Direktur AMAN sebut ada beberapa faktor perempuan jadi pelaku teror

Direktur AMAN sebut ada beberapa faktor perempuan jadi pelaku teror

Direktur AMAN Indonesia Ruby Kholifah dalam diskusi perempuan dan radikalisme di Cikini, Jakarta, Senin (11/11/2019). ANTARA/Prisca Triferna

densus 88 dari dulu sudah menangkap perempuan yang diduga teroris
Jakarta (ANTARA) - Kekalahan ISIS dan perekrutan melalui media sosial menjadi alasan mengapa perempuan kini menjadi salah satu pelaku teror kata Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia Ruby Kholifah.

"Kalau mereka (ISIS) tidak kalah mungkin tidak akan membuka ruang jihad untuk perempuan karena konstruksi patriaki mereka sangat kuat bahwa itu ruang laki-laki. Selain itu, yang kedua adalah faktor kekuatan perempuan (di ISIS) sudah banyak, solid dan militan," ujar Ruby dalam diskusi perempuan dan radikalisme yang diadakan di Cikini, Jakarta Pusat pada Senin.

Perempuan yang bersumpah setia dengan ISIS menemukan momentum untuk ambil dalam aksi teror secara langsung ketika kekalahan kelompok teror itu di Suriah dan Irak membuka pintu yang selama ini tertutup untuk mereka.

Baca juga: Perempuan benteng keluarga cegah radikalisme
Baca juga: Yenny Wahid: Pemberdayaan perempuan cegah radikalisme

Para perempuan itu sebenarnya sudah siap sejak lama, ujar Ruby, karena salah satu yang berperan besar untuk mendoktrinisasi pemikiran ekstrem di ISIS adalah perempuan.

Alasan ketiga mengapa perempuan kini menjadi pelaku teror adalah peran media sosial yang besar dalam meluaskan radikalisasi.

Hal itu mengubah struktur terorisme dengan yang biasanya sistem sel di mana terdapat pemimpin yang jelas, saat ini rekrutmen dilakukan lewat internet dan dengan cepat.

Perempuan mendapatkan akses yang sangat besar di media sosial yang merupakan wilayah paling aman bagi mereka untuk mengakses konten-konten tersebut, ujar tokoh yang pernah masuk daftar 100 perempuan berprestasi versi BBC pada 2014 itu.

Baca juga: Pegiat: Radikalisme merusak independensi perempuan
Baca juga: BNPT dorong perempuan aktif sebagai agen perdamaian


Alasan terakhir adalah karena proses pengarusutamaan gender, yaitu strategis pembangunan yang menghadirkan peran perempuan di segala bidang dan level, di Indonesia belum membuahkan hasil.

"Kita tidak bisa membaca mengapa perempuan terlibat dalam pengeboman, karena tidak dibaca dengan perspektif gender. Padahal Densus 88 dari dulu sudah menangkap perempuan yang diduga teroris," ujar pemenang N-Peace Award 2016 itu.

Meski sudah menangkap beberapa perempuan yang diduga terkait teroris, ujar Ruby, melihat alasan fenomena itu dan membaca tren ke depan akan pelaku teror masih belum dilakukan karena belum ada sudut pandang gender dalam mempertimbangkannya.

Untuk itu, Ruby meminta pengarusutamaan gender harus dilakukan serta kesetaraan gender dan penguatan perempuan harus menjadi isu nasional, karena perempuan yang sudah dilengkapi dengan kemampuan berpikir kritis kemungkinan besar akan menolak ekstremisme.

Baca juga: Fatayat NU: perempuan harus berani tolak radikalisme
Baca juga: Perempuan Indonesia rentan menjadi target radikalisme

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Istana: Indonesia tidak takut dengan segala bentuk teror

Komentar