Lokataru: kebebasan sipil di ASEAN butuh gerakan nyata masyarakat

Lokataru: kebebasan sipil di ASEAN butuh gerakan nyata masyarakat

Pendiri Yayasan Lokataru yang bergerak di bidang hak asasi manusia dan kebebasan masyarakat, Nurkholis Hidayat (kiri), dalam seminar bertajuk "Menciutnya Civic Space dan Pembangunan Perdamaian di ASEAN" yang digelar The Habibie Center di Jakarta, Senin (11/11/2019). (ANTARA/Suwanti)

Jakarta (ANTARA) - Salah satu pendiri Yayasan Lokataru yang bergerak di bidang hak asasi manusia dan kebebasan masyarakat, Nurkholis Hidayat, menyebut bahwa gerakan nyata masyarakat diperlukan untuk mencapai kebebasan sipil di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

"Mengutip pidato Barack Obama, agar generasi muda tidak menjadi 'SJW' atau 'social justice warriors' yang mudah sekali menghakimi, padahal yang dibutuhkan adalah gerakan, menjadi 'SJW' mestinya berarti menjadi 'sobat juang warga'," kata Nurkholis di Jakarta, Senin.

Dalam seminar bertajuk "Menciutnya Civic Space dan Pembangunan Perdamaian di ASEAN" yang digelar The Habibie Center, Nurkholis memaparkan isu kebebasan sipil di negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia dan Thailand, berdasarkan kajian Lokataru.

Menurut kajian tersebut, terdapat kesamaan pada negara-negara ASEAN mengenai ekosistem pembatasan kebebasan sipil yang dibentuk, di antaranya, oleh manipulasi ketakutan dan peraturan perundangan bersifat 'karet' atau bisa disalahgunakan untuk mengkriminalisasi pihak tertentu.

Selain itu, pada era media sosial saat ini, berita palsu atau fake news menjadi salah satu hal baru yang memicu pembatasan kebebasan berpendapat masyarakat, yang ditambah pula dengan pemantauan media sosial serta "serangan dari buzzer."

Peneliti The Habibie center, Sopar Peranto, dalam seminar yang sama, menambahkan bahwa setidaknya ada lima hal yang memicu penciutan kebebasan sipil, yaitu pandangan bahwa stabilitas berlawanan dengan kebebasan sipil, kebijakan publik yang 'karet', dominasi peran aparat keamanan, dominasi peran organisasi masyarakat, serta ruang dialog masyarakat yang minim.

Berkaitan dengan hal itu, Senator Malaysia, Ismail bin Yusop menyarankan penguatan pendidikan politik bagi masyarakat, sehingga pengetahuan dan doktrin politik tidak hanya dimiliki oleh para elite politik saja.

"Pendidikan demokrasi dan literasi politik harus menjadi agenda yang perlu dijalankan," kata Ismail dalam pemaparan dia pada seminar tersebut.

Baca juga: Peneliti: berita palsu kekang kebebasan sipil di ASEAN

Baca juga: Thailand serahkan keketuaan ASEAN kepada Vietnam

Baca juga: Dalam KTT Asia Timur, Presiden Jokowi angkat isu limbah B3

Pewarta: Suwanti
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden Jokowi bertemu Dewan Bisnis Amerika-ASEAN

Komentar