar di ketiga tempat khusus parkir tersebut hanya mencapai 98 satuan ruang parkir.

Baca juga: Yogyakarta siapkan peta lokasi parkir mudahkan wisawatan

Selain menyiapkan data teknis, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta juga menggarap aspek sosial untuk penyediaan lokasi parkir di lahan bekas STIE Kerja Sama termasuk berkoordinasi dengan asosiasi perhotelan, biro perjalanan wisata serta pemandu wisata.

“Kalau hanya memasang tanda larangan masuk bagi bus pariwisata ke Kota Yogyakarta itu pekerjaan mudah. Tetapi, kami juga harus memikirkan bagaimana akses wisatawan ke tempat wisata di Yogyakarta. Harus disiapkan juga armada alternatifnya,” katanya.

Agus menyebut, akan ada optimalisasi Trans Jogja sebagai moda transportasi wisata masuk ke Kota Yogyakarta dari tempat khusus parkir. “Apakah nantinya ada koridor baru atau armada hanya disiapkan saat masa liburan saja, itu masih dalam pembahasan. Dari penghitungan awal, dalam satu jam Trans Jogja bisa membawa 600 penumpang untuk jumlah armada tertentu,” katanya.

Sedangkan untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan ruang parkir pada libur panjang akhir tahun, Agus mengatakan, sedang berencana untuk mengajukan permohonan penggunaan lokasi parkir di GOR Amongrogo atau di Stadion Mandala Krida.

Sementara itu, terkait keluhan tarif parkir yang melonjak saat masa liburan, Agus mengatakan tidak mendapat laporan apapun tentang pelanggaran tarif parkir.

“Harus ada laporan yang masuk baru kami bisa bertindak. Jika hanya mengandalkan kabar tanpa ada bukti jelas, maka kami tidak bisa bertindak apapun. Sekarang, pengumpulan bukti sudah mudah. Tinggal difoto saja oknum yang meminta tarif parkir mahal,” katanya yang menyebut kerja sama dengan Tim Saber Pungli dan Polresta Yogyakarta untuk pengawasan dan pembinaan parkir terus digencarkan.

Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2019