Analis: Jokowi ingin pastikan koalisi solid soal relasi dengan NasDem

Analis: Jokowi ingin pastikan koalisi solid soal relasi dengan NasDem

Pengamat Politik Ade Reza Hariyadi saat ditemui usai diskusi politik di Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (3/8/2019). (ANTARA/Dea N. Zhafira)

Saya kira ini langkah-langkah strategis Jokowi untuk memastikan koalisi patuh dan bisa bekerja sama pada periode kedua pemerintahannya
Jakarta (ANTARA) - Analis politik Universitas Indonesia Ade Reza Hariyadi saat mengamati dinamika relasi Jokowi dengan Partai NasDem belakangan ini menilai Presiden Joko Widodo ingin memastikan koalisi partai politik pendukung pemerintahan tetap solid.

"Saya kira ini langkah-langkah strategis Jokowi untuk memastikan koalisi patuh dan bisa bekerja sama pada periode kedua pemerintahannya," katanya, saat dihubungi ANTARA, di Jakarta, Senin.

Menurut dia, seluruh aspek sekarang ini memiliki dimensi politik, apalagi melibatkan tokoh-tokoh politik, termasuk sentilan Jokowi soal rangkulan erat Ketua Umum NasDem Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman.

Baca juga: Jokowi tegaskan partai koalisi pemerintah rukun

Jokowi menyampaikan sentilan itu saat peringatan ulang tahun ke-55 Partai Golkar, Rabu (6/11), dan sempat menjadi polemik di kalangan publik dengan beragam penafsiran.

Namun, Paloh menepis polemik itu dengan menghadirkan Presiden Jokowi pada puncak peringatan HUT Ke-8 Partai Nasdem, sekaligus menutup Kongres II Nasdem, malam (11/11) ini.

Pada pidatonya, Jokowi pun memuji NasDem sebagai parpol dengan penambahan kursi terbanyak di DPR dan terbanyak pula dalam penambahan perolehan suara pada Pemilu 2019.

Selain itu, Jokowi juga menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diberikan NasDem terhadap pemerintah, seraya menegaskan bahwa parpol koalisi tetap solid dan rukun.

Sebenarnya, kata Ade, pesan politik atas sentilan itu tidak hanya ditujukan kepada Paloh dan NasDem, tetapi kepada seluruh elemen parpol yang sudah bersepakat bergabung dalam koalisi.

"Jokowi ingin memastikan seluruh parpol koalisi bisa bekerja sama dengan kompak, efektif, dan tidak melakukan manuver-manuver yang bisa ditafsirkan sebagai ancaman kekompakan parpol koalisi," katanya.

Ia mengatakan pesan semacam itu perlu disampaikan Jokowi karena pada periode kedua pemerintahannya ingin mengakselerasi capaian-capaian program yang sudah dijanjikan dalam kampanyenya.

Ade melihat bahwa Jokowi tidak akan main-main dan memberi ruang terlalu luas bagi parpol dalam koalisi untuk berimprovisasi sendiri-sendiri tanpa koordinasi atau "lampu hijau" darinya.

"Jokowi tidak ingin ada manuver-manuver yang tidak perlu yang berpotensi menjadi polemik atau menimbulkan asumsi publik yang berdampak terhadap kesolidan parpol koalisi," katanya.

Namun, Ade memaklumi karena tantangan yang dihadapi pada periode kedua pemerintahan Jokowi semakin berat, terutama dampak perang dagang dan pelambatan ekonomi dunia.

"Ini bisa berdampak terhadap persoalan ekonomi dan politik nasional. Makanya, manuver-manuver yang tidak perlu bisa dianggap sebagai sandungan dalam upaya akselerasi capaian program," katanya.

Baca juga: Tutup kongres Nasdem, Pakar: Jokowi eratkan kembali koalisi

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden minta pemerintah daerah percepat inklusi keuangan

Komentar